MENJELANG liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) di DIY yang menurut catatan BMKG, musim hujan telah dimulai dan intensitas hujan diperkirakan meningkat, termasuk potensi fenomena La Nina kategori lemah yang terjadi mulai November 2025 hingga Februari 2026. Sedang risiko bencana hidrometeorologi yang mencakup, banjir, tanah longsor, agin puting beliung serta gelombang tinggi di pinggiran pantai Selatan.
BACA JUGA: Danang: Olahraga Bukan Sekadar Kompetisi, Tapi Juga Penghargaan terhadap Individu
Potensi seperti inilah yang harus diwaspadai pengelola destinasi wisata. Mengingat musim liburan Nataru lonjakan wisatawan domestik yang akan mengunjungi destinasi wisata di DIY meningkat dengan tajam.
Alam merupakan sumber utama bagi kehidupan seluruh makhluk hidup. Segala kebutuhan dan keperluan hidup makhluk hidup di dunia ini berasal dari alam.
BACA JUGA: Program Penumbuhan Wirausaha Baru Industri Kecil Bantul Libatkan 450 Peserta
Kerusakan alam akan menjadi kerugian yang sangat besar di kemudian hari.Oleh sebab itu, menjaga alam merupakan hal yang sangat penting agar kehidupan berlangsung tanpa krisis dan berkecukupan.
Kerusakan lingkungan hidup saat ini, telah mencapai pada tingkat yang mengkhawatirkan. laporan Intergovemental Panel on Climate Chane (IPCC) pada 2023 menyebutkan bahwa peningkatan suhu global telah melampaui 1,1 Celsius sejak era pra-industri yang menyebabkan cuaca ekstrem, mencairnya es kutub, naiknya permukaan air laut, serta musnahnya keanekaragaman hayati.
BACA JUGA: Seni Sebagai Resonansi Estetik
Kerusakan alam terjadi karena dua faktor, yakni cuaca dan manusia. Faktor cuaca ekstrim dapat mengakibatkan kerusakan alam seperti pohon tumbang, kebakaran hutan, dsb. Namun, pada dasarnya kelalaian manusialah yang menjadi penyebab utama kerusakan alam.
Kerusakan alam oleh manusia didasari karena eksploitasi berlebihan terhadap alam. Kebutuhan manusia dengan memanfaatkan alam sebagai lahan industri seperti menebang pohon secara besar-besaran tanpa diikuti dengan reboisasi mengakibatkan hutan menjadi gundul. Hutan gundul akan mengakibatkan bencana alam seperti longsor yang dapat merugikan dan merenggut nyawa apabila tidak dicegah sejak dini.
BACA JUGA: Gus Hilmy: Hari Pahlawan, Refleksi Diri untuk Kemajuan Bangsa dan Negara
Selain itu, industri pabrik juga dapat menyebabkan pencemaran air. Pencemaran air terjadi akibat limbah dibuang sembarangan ke aliran sungai dan laut sehingga berdampak pada kesehatan biota sungai dan laut.
Pencemaran air juga terjadi karena perilaku manusia dalam membuang sampah sembarangan ke aliran sungai atau selokan yang mengakibatkan terhambatnya aliran sehingga terjadi banjir.
BACA JUGA: Polisi Tidur dan Kekerasan Simbolik
Kerusakan Alam sebagai Krisis Spiritual
Krisis ekologis yang melanda Tanah Air Kita, tidak hanya merupakan masalah teknis, politik, atau ekonomi, melainkan juga cerminan “krisis spiritual” manusia. Artiya, manusia telah memisahkan dirinya dari relasi alam dan keimanannya dengan Tuhan. Maka alam menjadi objek eksploitasi tanpa sadar bahwa ala mini juga hak miliknya anak cucu kita. Hal ini diungkapkan Allah swt.:
BACA JUGA: PB XIII dan Beban Sejarah Penerus Dinasti Mataram
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. 30: 41)
BACA JUGA: Dokter Gadungan Didakwa Menipu Hingga Setengah Miliar Lebih
Sudah wakunya kita membangun kesadaran ekoteologis dengan cara pertama, pemilahan sampah dengan cara memisahkan antara sampah yang dapat didaur ulang dan pupuk dapat mengurangi limbah sampah yang dibuang. Selain itu, buang sampah pada tempatnya agar terhindar dari bencana banjir dan kebersihan lingkungan terjaga.
BACA JUGA: Ini yang Dibahas Ketika Para Pakar Konstruksi Hadir di Expo, Short Course dan Seminar HAKI DIY
Kedua, reboisasi atau penanaman kembali pada hutan atau tanah yang gundul dapat mencegah dari bencana longsor. Ketiga, tidak membuang limbah ke sungai dan laut. Pabrik harus memaksimalkan pemanfaatan limbah agar tidak terjadi pembuangan secara sembarang dan merusak ekosistem. Keempat, membuat perencanaan terasering terhadap tanah yang memiliki kemiringan agar tidak terjadi erosi akibat kurangnya resapan air dan tanah mudah terkikis. Kelima, menghargai dan mencintai alam sepenuh hati.
BACA JUGA: Logika Politik Campur-Baur
Besar harapan kita bersama, masyarakat semakin tumbuh kesadaran ekoteologis ini seprtinya yang tersurat dalam ayat-ayat ekologi.
Bahkan Nabi Muhammad SAW menujukkan teladan yang luhur dalam hadisnya; “Jika kiamat terjadi dan di tangan salah seorang kalian ada sebatang bibit pohon (kurma), maka jika ia masih mampu untuk tidak berdiri (meninggalkannya) hingga ia menanamnya, maka hendaklah ia menanamnya. (HR. Ahmad dan Anas).
BACA JUGA: Danrem Tinjau Program Hidranisasi dan Pembangunan KDMP di Kebumen
Kemenag RI dan seluruh jajarannya ke bawah sangat peduli dan intensif memperhatikan persoalan lingkungan di Tanah Air kita saat ini. Wallahua’lam. (Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam Kemenag Bantul, DIY)
