Kaget. Tak percaya. Dari WAG Forum Demokrasi & Kemanusiaan terkirim kabar dari Bang Tommy F Awuy. "RIP Prof Romo Mudji Sutrisno, salah satu guru bangsa yang tak kenal lelah mengajarkan etika, hermenetika dan estetika", tulisnya.
BACA JUGA: Sastra Jawa di Persimpangan Zaman: Refleksi Akhir 2025 Menuju 2026
Sejenak, melacak kabar online belum ada berita. Yang muncul hoaks pada 2021 yang mengabarkan Romo Mudji meninggal. Seperempat jam kemudian baru ada kepastian bahwa budayawan kenamaan itu benar-benar wafat pukul 20.43 WIB di Rumah Sakit Carolus, Jakarta.
BACA JUGA: Ribuan Pelayat Iringi Pemakaman Ustad Jazir, Salim A Fillah: Almarhum Tinggalkan Jejak Peradaban
Arsip Pembuka Cakrawala
Sejak kuliah di Jurusan Sejarah FIB UGM saya memang mengidolakan beliau. Beberapa tulisannya saya kliping, kebetulan temanya sangat saya sukai. Apalagi kalau bukan kebangsaan, hal yang menjadi latar skripsi saya tentang bahasa dan nasionalisme. Saya buka buku kliping, seperti membuka kembali cakrawala permenungan.
BACA JUGA: Sri Sultan HB X: Hukum Mengupayakan Pemulihan Martabat Manusia & Keteraturan Sosial Berkelanjutan
Dalam opini "Sejarah Merajut Makna", Kompas (1/3/1995), berangkat dari duka kematian yang dikaitkan dengan esensi bahasa kekuasaan:
"Sejarah bangsa oleh pemegang kekuasaan pusat akan diklaim sebagai sejarah besar atau sejarah resmi serta formal. Dan pembenarannya dipijakkan pada otoritas pemegang kebenaran mutlak yang dicarikan alasan-alasan keabsahannyahi hingga sejarsah formal itulah yang paling diklaim benar segalanya".
BACA JUGA: SMA Muhi Yogya Raih Peringkat 3 Hasil TKA 2025 Nasional
Posisi yang jernih dan pandangan yang jelas. Romo Mudji tak henti mengkritisi tiap upaya memonopoli kebenaran, apalagi yang dilakukan oleh penguasa. Pada kasus itu, Romo Mudji menjaga jarak dan, karenanya, berada jauh di seberang kekuasaan (Orde Baru).
BACA JUGA: Vonis 'Anjlok' Kasus Penipuan Penjualan Rumah, Jaksa dan Kuasa Hukum Bersikap Pikir-pikir
Sejarah era Orde Baru adalah sejarah penguasa atau pemenang. Narasi yang dibangun jelas menempatkan Soeharto sebagai tokoh utama. Konsekuensi logisnya, setiap narasi dan penulisan sejarah yang berbeda dengan arus utama penguasa dianggap "kiri" yang, karenanya, harus dilarang. Nurani seorang Romo jelas membela kaum lemah atau dilemahkan oleh kekuasaan. Romo Mudji tercatat berdiri tegas di antara keduanya.
BACA JUGA: DPW IKM DIY dan PARIK PAGA Kirim Bantuan ke Sumbar
Dalam opini "Kesadaran dan Dunia Pikiran", Kompas (3/4/1995), Romo Mudji mengkritisi makna nasionalisme dalam konteks kesadaran:
"Ketika kesadaran semakin bangun dan tercerahi di sana diharapkan bertumbuhnya otonomi manusia-manusia pelaku-pelakunya. Maksudnya, kemandirian dalam berpikir dan bersikap terhadap kenyataan sekitar termasuk banjirnya informasi dan pilihan-pilihan".
BACA JUGA: Menyeka Air Mata: Catatan 14 Hari Ekspedisi Relawan PII dan LAZISKU di Pedalaman Aceh
Dalam tulisan itu Romo Mudji menekankan posisi kesadaran dan sebuah gerakan. Bung Karno dan Bung Hatta, serta para cendekiawan negarawan keluar masuk penjara karena penguasa alergi dengan peranana kesadaran yang mereka bawa. Tetapi, bisakan pikiran manusia dipasung dan dipenjara?
BACA JUGA: HWK Sumbar Tembus Daerah Terisolir di Solok, Soroti Bantuan Hunian dan Pemulihan Ekonomi
Cakrawala Budaya
Romo Mudji sangat mempengaruhi skirpsi yang saya tulis pada 1995. Tapi beliau tidak tahu. Sampai kami dipertemukan di forum Borobudur Writers & Culture Festival (29/10/2012). Kami berbincang ringan tanpa sekat, mengalir dan terlihat sekali "pangrengkuh" beliau pada kami yang amat muda.
BACA JUGA: Ibu-ibu KWT Pandan Wangi Tirtoadi Memanen Cabe di Cerah Pagi
Berbeda saat membaca tulisannya yang kuat dan kaya idiom filsafat, saat mengobrol langsung terasa sangat cair dan enak. Terbaca luas samudera pemikirannya apalagi tema-tema kebudayaan dan sejarah. Beberapa tahun kemudian kami dimasukkan Bang Nasir Tamara, saat itu Ketua Umum Persatuan Penulis Indonesia (Satupena), dan sesekali masuk berdiskusi dalam WAG.
BACA JUGA: Pemda DIY Telah Siapkan 10 Lokasi Percontohan Gerai Koperasi Desa Merah Putih
Sebuah keberuntungan bagi saya bisa berkenalan dan berinteraksi dengan pemikir kebudayaan ini. Bila kini saya yang orang sejarah menjadi akrab dan mengakrabi kebudayaan (desa), bisa jadi ada andil Romo Mudji di dalamnya.
BACA JUGA: Boyke Reza dan Cheryll Rilis Single 'Aku Tahu' Rayakan Cinta dengan Irama Lembut
Selamat jalan Romo Mudji, terima kasih atas ilmu dan cakrawala yang kau bukakan. Semoga surga yang damai tempat kembalimu. Kembalilah dengan penuh kehormatan sebagai salah satu anak bangsa yang tak pernah lelah memperjuangkan kemerdekaan berpikir. RIP. (Wahjudi Djaja, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada -Kasagama)
