Yogyapos.com (BANDA ACEH) - Lumpur setinggi mata kaki itu membuat langkah kaki terasa berat. Di pundak mereka, beban ratusan kilogram barang bantuan harus ditopang bergantian. Di depan, jembatan terputus dan arus sungai yang deras menjadi pemisah antara harapan dan keputusasaan.
BACA JUGA: DPW IKM DIY dan PARIK PAGA Kirim Bantuan ke Sumbar
Cerita ini bukan adegan film petualangan, melainkan realitas yang harus dihadapi para relawan Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Lembaga Amil Zakat Infak dan Shadaqah Kemandirian Umat (Lazisku) saat menembus isolasi wilayah tengah Aceh.
Relawan PII Aceh dan Lazisku dilepas secara resmi pada Jumat, 12 Desember 2025, oleh Ketua Umum KB PII Aceh, Dr Muslem Yacob SAg MPd, di Sekretariat PW PII Aceh, Kota Banda Aceh. Ekspedisi ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum PW PII Aceh, Mohd Rendi Febriansyah.
BACA JUGA: 'Jogja Hanyengkuyung Sumatra' Berlangsung Sukses, Pentas Belum Berakhir Donasi Tembus Rp 836 Juta
Di bawah bayang-bayang ancaman longsor Bener Meriah dan Aceh Tengah, rasa lelah fisik itu seketika lenyap saat melihat senyum warga yang menyambut mereka bak saudara kandung yang lama hilang.
BACA JUGA: Warga Geger! Bayi Prematur Ditemukan di Ruas Tumpukan Batu
Momen dramatis di jalur berlumpur itu hanyalah satu penggalan cerita dari Ekspedisi Kemanusiaan 14 Hari yang baru saja dituntaskan oleh Pengurus Wilayah PII Aceh bersama Lazisku. Sebuah perjalanan panjang menyalurkan amanah di tengah bencana hidrometeorologi yang melumpuhkan Serambi Mekkah.
BACA JUGA: Kapolri dan Menhub Pantau Pergerakan Nataru dari Command Center Jatiasih Bekasi
Misi Menembus Blokade Alam
Ekspedisi ini bukan sekadar perjalanan biasa, misi ini membawa tanggung jawab besar, menyalurkan total 3 ton bantuan berupa pangan dan kebutuhan pokok ke lima kabupaten terdampak paling parah, yakni Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Istirahat di Bireuen, rumah salah satu anggota || YP-ist
"Kami berjalan kurang lebih dua kilometer dengan kondisi jalan berlumpur dan licin, memikul bantuan sekitar 200 kilogram melewati jembatan terjal. Sangat melelahkan, tetapi rasa cinta kami kepada rakyat Aceh menjadi sumber kekuatan," kenang Mohd Rendi Febriansyah, Ketua Umum PW PII Aceh sekaligus pemimpin ekspedisi ini.
BACA JUGA: Titiek Soeharto Serahkan 200 Unit Becak Listrik kepada Komunitas Becak Kayuh DIY
Dari Pesisir hingga Dataran Tinggi
Perjalanan 14 hari ini dibagi menjadi dua etape yang menguji mental. Etape pertama menyasar wilayah pesisir dan timur Aceh. Di Bireuen, relawan dihadapkan pada putusnya akses vital Jembatan Kutablang. Dengan risiko tinggi, tim harus menyeberangi sungai, dibantu pihak terkait, demi memastikan logistik sampai ke tangan korban di seberang sana.
BACA JUGA: Publik Apresiasi Langkah Menkeu Purbaya Menunda Kenaikan PPN
Tujuh hari berjibaku di Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang, tim kemudian bergerak ke dataran tinggi Gayo mulai 18 Desember 2025. Di sinilah mental relawan benar-benar diuji. Medan ekstrem dengan titik longsor yang labil memaksa mereka untuk lebih waspada.
Namun, Rendi mencatat hal menarik. Di tengah kehancuran infrastruktur dan rumah warga, ia menemukan "benteng" yang masih kokoh berdiri: ketegaran mental masyarakat Aceh.
BACA JUGA: Vonis 'Anjlok' Kasus Penipuan Penjualan Rumah, Jaksa dan Kuasa Hukum Bersikap Pikir-pikir
"Wajah-wajah tegar yang kami temui tidak sepenuhnya mampu menutupi kesedihan mereka. Namun kami bangga menjadi saudara dari orang-orang Aceh, yang memiliki kesabaran dan rasa syukur luar biasa," tutur Rendi dengan nada haru.
BACA JUGA: BNN Ungkap 25 Kasus, Sebagian Besar Transaksi Narkoba Dilakukan via Medsos
Amanah, Menepis Keraguan
Ekspedisi yang berakhir pada Kamis, 25 Desember 2025 ini, juga membawa misi moral tersendiri. Di tengah simpang siur isu tentang penyalahgunaan bantuan bencana, PII Aceh memilih jalan sunyi: turun langsung ke titik nol.
Rendi menyatakan bahwa interaksi langsung dengan korban karena pentingnya amanah donatur tersalurkan dengan baik. "Kami sering menerima kabar bahwa bantuan kemanusiaan kerap ‘dimainkan’ oleh oknum tertentu. Karena itu, kami memilih turun langsung untuk memastikan amanah donatur tersalurkan dengan baik," ujarnya.
BACA JUGA: Boyke Reza dan Cheryll Rilis Single 'Aku Tahu' Rayakan Cinta dengan Irama Lembut
Perasaan campur aduk menyelimuti tim saat kembali ke Banda Aceh. Ada kesedihan melihat kerusakan tanah kelahiran, kebahagiaan karena bisa berbagi, hingga amarah mengetahui masih ada celah ketidakjujuran dalam penanganan bencana.
BACA JUGA: 371 Ribu Kendaraan Padati Wilayah DIY
Langkah Selanjutnya: Menyelamatkan Pendidikan
Tiga ton bantuan telah habis terdistribusi, namun tugas kemanusiaan PII dan Lazisku belum usai. Pasca-ekspedisi logistik ini, PW PII Aceh dan Lazisku kini membidik sektor yang kerap terlupakan saat bencana: pendidikan.
Rendi mengungkapkan rencana timnya untuk segera mendistribusikan paket pendidikan bagi pelajar terdampak. Bagi PII, bencana alam tidak boleh menjadi alasan matinya mimpi anak-anak Aceh untuk bersekolah.
BACA JUGA: Kolaborasi Pemkab Sleman dan Telkom Tanam 500 Bibit Pohon di Klangon
"PII lahir dari umat dan harus berbuat untuk umat. Aksi kemanusiaan bukan pilihan, tetapi merupakan kewajiban setiap organisasi," pungkas Rendi, menutup catatan perjalanan panjang tersebut dengan sebuah janji untuk terus mengabdi. (*/tha)
