PERGANTIAN tahun sering kali menjadi momen refleksi, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi kebudayaan yang kita miliki. Menjelang berakhirnya tahun 2025 dan memasuki 2026, saya merasa penting untuk menengok kembali perjalanan sastra Jawa: bagaimana ia hidup di masa lalu dan bagaimana kondisinya di era digital saat ini. Refleksi ini menjadi relevan karena sastra Jawa bukan sekadar produk seni, melainkan cermin peradaban dan identitas kultural masyarakat Jawa.
BACA JUGA: Menyeka Air Mata: Catatan 14 Hari Ekspedisi Relawan PII dan LAZISKU di Pedalaman Aceh
Pada masa lalu, sastra Jawa tumbuh dalam ruang yang relatif tenang dan penuh perenungan. Karya-karya sastra lahir melalui proses yang panjang dan matang. Media cetak seperti buku, majalah, dan naskah menjadi wadah utama penyebaran sastra Jawa. Penulis sastra Jawa masa lalu umumnya memiliki kedekatan yang kuat dengan tradisi, bahasa, dan nilai-nilai lokal. Tema yang diangkat tidak lepas dari persoalan etika, falsafah hidup, spiritualitas, serta dinamika sosial masyarakat. Bahasa Jawa yang digunakan pun kaya tingkatan, sarat simbol, dan menuntut pembaca untuk berpikir serta merasakan makna secara mendalam.
BACA JUGA: Korban Bencana Alam Sumatera 1.135 Jiwa, Pengungsi Hampir 490 Ribu
Sastra Jawa masa lalu berfungsi sebagai sarana refleksi kehidupan. Melalui cerita, geguritan, dan tembang, pembaca diajak memahami laku hidup, menimbang baik dan buruk, serta menjaga harmoni dengan sesama dan alam. Dalam konteks tersebut, sastra Jawa tidak hanya dibaca, tetapi juga dihayati. Ia menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan kesadaran budaya masyarakat.
BACA JUGA: Sinergi Sehat: Walikota Blitar dan RSI Aminah Gelar CFD Massal, Layanan Spesialis Gratis
Memasuki era digital, terutama hingga tahun 2025 ini, lanskap sastra Jawa mengalami perubahan yang sangat cepat. Media digital membuka akses yang luas bagi siapa saja untuk menulis dan mempublikasikan karya sastra Jawa. Media sosial, blog, dan platform berbagi video menjadi ruang baru yang lebih bebas dan instan. Sastra Jawa kini hadir dalam bentuk yang lebih singkat, visual, dan mengikuti ritme cepat dunia digital. Generasi muda mulai kembali bersentuhan dengan sastra Jawa, meski dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya.
BACA JUGA: SMA Muhi Yogya Raih Peringkat 3 Hasil TKA 2025 Nasional
Namun, perubahan ini juga memunculkan kegelisahan. Sastra Jawa di era digital sering kali terjebak pada tuntutan popularitas dan kecepatan. Banyak karya lahir tanpa proses perenungan yang mendalam. Bahasa Jawa yang digunakan cenderung sederhana, bahkan bercampur dengan bahasa lain, sehingga kekayaan linguistiknya perlahan tergerus. Nilai-nilai filosofis yang dahulu menjadi roh sastra Jawa tidak selalu hadir secara utuh dalam karya-karya masa kini.
BACA JUGA: DPW IKM DIY dan PARIK PAGA Kirim Bantuan ke Sumbar
Meski demikian, saya melihat era digital bukan sebagai ancaman mutlak, melainkan sebagai tantangan sekaligus peluang. Digitalisasi memungkinkan sastra Jawa menjangkau pembaca yang lebih luas dan lintas generasi. Tantangannya adalah bagaimana menjaga ruh sastra Jawa agar tidak hilang dalam arus konten yang serba cepat dan dangkal. Diperlukan kesadaran dari para penulis, penggiat budaya, dan media untuk menghadirkan karya sastra Jawa yang tetap berkualitas, meski dikemas dalam format modern.
BACA JUGA: Kolaborasi Pemkab Sleman dan Telkom Tanam 500 Bibit Pohon di Klangon
Refleksi pergantian tahun 2025 ke 2026 seharusnya menjadi momentum untuk menata kembali arah sastra Jawa. Kita perlu belajar dari ketekunan dan kedalaman sastra Jawa masa lalu, sekaligus memanfaatkan teknologi masa kini secara bijak. Sastra Jawa harus tetap menjadi ruang kontemplasi, bukan sekadar konsumsi. Jika keseimbangan antara tradisi dan inovasi dapat dijaga, saya percaya sastra Jawa akan terus hidup dan relevan.
BACA JUGA: Naura Bahri Siap Jadi Ikon Gen Z Multitalenta Indonesia 2026
Ia tidak hanya menjadi jejak masa lalu, tetapi juga penuntun nilai di masa depan, menyertai perjalanan kita memasuki tahun 2026 dengan kesadaran budaya yang lebih matang. (Penulis: Dr Akhir Lusono SSn MM adalah Penerima Anugerah Kebudayaan KPID DIY 2025, Penerima Anugerah Nomine Tokoh Penggerak Bahasa dan Sastra Jawa, Penerima Penghargaan MURI, Penerima Penghargaan Lencana Karya Satya Dari Presiden RI, Anggota Dewan Kebudayaan Bantul, Anggota dewan Pendidikan Kota Yogyakarta, Anggota Komisi Seni Budaya MUI DIY, Ketua Bidang Pendidikan Seni Budaya Komnasdik DIY, Wakil Sekreatris Lembaga Seni Budaya PP Muhammadiyah, Ketua Bidang Keahlian Broadcasting dan Perfileman BBPPMPV Seni Budaya Kemendikdasmen RI, dll).
