Hadapi Kemarau, PDAM Sleman Memetakan Wilayah Rawan Penurunan Tekanan dan Gangguan Pasokan

share on:
Direktur PDAM Tirta Sembada, Edy Nugroho (dua dari kiri) bersama jajaran saat meninjau Instalasi pengolahan air bersih di Bedog, Mlati, Sleman || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Memasuki musim kemarau, PDAM Tirta Sembada Sleman melakukan pemetaan wilayah rawan penurunan tekanan dan gangguan pasokan, berdasarkan beberapa indikator.

"Indikator wilayah rawan gangguan antara lain jarak dari sumber air, elevasi wilayah, kepadatan pelanggan, serta karakteristik jaringan distribusi," ujar Direktur PDAM Tirta Sembada, Edy Nugroho, Senin (13/7/2026).

BACA JUGA: Kisah Hijrah Penjual Sengsu ke Tongseng Ayam, Semua Peralatan Diganti yang Baru

Secara umum kondisi cadangan air tanah di Kabupaten Sleman masih relatif baik karena berada di kawasan lereng Merapi yang memiliki akuifer vulkanik produktif. Namun terdapat beberapa tren yang mulai menjadi perhatian, antara lain penurunan muka air tanah di kawasan urban, meningkatnya kompetisi penggunaan air tanah dengan sumur bor swasta, dan penurunan debit produksi pada puncak musim kemarau. 

BACA JUGA: Menteri LH Jumhur Hidayat Segera Terbitkan Aturan Packaging Recovery Organization

Dalam praktik operasional, wilayah yang berada pada posisi “ujung pipa” menjadi prioritas pemantauan tekanan selama musim kemarau. Prediksi BMKG mengenai potensi kemarau yang lebih panjang dan lebih kering pada tahun 2026 menjadi dasar penting dalam penyusunan langkah antisipasi distribusi air.

BACA JUGA: Tragis, Buruh Tani di Bantul Tewas Tersengat Listrik Saat Mencari Pakan Ternak

"Hingga saat ini belum terdapat laporan publik yang menunjukkan terjadinya krisis signifikan pada seluruh sumur milik PDAM Sleman," ungkapnya.

Edy menjelaskan, wilayah yang diperkirakan paling rentan mengalami penurunan tekanan pada musim kemarau 2026, meliputi wilayah Sleman Barat seperti Kapanewon Godean, Moyudan, dan Seyegan, karena relatif jauh dari sebagian sumber air utama serta jaringan distribusi yang masih terus dikembangkan.

BACA JUGA: Rayakan Setahun Perjalanan, MOX Space Berbagi 100 Paket Makanan di Yogyakarta

"Termasuk kawasan padat penduduk di wilayah Kapanewon Depok dan Ngaglik, yang berpotensi mengalami lonjakan konsumsi air terutama pada jam puncak. Termasuk wilayah dengan elevasi lebih tinggi di bagian utara Sleman seperti Pakem, Turi, dan Cangkringan, yang memerlukan tekanan distribusi lebih besar," jelasnya.

BACA JUGA: SMA Muhi Yogya Awali MPLS dengan Beasiswa Rp 313 Juta bagi Murid Berprestasi

Upaya lain, PDAM Sleman juga mengoptimalkan beberapa sumber dan sistem pendukung seperti di Temon, Kregan dan BR 7 Saren. SPAM Regional Kartamantul yang memanfaatkan air permukaan Sungai Progo memang diposisikan sebagai cadangan strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap air tanah saat musim kemarau.

BACA JUGA: Seskab RI Berikan Pembekalan 511 Calon Perwira Remaja Akmil

"Saat ini suplai SPAM regional menuju Sleman bagian Timur belum sepenuhnya optimal, dengan kapasitas maksimal sekitar 80 liter per detik, sedangkan kebutuhannya telah melampaui 100 liter per detik,"bebernya.

Dalam kondisi kritis atau kekeringan ekstrem, dilakukan koordinasi antara PDAM Sleman dan PDAM Tirtatama Kota Yogyakarta, melalui penambahan debit sementara, redistribusi zona suplai, prioritas layanan untuk fasilitas vital dan kawasan padat pelanggan.

BACA JUGA: Kisah Yusmar, Pemuda Asal Sabu Raijua Lolos Tanpa Tes dan Kuliah Gratis di UGM

Termasuk, kesiapan armada dropping air, dengan menyiagakan armada tangki air untuk membantu pelanggan yang mengalami gangguan distribusi selama musim kemarau. Prioritas bantuan biasanya dialokasikan untuk wilayah tekanan rendah, daerah ujung jaringan, fasilitas umum, dan kawasan padat penduduk. Juga distribusi bantuan air melibatkan BPBD Sleman, pemerintah kapanewon, dan relawan distribusi air.

BACA JUGA: Teater Eska Siap 'Merayakan Seratus Tahun Kabahagiaan' di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Pihaknya juga memanfaatan teknologi pemantauan jaringan PDAM modern, seperti SCADA,sensor tekanan, flow meter digital, District Metered Area (DMA). Di sisi lain masih ada keterbatasan cakupan sensor, jaringan lama, tingkat kehilangan air atau NRW (Non-Revenue Water) yang masih cukup tinggi.

BACA JUGA: Reuni Akbar 'Depok Reborn' Guyub Seduluran Sak Lawase Dihadiri Bupati Harda Kiswaya

"Teknologi PDAM modern berfungsi untuk mendeteksi kebocoran lebih dini, memantau tekanan distribusi, membaca pola konsumsi pelanggan, mendeteksi gangguan layanan sebelum muncul laporan pelanggan," sebutnya.

Langkah strategi ditempuh dengan mengurangi ketergantungan air tanahalam jangka panjang, berfokus pada pengurangan eksploitasi akuifer, peningkatan pemanfaatan air permukaan, dan integrasi sistem SPAM regional.

BACA JUGA: Operasi KRYD, Polres Bantul Tangkap Dua Tersangka dan Sita Puluhan Botol Miras

Untuk menjaga stabilitas layanan pada wilayah ujung jaringan distribusi, PDAM Sleman menyiapkan beberapa langkah teknis, antara lain pemasangan booster pump, pembangunan reservoir zonasi, pressure management, interkoneksi antarjaringan distribusi, pengaturan distribusi berdasarkan pola konsumsi pelanggan.

BACA JUGA: SBNI Gelar Kongres ke-2, Menteri Jumhur: Ambil Peran Terdepan Pemulihan Lingkungan Hidup

Selain itu, dilakukan pula langkah operasional seperti flushing jaringan,pengurangan tingkat kebocoran, pengaturan valve distribusi ketika debit produksi menurun. Khusus wilayah Sleman Barat, optimalisasi suplai dari sistem regional dipandang lebih efektif dibandingkan eksploitasi sumur baru secara terus-menerus.

BACA JUGA: 'Kyai Turunasih' Pemberian Sultan HB X Dijamas di Pendapa Parasamya Sleman

"Secara umum, pasokan air curah melalui SPAM Regional Kartamantul masih berfungsi sebagai sumber pelengkap dan belum menjadi sumber dominan.Diperkirakan kontribusinya masih berada di bawah 30–40 persen dari total produksi distribusi," katanya. (Opo)

 


share on: