Menggali Memori Kolektif: Mau ke Mana?

share on:
Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM

DALAM kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; kita disituasikan untuk melakukan semacam strategi kebudayaan. Salah satu praktik strategi kebudayaan adalah dengan  menggali memori kolektif.

BACA JUGA: Sejumlah Pimpinan Buruh dan NGo Galang Solidaritas untuk Enam Pengurus FSBMC Terkena PHK

Kemudian, kita sibuk menelusuri ulang, dulu para lelulur kita pernah berpikir, membuat, atau menulis apa saja. Bagaimana masyarakat lelulur itu mempraktikkan kehidupannya. Dalam kegiatan penelusuran tersebut, sebagian dari warga-masyarakat menemukan semacam “masa lalu yang jaya”, apakah itu pada masa Sriwijaya (yang sebagian besar sebenarnya tidak menyisakan bekas). 

BACA JUGA: LKBH Pandawa Laporkan Oknum Polisi ke Polda DIY atas Dugaan Penganiayaan Wanita

Sebagian lagi mengulik kejayaan Mataram Kuno, Majapahit, atau melacak berbagai sumber dari peradaban dan kerajaan yang pernah eksis di berbagai belahan Nusantara. Banyak situs-situs, manuskrip, dan berbagai teks dibaca dan dikaji kembali.

BACA JUGA: Tersangka Kasus Dugaan Kredit Fiktif BRI Banguntapan Ajukan Praperadilan terhadap Kejati DIY

Seorang pemikir budaya, Walter Benjamin (1892-1940), telah memikirkan hal tersebut. Dia memperkenalkan teori yang disebut sebagai mimpi ganda (double dream theory). 

BACA JUGA: Keluarga Terduga Penjambret dan Tersangka Penabrak Jalani Proses RJ

Secara strategi kebudayaan, kita dikondisikan untuk mengulik kembali “kemungkinan kehebatan masa lalu” untuk mengantisipasi masa kini dan masa depan. Apa yang diantisipasi antara lain, masalah ketidakadilan dan kemiskinan. Ketidakadilan dan kemiskinan berimplikasi pada konflik dan kekacauan terus menerus.

BACA JUGA: Keraton Yogya Serahkan 141 Serat Palilah kepada Warga Turgo

Strategi kebudayaan tersebut bisa disebut sebagai strategi atau mimpi fetisisme. Bukan mencari kebaruan, tetapi mencari sesuatu yang diandaikan pernah ada di masa lalu dan diharapkan bisa diandalkan berhadapan dengan kuasa kapitalisme global.

BACA JUGA: Aldino Moreno Rilis Lagu Ramadhan 2026 'Mahkota Cahaya' Bakal Bikin Banyak Orang Nangis

Inilah yang disebut sebagai kekacauan komodifikasi. Yakni, upaya membongkar suatu saluran dari disposisi yang diduga melekat di pemikiran kuno dan membawanya untuk langsung berhadapan dengan segala kekacauan yang terjadi akibat dari praktik kapitalisme dan atau bahkan komunisme. Adanya kekacauan kondisi sosial berupa kontradiksi kesejahteraan dan kemiskinan.

BACA JUGA: Cemburu, Pria Muda Sayat Paha Teman Menggunakan Cutter

Mungkin, sebagian masyarakat, akhirnya, sadar terhadap mimpi fetisisme tersebut. Bukan berarti jika masyarakat sadar, manusia bisa keluar dari mimpi pertama itu. Manusia justru masuk ke mimpi kedua, yakni utopianisme. 

BACA JUGA: Pemerintah Perketat Registrasi Kartu Seluler untuk Tekan Penipuan Digital

Mimpi utopianisme itu membayangkan akan adanya sebuah dunia yang sempurna, indah, menawan, serba nikmat, paling tidak bisa bebas dari cengkraman kapitalisme, penindasan, penguasa yang absolut. Seolah-olah dunia yang disebutkan tersebut tampak revolusioner dan sangat menguntungkan bagi umat manusia.

BACA JUGA: Merawat Pertiwi, Hanung Raharjo Pimpin Bersih Sungai dan Pelepasan Ratusan Bibit Ikan

Dibanding mimpi fetisisme, mimpi utopianisme masih lumayanlah. Fetisisme mengandalkan ada “hal masa lalu” yang diharapkan bisa mengatasi masalah masa kini. Tentu kadang dilupakan, “hal masa lalu” itu sendiri tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri. Terbukti, banyak yang tidak bisa bertahan dengan modernisme dan kapitalisme pada masannya.

BACA JUGA: GBPH Prabukusumo Bangga, PMI Sleman Telah Jalankan Tugas Secara Total

Mimpi utopianisme masih lumayan karena dia menyelipkan suatu yang sedikit spiritual, yakni kemungkinan datangnya atau hadirnya “penyelamat dunia.” Harapan baik terhadap “hal spiritual”, atau mungkin “tangan kebaikan Tuhan”, masih menyimpan ingatan purba bahwa akhirnya segala sesuatu Ada yang lebih berkuasa. 

BACA JUGA: Gandeng Allya Zaenab, Band Mitologi Suntikkan Jiwa Baru ke Lagu 'Berharap'

Masalahnya, dunia tidak berjalan linier. Walau secara akademik, masa depan bisa diprediksi, tetapi, tetap saja kita tidak tahu apa yang terjadi di depan. Kita hanya berusaha, agar kesalahan dan kegagalan di masa lalu tidak terulang. 

BACA JUGA: HUT ke-79 Megawati Soekarnoputri, Kader PDI Perjuangan DIY Rawat Bumi Pertiwi

Mengerahkan semua energi untuk masa depan yang lebih baik, bisa pula menjadi lebay. Labaynya adalah bahwa hal itu memungkinkan kita untuk berjuang mati-matian mewujudkan takdir sejarah di masa depan. Kita pun akhirnya dikondisikan “saling bersikutan karena merasa paling benar dalam perjuangan”, demi masa depan yang cerah. 

BACA JUGA: MilkLife Soccer Challenge Memasuki Seri 2, Bayan Peduli Ambil Peran di Kalimantan

Kembali ke persoalan, menggali memori kolektif yang kita kerjakan hari ini untuk ke mana dan mau ngapain? Menggali memori kolektif masa lalu ada dua hal. Pertama menggali “mimpi dalam masyarakat kuno” dan menggali “mimpi di masa lalu”. 

BACA JUGA: Dari Buku Hingga Puisi, IBCF Rayakan Satu Abad NU di Yogyakarta

Mimpi pertama, kita terjebak dengan mimpi kemajuan, bahwa dunia akan terus berkembang. Sementara itu, mimpi kedua, kesadaran tentang “mimpi di masa lalu”, bisa lebih memberi pelajaran bagaimana kita perlu bermimpi di hari ini, untuk masa depan. 

BACA JUGA: Menyambut Ramadhan, FJI Yogyakarta Gelar Tabligh Akbar dan Santunan Sosial

Jadi, menggali memori kolektif masa lalu perlu strategi dan kesadaran bahwa leluhur kita tidak terlalu jaya. Kekalahan dan kehancuran adalah buktinya, dan untung, kemudian, diselamatkan untuk menjadi Indonesia. Kini kita tahu, bagaimana kondisi Indonesia. Perlu formula baru dalam bermimpi. Mari kita diskusikan lebih lanjut.  (Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM)


share on: