Yogyapos.com (BANTUL) - Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan potensi bencana geo hidrometeorologi sudah terjadi di Bumi Projotamansari. Indikasinya antara lain fenomena jalan amblas di Srikeminut yang dipicu oleh hujan belakangan ini.
BACA JUGA: MBG Membawa Berkah, SPPG Tridadi Serap Klengkeng Lokal
Kepastian tersebut disampaikan menyusul informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta. "BMKG menyampaikan bahwa siklus (penghujan) puncaknya akan terjadi hingga bulan Februari 2026 yang akan datang dan melandai di bulan Maret 2026 mendatang," ujar Bupati, Jumat (5/12/2025).
BACa JUGA: Kejati DIY Ungkap Dugaan Kredit Fiktif Rp 3,3 M, Tersangkanya Diborgol!
Disebutkan, informasi tersebut sangat penting karena Pemkab Bantul punya perencanaan pembangunan dibidang infratruktur hingga masa tanam (sektor pertanian). Misalnya, untuk pelelangan proyek infrastruktur apakah akan dibulan Januari atau bulan lainnya menjadi pertimbangan dan urusan lainnya yang berkaitan dengan cuaca.
BACA JUGA: KPK Siap Gelar Kegiatan Hakordia 2025 di DIY, Selama Empat Hari
"Oleh karenanya puncak musim hujan pada bulan Februari 2026 maka kita mengingatkan warga untuk lebih waspada terutama warga yang tinggal di bantaran sungai maupun di lereng bukit," tandasnya.
Waljito, Ketua FPRB Bantul || YP-Ist
Sesuai informasi dari BMKG, saat puncak musim penghujan maka hujan deras bisa disertai dengan angin kencang hingga tanah longsor. "Yang penting siklusnya sudah bisa ketahui dan kita bisa mengantisipasinya," harapnya.
BACA JUGA: Stunting di Sleman Menurun, Tiga Kelompok BKS Peroleh Penghargaan
Bupati menegaskan, pihaknya melakukan sosialisasi atas berbagai potensi bencana yang bisa terjadi tersebut. Langkah utama adalah sosialisasi kepada masyarakat. Sebab benteng terakhir mitigasi bencana ada diri masing-masing masyarakat dan BPBD atau relawan kebencanaan sifatnya hanya membantu.
BACA JUGA: Tersangka Pembunuhan di Wirobrajan Dijerat Pasal Berlapis
"Yang paling penting warga yang tinggal di daerah rawan banjir, rawan longsor di perbukitan atau gunung harus melihat perkembangan hujan dari waktu ke waktu," ujarnya.
BACA JUGA: Jelang Nataru, Pemkab Kulonprogo Sigap Rakor dan Mitigasi Lintas Sektoral
Terkait hal ini, Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Bantul, Waljito mengatakan untuk mengantisipasi potensi bencana geo hidrometeorologi maka setiap FPRB di kalurahan bersiaga penuh dan menyiapkan sarana dan prasarana untuk mengantisipasi bencana khususnya banjir dan tanah longsor.
BACA JUGA: Green Jobs Diharapkan Mampu Jadi Alternatif Solusi Kerusakan Lingkungan
"Hasil monitoring dan evaluasi ada sekitar 18 kalurahan yang rawan terjadi banjir dan juga tanah longsor," ujar Waljito seraya menyatakan siap menyebarluaskan informasi dari BMKG terkait potensi bencana yang bisa terjadi melalui group-group media sosial ditingkat kalurahan," tuturnya.
BACA JUGA: FFPJ Peroleh Anugerah Kebudayaan DIY 2025, Tomy Bertekad Terus Berproses
FPRB juga minta pihak terkait untuk melakukan normalisasi sungai baik sungai yang mengalami penyempitan atau pendangkalan sehingga aliran sungai tidak meluap serta melakukan sosialisasi yang masif terkait potensi bencana geo hidrometeorologi. (*/inm)
