Menegakkan Kebenaran di Jalan Sunyi: Sebuah Renungan Dakwah

share on:
Dr dr Sufi Desrini MSc || YP-Ist

TERKADANG hidup membawa kita pada sebuah persimpangan, yaitu antara menjaga kenyamanan lingkungan atau menjaga sebuah kebenaran. Pada titik itu, hati sungguh sering terasa bimbang. Kita tahu apa yang benar, tetapi ketika kebenaran itu disampaikan, suasana berubah. Teman menyimpan jarak, percakapan yang dulu hangat tiba-tiba terasa dingin, dan langkah yang semula ringan menjadi berat. Namun justru di sanalah letak ujian iman yang sesungguhnya, apakah kita tetap memilih jalan Allah SWT, atau mengikuti arus manusia.

BACa JUGA: Green Jobs Diharapkan Mampu Jadi Alternatif Solusi Kerusakan Lingkungan

Islam mengajarkan bahwa kebenaran bukanlah hanya sesuatu yang diyakini, tetapi sesuatu yang harus ditegakkan. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah SWT, sekalipun terhadap diri kalian sendiri.” (QS. An-Nisa’:135). Ayat ini seperti cermin yang meneguhkan hati, mengingatkan bahwa keberanian moral adalah bagian dari keimanan. Kebenaran memang tidak selalu disukai, tetapi ia tetap harus dijaga agar tidak hilang ditelan kebiasaan yang salah.

BACa JUGA: Logika Politik Campur-Baur

Meski demikian, menegakkan kebenaran tidak selalu ringan. Ada malam ketika hati bertanya lirih, “Mengapa aku harus memikul ini sendirian?” Ada hari-hari ketika niat baik kita justru menjadi alasan sebagian orang menjauh. Tetapi ingatlah, keterasingan seperti itu bukan hukuman. Terkadang, itulah cara Allah memurnikan langkah kita. Sebab, siapa pun yang membawa cahaya sering menemukan dirinya berdiri sendiri di antara mereka yang telah lama terbiasa dengan gelap.

BACA JUGA: Polisi Tidur dan Kekerasan Simbolik

Allah SWT juga mengingatkan kita, “Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, dan jangan kalian sembunyikan kebenaran padahal kalian mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah:42). Kebenaran memang sering mengguncang, karena ia menyingkap apa yang selama ini dibiarkan tertutup. Dan ketika kebenaran disuarakan, hati manusia terbelah, ada yang lapang menerimanya, dan ada yang merasa terusik. Karena itu, bila langkah baik kita membuat sebagian orang menghindar, janganlah hati kecil kita meragukan diri. Itu bukan ukuran nilai kita, namun itu hanya tanda bahwa tidak semua hati siap menerima perbaikan.

BACA JUGA: PB XIII dan Beban Sejarah Penerus Dinasti Mataram

Rasulullah SAW pun melalui masa ketika orang-orang menjauh karena kebenaran yang beliau bawa. Beliau tahu perihnya kesalahpahaman, beratnya kesendirian, dan getirnya penolakan. Sahabat-sahabat yang beliau cintai pernah mengalami tekanan sosial karena mendukung risalah beliau. Namun beliau tetap melangkah, karena kebenaran bukan dinilai dari banyaknya dukungan manusia, tetapi dari ridha Allah SWT semata.

BACA JUGA: Kesadaran Ekoteologis; Sebagai Mitigasi Bencana

Kadang, dalam hati kecil kita muncul harapan, “Seandainya semua orang memahami maksud baikku.” Namun Islam mengajarkan bahwa tugas seorang mukmin bukan membuat semua orang senang, tetapi menyampaikan dengan hikmah. Allah SWT berfirman, “Serulah manusia dengan hikmah dan nasihat yang baik…” (QS. An-Nahl:125). Hikmah itu bukan berarti melemahkan prinsip, tetapi menghaluskan cara.

BACA JUGA : Seni Jembatan Harapan, Yogyakarta Tuan Rumah Persahabatan Ukraina-Indonesia

Dan di tengah perjalanan itu, wajar bila hati terasa lelah. Wajar bila rasa sunyi menyelinap di sela-sela langkah. Bahkan wajar bila sesekali muncul pertanyaan, “Mengapa aku?” Namun justru pertanyaan itu menandakan bahwa kita sedang ditempa, Dan ketahuilah, tidak semua orang dipilih oleh Allah SWT untuk menjadi penjaga nilai yang benar. Kebenaran itu berat, maka Allah SWT hanya menitipkannya kepada hamba-hamba yang Dia ingin tinggikan derajatnya. Apa yang terasa sebagai beban, sebenarnya adalah bentuk perhatian Allah SWT kepada kita. Dalam kesunyian itu, renungkanlah ayat ini:

“Maka bersabarlah. Sungguh, janji Allah itu benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau” (QS. Ar-Rum: :60).

BACA JUGA: Potensi Bencana Geo Hidrometeorologi Merambah Bantul

Sabar bukan berarti diam dan menerima ketidakadilan, melainkan tetap teguh tanpa kehilangan kelembutan. Sabar adalah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi terasa. Ia menahan kita agar tidak membalas dengan cara yang buruk, dan menjaga kita agar tidak menjadi seperti orang yang kita perbaiki.

BACA JUGA: Tersangka Pembunuhan di Wirobrajan Dijerat Pasal Berlapis

Pelan-pelan kita mulai memahami bahwa menegakkan kebenaran bukan tentang memenangkan perdebatan, tetapi memenangkan hati, dimulai dari hati kita sendiri. Menegakkan kebenaran bukan tentang membuktikan bahwa kita lebih benar, tetapi membuktikan bahwa kita tidak rela kebatilan menjadi biasa. Tidak semua orang akan memahami itu pada awalnya, tetapi mereka akan melihat hasilnya di kemudian hari.

BACA JUGA: Ini Empat Tersangka Pembunuhan di Wirobrajan, Motifnya Dendam

Dan bila masih ada yang menjauh, yakinlah bahwa Allah SWT akan mendekat. Bila ada yang meninggalkan kita karena kita benar, Allah SWT akan menggantinya dengan orang-orang yang lebih tepat, yang lebih memahami nilai-nilai yang kita jaga. Setiap langkah di jalan lurus mungkin terasa sunyi, tetapi tidak pernah sepi dari pengawasan dan cinta Allah SWT.

BACA JUGA: Potensi Bencana Geo Hidrometeorologi Merambah Bantul

Rasulullah SAW bersabda, “Kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari & Muslim). Bila jalan jujur terasa panjang dan terjal, ingatlah bahwa ujungnya adalah surga. Tidak ada jalan menuju tempat yang begitu mulia tanpa sedikit kelelahan di dunia.

Pada akhirnya, kebenaran bukan hanya sesuatu yang kita sampaikan, tetapi sesuatu yang kita hidupi. Cara kita bekerja, cara kita memimpin, cara kita memperbaiki sistem, dan cara kita memperlakukan orang lain, Allah SWT menyaksikan semua itu. Mungkin manusia melihat sebagian kecil, tetapi Allah SWT melihat seluruhnya. Dan itu cukup untuk membuat kita tetap teguh.

BACA JUGA: KPK Siap Gelar Kegiatan Hakordia 2025 di DIY, Selama Empat Hari

Menegakkan kebenaran memang tidak selalu membuat kita disukai. Tetapi disukai bukanlah tujuan hidup seorang mukmin. Karena yang lebih penting adalah menjadi orang yang diridhai oleh Allah SWT, meski harus melalui jalan sunyi untuk sampai ke sana. Sebab jalan sunyi itu bukan pertanda salah arah, justru sering kali itu adalah jalan yang paling dekat menujuNya.

BACA JUGA: Bupati Sleman Serahkan SK kepada 3.513 PPPK, Begini Pesannya

Semoga Allah SWT menjaga hati kita agar senantiasa tetap lembut, namun tegas. Semoga Dia memberi kekuatan untuk tetap berdiri ketika orang lain duduk, dan tetap melangkah ketika orang lain mundur. Dan semoga setiap kesepian yang kita rasakan berubah menjadi kedekatan yang mendalam denganNya. Aamiinn Yaa Rabbal‘alamin. (Penulis: Dr dr Sufi Desrini MSc Adalah Dosen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia)


share on: