Kisah Hijrah Penjual Sengsu ke Tongseng Ayam, Semua Peralatan Diganti yang Baru

share on:
Maryati saat menceritakan proses hijrah dari penjual tongseng anjing atau sengsu || YP-Jauh Hari

Yogyapos.com (YOGYA) - Puluhan tahun Warung Tongseng Mbah Sis menjual sajian tongseng anjing atau Sengsu. Kini, sang pemilik telah hijrah dan menyajikan makanan halal berupa tongseng ayam dan sapi.

BACA JUGA: Milad ke-25, Majelis Taklim Ajimat Arrahmah Selenggarakan Pengajian dan Jalan Sehat

Warung kecil berukuran tak lebih dari 4x4 meter dengan dinding dicat hijau tampak masih sepi. Hanya ada dua orang perempuan paruh baya di warung yang terletak di Jalan Amri Yahya, Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Tepatnya barat Pasar Serangan.

Maryati, salah satunya. Putri sekaligus penerus bisnis tongseng itu sedang mengiris kubis. Sesekali dia mengecek wajan yang digunakan untuk memasak tongseng. Aroma gurih khas rempah-rempah langsung menyeruak ketika wajan diaduk.

BACA JUGA: Pasutri Arif Toto Rahardjo dan Ninoek Sriyani Gulirkan Program Apresiasi Umroh

"Warungnya sudah ada sejak tahun 1977. Ya lokasinya kalau dulu di dalam pasar," kata Maryati membuka percakapan.

Awal mulanya, Warung Mbah Sis menjual sengsu. Lambat laun warung itu menjadi salah satu kuliner sengsu legendaris dan tersohor hingga sampai luar daerah.

Bahkan warung itu menjadi rujukan pecinta sengsu. Sehari, sampai 40 kilogram daging anjing ludes. "Pelanggannya bukan hanya warga Yogya. Luar kota juga banyak. Apalagi kalau hari raya," katanya.

BACA JUGA: Kini Legend! Mbah Dibyo, Dari Rica-rica ke Nasi Kuning

Memilih Insyaf Setelah Ibu Sembuh dari Covid-19

Titik balik perjalanan Maryati dan keluarga dalam bisnis sengsu terjadi pada saat pandemi Corona. Sang ibu, saat itu dinyatakan positif COVID-19 dan mengalami perburukan kondisi kesehatan hingga tak sadarkan diri.

Perawatan intensif dilakukan di RSUP Dr Sardjito. Saat itu, dia menilai harapan ibunya bisa sembuh dan hidup sangat tipis.

“Sudah tidak ada harapan waktu itu diisolasi di Sardjito keadaannya tak sadar. Gak bisa apa-apa keluarga di rumah, keluarga cuma di rumah. Kebanyakan yang diisolasi meninggal harapan hidup tipis,” ujarnya.

BACA JUGA: Reuni Akbar 'Depok Reborn' Guyub Seduluran Sak Lawase Dihadiri Bupati Harda Kiswaya

Tapi, seiring berjalannya waktu, kondisi ibunya semakin membaik. Di situ, Maryati kemudian mengucap nazar untuk berhijrah dan berhenti menjual sengsu setelah melihat ibunya diberikan kesempatan kedua.

“Dikasih kesempatan gitu lho, kasihan ibu saya kalau jualan (daging anjing),” ujarnya sambil menyeka air mata.

Maryati dan keluarga kemudian memilih insyaf dan berhenti berjualan sengsu. Lembaran baru dibuka. Maryati lalu menjual tongseng sapi, tongseng ayam, dan tongseng balungan pitik (tulang ayam).

BACA JUGA: Menteri LH Jumhur Hidayat Segera Terbitkan Aturan Packaging Recovery Organization

Bukan hanya menu, peralatan-peralatan memasak juga diganti semuanya untuk memastikan jualannya benar-benar halal.

"Iya ini alat masak tetap ganti semuanya," katanya.

Dia mengerti, memulai bisnis dari awal bukan hal yang mudah. Meski hanya mengganti bahan utama tongseng, bukan berarti bisnis barunya berjalan lancar. Sesekali langganan lawas kembali. Tapi mereka harus pulang dengan tangan hampa. Atau memilih untuk mencicipi menu halal itu.

BACA JUGA: Teater Eska Siap 'Merayakan Seratus Tahun Kabahagiaan' di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

Tapi, baginya usaha sepi bukan jadi soal. Menurutnya, Tuhan telah memberikan jatah rejeki kepada masing-masing orang.

"Ya kalau sekarang masih ada yang tanya, jual sengsu enggak? Saya jawab udah enggak," katanya.
Meskipun usahanya tak seramai dulu, dia tidak tergoda untuk kembali ke masa itu. Maryati tetap berikhtiar dan istiqomah dengan jalan hijrah yang sudah dipilih. (Jhw)

 


share on: