Seni Jembatan Harapan, Yogyakarta Tuan Rumah Persahabatan Ukraina-Indonesia

share on:
Ananda Sukarlan memainkan nomor 'Holy Night' saat pertemuan persahabatan seniman Ukraina-Indonesia, di Sagan Heritage, Minggu (30/11/2025) malam

Yogyapos.com (YOGYA) - Di tengah gemuruh perang yang telah memasuki tahun ketiga sejak invasi Rusia pada Februari 2022, hubungan seni antara Indonesia dan Ukraina muncul sebagai jembatan harapan yang rapuh namun tak tergantikan.

BACA JUGA: Menteri Fadli Zon Apresiasi Musisi Malioboro dan Beri Bantuan Alat Musik

Perang bukan hanya menghancurkan infrastruktur dan nyawa, tetapi juga mengancam identitas budaya Ukraina --dari museum yang diruntuhkan hingga tradisi lisan yang terputus oleh pengungsian massal. Di sinilah seni dan budaya menjadi senjata damai, memperkuat solidaritas antarnegara, dan menjaga api kemanusiaan tetap menyala.

BACA JUGA: Ormas Humoriezt Bersih-bersih Sampah, Bikin Gapura dan Bantu Pembangunan Mushola di Pantai Cangkring

Bagi Indonesia, negara yang lahir dari perjuangan kemerdekaan dan menganut prinsip bebas-aktif, memperdalam hubungan ini bukan sekadar diplomasi Track Two atau diplomasi jalur kedua sebagai kegiatan diplomasi yang melibatkan para aktor nonpemerintah, melainkan panggilan moral untuk melestarikan nilai-nilai bersama di era konflik global.

BACA JUGA: Tentang Komisi Percepatan Reformasi Polri, Jimly: Mandat Presiden Tak Bisa Dinegosiasikan

Hubungan budaya Indonesia-Ukraina telah terjalin sejak 1992, saat kedua negara menormalisasi diplomasi pasca-runtuhnya Uni Soviet. Kerja sama difokuskan pada pendidikan, budaya, dan pariwisata, dengan pertukaran seni yang semakin intensif seiring waktu.

Penyair Afnan Malay (kanan) 

Pada 2020, kedua negara sepakat memperluas kolaborasi ini, termasuk pameran seni dan festival budaya, meskipun pandemi global sempat menghambat. Namun, perang Rusia-Ukraina mengubah dinamika ini menjadi lebih mendesak. Indonesia, yang menjaga netralitas sambil mendukung kedaulatan Ukraina melalui resolusi PBB, melihat budaya sebagai arena netral untuk diplomasi. Di sini, seni menjadi katalisator: bukan lagi sekadar estetika, tapi alat untuk menyembuhkan luka dan membangun pemahaman.

BACA JUGA: Seru! Empat Tim Terbaik LDI 2025 Melaju ke Babak Semifinal

Salah satu contoh nyata adalah inisiatif seniman Ukraina Yurii Kosenko, yang mendistribusikan poster seni berisi kutipan tokoh Indonesia seperti Rangga Warsita dan Sjuman Djaya ke garis depan perang. Karya-karyanya, dicetak di pelusuk Ukraina, tidak hanya menginspirasi prajurit Ukraina tapi juga disebarkan ke Indonesia sebagai bentuk Track Two Diplomacy --diplomasi rakyat yang melampaui batas pemerintah. Kosenko, anggota Friends of Indonesia, mengumpulkan buku sastra Indonesia berbahasa Inggris untuk dibagikan, menciptakan jembatan antara puisi Jawa kuno dan narasi perlawanan Ukraina modern.

BACA JUGA: Chichi Sukardjo Luncurkan Program 'Tetap Hidup Walau dengan Luka'

Upaya ini menunjukkan bagaimana seni visual dan sastra bisa menjadi "senjata lunak" melawan propaganda perang, memperkuat hubungan bilateral yang sebelumnya mencapai volume perdagangan US$1,32 miliar pada 2012, meskipun terhenti akibat konflik.

BACA JUGA: Wisuda Prabhatar Akademi TNI dan Kepolisian Diikuti 1.621 Wisudawan, Ini Pesan Panglima

Lebih lanjut, pertukaran seni kontemporer semakin menonjol di era perang. Pada Januari 2025, pameran "Ukrainian Art Exhibition" di Studio Kalahan, Yogyakarta, memamerkan 18 lukisan kelompok seniman Pictoric yang menggambarkan dinamika kehidupan di zona konflik—dari sketsa pengungsian hingga ekspresi trauma perang.

BACA JUGA: Rektor UAJY Serukan Integritas dan Berpikir Kritis kepada 433 Wisudawan

Kolaborasi ini, didukung Kedutaan Kanada sebagai fasilitator, bukan hanya memperkenalkan keindahan seni Ukraina seperti bordir tradisional vyshyvanka dan telur Pysanky, tapi juga mengingatkan publik Indonesia akan pentingnya perdamaian.

Heri Dono, Direktur Studio, menekankan bahwa seni menjadi "catatan ilustrasi" yang melampaui foto jurnalistik, membuktikan bahwa kreativitas tetap hidup meski di bawah bayang-bayang bom. Sementara itu, webinar "Cross-Culture" pada 2020 oleh Ukrainian Cultural Foundation dan ALEM NGO membuka dialog tentang pertukaran akademik, di mana mahasiswa Indonesia belajar bahasa Slavik dan seni Ukraina melalui beasiswa bersama.

BACA JUGA: Dokter Gadungan Didakwa Menipu Hingga Setengah Miliar Lebih

Hubungan ini begitu penting saat perang demi melestarikan warisan budaya Ukraina yang terancam. UNESCO mencatat 457 situs budaya rusak sejak 2022, termasuk museum dan monumen—ancaman yang mirip dengan bagaimana kolonialisme pernah merampas identitas Indonesia. Dengan mendukung pertukaran seni, Indonesia membantu Ukraina "menyimpan" identitasnya melalui diaspora dan kolaborasi digital, seperti NFT museum Ukraina yang melestarikan timeline perang. 

BACA JUGA: Kesadaran Ekoteologis; Sebagai Mitigasi Bencana

Kedua, budaya membangun solidaritas Global South. Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, tergerak oleh nasib Tatar Krimea—1 juta Muslim Ukraina yang mengalami represi Rusia—mirip perjuangan Palestina yang sering disuarakan Jakarta. 

Para penampil

Minggu, 30 November, di Sagan Heritage, Yogyakarta kembali menjadi saksi hubungan seni, kali ini musik, Ukraina dan Indonesia. Dengan tajuk "Two Pianists, Two Countries, One Vision for Humanity", konser ini juga adalah sebagai penutup Kompetisi Piano Nusantara Plus (KPN+) region Yogyakarta.

BACA JUGA: Kasus Korupsi Bandwidth, Terdakwa Jalani Sidang Perdana Didampingi Advokat Murjiyanto

Tokoh utama adalah dua pianis pentolan kedua negara, Dr Taras Filenko dan Ananda Sukarlan, dan Ananda sebagai pendiri KPN+ mengajak 4 pemenang KPN+:3 dari Yogyakarta, 1 dari Surabaya yaitu pemain biola Sean Kenneth Hudyana sebagai juara 1 di KPN+ Surabaya. Sean memainkan "Sadness Becomes Her" karya Ananda Sukarlan yang didampingi sang komponis di piano. Sedangkan 3 pemenang KPN+ Yogya adalah vokalis Juara pertama Mezzo soprano Annisa Meiliasari menyanyikan "Parafrase Ibu" (puisi Muhammad Daffa), juara kedua soprano Felisia Dian Permata "Dua puisi pendek tentang cinta" dari puisi Rieke Diah Pitaloka serta Juara 2 gitaris Abimael Hugo Andrean Laksito:  "A Hypochondriac at the time of Covid-19".

BACA JUGA: Kantor BUKP Kemantren Tegalrejo Digeledah, Ini Tujuannya

Ananda Sukarlan sendiri memainkan dua karyanya: Oh Holy Night, Oh Speedy Night (Variasi dari lagu Natal "O Holy Night" ciptaan Adolphe Adam) serta Rapsodia Nusantara no. 39 yang dimainkan untuk tangan kiri saja, berdasarkan lagu rakyat NTT, Oras Loro Malirin. Sedangkan Taras Filenko memainkan karya-karya komponis Ukraina seperti Mykola Lysenko, Myroslav Skoryk dan Fedir Akimenko.

Turut hadir antara lain Oei Hong Djien, kolektor lukisan ternama yang datang khusus dari Magelang serta penyair dan sastrawan Afnan Malay. 

BACA JUGA: 72 Tahun Yani Saptohoedojo, Inisiasi Pusat Kebudayaan Saptohoedojo

Akhirnya, hubungan budaya dan seni Indonesia-Ukraina mengajarkan bahwa perang boleh merobek batas fisik, tapi tak bisa memadamkan jiwa manusia. Di saat dunia terpecah bipolar, inisiatif seperti pameran Yogyakarta atau konser Taras Filenko - Ananda Sukarlan menjadi pengingat: seni bukan pelarian, melainkan panggilan untuk rekonsiliasi.

BACA JUGA: Pemprov DIY Zoom Meeting dengan Mendagri, Ini yang Dibahas

Bagi Indonesia, memperkuatnya berarti mewujudkan Pancasila di panggung dunia—menjaga perdamaian abadi melalui keindahan yang tak tergoyahkan. Saat peluru berhenti, seni akan tetap bernyanyi, menyatukan dua bangsa yang sama-sama bangkit dari abu sejarah. (Met)


share on: