SURUD dalem Sinuwun PB XII menyisakan beberapa persalahan. Bukan soal suksesi tetapi, tulisan ini, lebih menyoroti amanah sejarah yang disandang para penerus dinasti Mataram. Sebagai orang luar, tentu kita tak boleh masuk terlalu dalam soal proses suksesi di Kasunanan Surakarta. Kita hanya bisa melihat secara kesejarahan sebagai bagian ilmu yang darinya kita bisa menatap masa lalu secara jernih.
BACA JUGA: Ribuan Orang Iringi Pemakaman Jenazah Pakubuwono XIII di Pajimatan Imogiri
Ekses Perjanjian Giyanti
Kebesaran Kerajaan Mataram menemui babak akhir setelah Belanda memaksakan diri untuk menggelar Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Mataram dibelah menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Masing-masing membawa karakter sejarah politik yang berbeda. Kedaulatan politik coba ditegakkan oleh kedua entitas politik tradisional. Namun belum sampai terwujud, kedua kerajaan dipecah lagi menjadi Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman. Dinamika sejarah menyertai ke empat wilayah yang akrab disebut vorstenladen.
BACA JUGA: Hadiri Pemakaman PB XIII, Brigjen TNI Bambang Sujarwo Panjatkan Doa di Pusara
Pecah belah dan kuasai yang khas kolonial Belanda nampaknya tidak serta merta bisa dihilangkan. Dengan beragam sebab, kebiasaan untuk saling mengalahkan, atas nama apapun, menjadi referensi manakala kita bisa kerajaan Jawa. Terakhir, naiknya PB XIII pun tak bisa menegasikan konflik. Bahkan, saat beliau wafat dan dimakamkan 5 Nopember 2025, putra mahkota mendeklarasikan diri sebagai PB XIV. Publik kemudian teringat akan ucapan Putra Mahkota, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Hamengkunegoro Sudibya Rajaputra Narendra Mataram, yang "Nyesel gabung Republik" pada 1 Maret 2025.
BACA JUGA: Lakalantas Maut BMW Kontra Vario di Sleman, Terdakwa Divonis 14 Bulan
Bisa jadi Putra Mahkota "meri" pada Yogyakarta atas perlakuan pemerintah pusat pada Surakarta. Tetapi, jangan dilupakan, sikap politik Putra Mahkota tentu berdampak luas di masyarakat. Ada apa dengan Surakarta? Dan kini, dia mendaku sebagai penerus PB XIII di saat ayahandanya akan dimakamkan. Suara kontra tentu muncul dari pihak KGPA Tedjowulan, rival PB XIII, yang menyatakan diri sebagai careteker Kasunanan Surakarta.
BACA JUGA: Pembunuhan Wanita Muda di Mejing, Pelaku Gorok Leher Korban dengan Pisau Dapur
Kita kembali hanya bisa menyayangkan, apakah memang demikian sikap politik para penerus dinasti Mataram soal suksesi dan takhta. Sejarah memang mencatat, konflik dan peperangan sering berkecamuk di era Mataram hingga dikenal Perang Suksesi. Tetapi, kini kita semua telah hidup di zaman kemerdekaan dimana hukum dan tata kenegaraan telah selesai diperdebatkan. Menjadi absurd jika masih suka bertikai atas nama dampar kekuasan kerajaan yang notabene tak lebih sebagai simbol budaya.
BACA JUGA: Paguyuban 'Cokro Pamungkas' Berikan Penghargaan kepada Dukuh Purna Tugas
Apa yang Didapat dari Mataram?
Empat entitas kekuasaan di Jawa sebagai pecahan Mataram telah mengalami transformasi diri. Suka tidak suka, zaman telah berubah. Semangat dan tantangan zaman telah berganti. Jika pun kita masih mau menempatkan ke empat kerajaan dalam nslar kebangsaan, salah satunya karena ada pesan kesejarahan yang disematkan pada para penguasa dan ruh kebudayaan yang coba kita jaga. Karena itu adalah bagian penting jati diri dan kepribadian manusia Jawa. Itulah kenapa keraton kita pandang juga sebagai pusat kebudayaan.
BACA JUGA: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,04 Persen di Kuartal Ketiga 2025
Ada amanat sejarah yang melekat pada nama kebesaran ke empat penguasa pecahan Mataram: Paku Buwono, Hamengku Buwono, Mangku Nagara, Paku Alam. Sebagai khalifah atau pemimpin, dulu maupun sekarang, mereka mempunyai amanat sejarah untuk memakmurkan bumi. Itu tugas peradaban yang, mau tidak mau, harus diaktualisasikan dalam kehidupan. Dulu mungkin musuh kita konkret, Belanda atau Inggris, tetapi tantangan zaman telah berubah.
BACA JUGA: Sleman Tuan Rumah Pendampingan Terintegrasi Stunting
Kita hormat dan takzim kepada mereka, yang bangsawan atau darah biru, bukan dalam konteks feodalisme, tetapi ada halaman sejarah yang harus kita jaga kebersihan dan keharumannya. Bagian dari halaman itu menjadi referensi kehidupan kita sebagaimana tercatat dalam beragam serat, kitab atau laku. Rakyat atau kawula alit akan bangga dan bahagia manakala para penerus dinasti Mataram mau dan mampu menegakkan kembali kehormatan sebagai pancer peradaban.
BACA JUGA: Sidang Pencurian Besi Proyek Tol Jogja-Bawen, Alouvie: Bukan di Ruang Tertutup
Saat Indonesia sedang tidak baik-baik saja, wong cilik sering berziarah atau tetirah ke berbagai tempat dimana dulu leluhur Mataram manapaki laku prihatin. Mereka, rakyat kecil itu, ingin menemukan kekuatan diri dengan meneladani para penghulu sejarah Mataram saat menghalau bangsa sabrang yang mencoba mencerai beraikan hubungan kawula-Gusti.
BACA JUGA: Polisi Tidur dan Kekerasan Simbolik
Entah apa yang mereka rasakan saat melihat para pewaris Mataram menerima amanah sejarah sebagai beban sejarah. Sugeng kondur, Sinuwun PB XIII. Mugi tansah kasuwargan, aamiin. (Penulis: Wahjudi Djaja adalah Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada - Kasagama)
