22 Mahasiswa UNISA Keracunan Makanan, Ini Penjelasan Direktur RS Grhasia

share on:
Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia, Akhmad Akhadi (dua dari kiri) didampingi Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta, Dewi Rokhanawati (kiri) saat memberikan keterangan kepada wartawan di RSJ Grhasia || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (SLEMAN) - Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Grhasia, Akhmad Akhadi membenarkan insiden keracunan puluhan mahasiswa Universitas Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, usai mengonsumsi makanan ringan saat mengikuti kegiatan Early Clinical Exposure (ECE) di lingkungan RSJ Grhasia, Pakem, Sleman.

BACA JUGA: Dwi Manunggal Group Luncurkan 'Jusc dan Mexc', Tingkatkan Target Rp 15 M Setiap Bulan

"Dari total 40 mahasiswa keperawatan yang mengonsumsi makanan, 22 di antaranya mengalami gejala keracunan," kata Akhmad Akhadi dalam konferensi pers di RSJ Grhasia, Senin (5/1/2026).

BACA JUGA: Membedah Wajah Baru Asas Legalitas dalam KUHP Nasional

Hingga  tanggal 5 Januari 2026, dari 22 korban atau orang terdampak yang dirawat inap di beberapa rumah sakit, 20 sudah dipulangkan karena sembuh. "Sekarang masih ada dua yang dirawat,” katanya.

BACA JUGA: Baksos Kesehatan Fakultas Kedokteran UAJY Diikuti 27 Peserta

Kejadian ini bermula saat mahasiswa mengikuti kegiatan ECE pada 29 Desember 2025. Dalam kegiatan tersebut, mereka menerima makanan ringan dari rumah sakit yang dibeli dari pihak ketiga. Gejala yang dirasakan antara lain mual, muntah, diare, demam, dan pusing. 

BACA JUGA: Meyogyakartakan Dunia

"Setelah menyantap snack acara kunjungan studi itu, puluhan mahasiswa tiba-tiba merasakan gejala keracunan berupa muntah-muntah," ungkapnya.

BACA JUGA: Bencana Sumatera: 1.177 Korban Meninggal Dunia, Sejumlah Daerah Transisi Darurat

Menurutnya, terdapat tiga macam snack yang disuguhkan saat kegiatan ECE pada hari ke-7, yakni berupa snack risol mayo, tahu sarang burung, dan banana cake. Risoles disimpan di freezer, lalu digoreng pada Senin pagi dan dikirim ke rumah sakit pada pukul 08.00 WIB.

BACA JUGA: Relawan PT PLN Berhasil Pulihkan Listrik di 15 Masjid Terdampak Bencana Aceh

“Ini yang patut diduga, berdasarkan analisis atau penelusuran.Ditinjau dari aspek perlakuan pengelolaan bahan, snack yang paling rentan menjadi pemicu gangguan kesehatan adalah risol mayo," katanya.

BACA JUGA: Idan Jaya Kusuma Rilis Single Perdana 'Rindu Dia' Terinspirasi dari Doa Ibu

Sampel makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan, saat ini masih diuji di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) Dinas Kesehatan DIY. Kemungkinan, hasil pemeriksaan mikrobiologi bisa dilihat hasilnya pada hari Rabu (7/1/2026).

BACA JUGA: Momentum HAB 2026: Merawat Kerukunan dan Membangun Sinergitas Umat

"Pemeriksaan mikrobiologi membutuhkan biakan, dengan waktu minimal tujuh hari. Kami dijanjikan hari Rabu lusa, hasil dikirim,"urainya.

BACA JUGA: Kejari Bantul Selidiki Dugaan Korupsi di Pemkal Wonokromo, Bupati Serahkan Hasil Audit

Pihaknya menandaskan,  pemicu kejadian masih dalam proses penelusuran dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Sebagai bentuk pertanggungjawaban, pihalnya telah memanggil vendor (penyedia jasa boga). Pihak ketiga menyatakan berkomitmen menanggung biaya perawatan para mahasiswa yang tidak terkover BPJS. 

BACA JUGA: Patrapadi akan Selenggarakan Haul ke-171 Diponegoro, Ini Agenda Besarnya

"Bentuk pertanggungjawaban penyedia adalah, seluruh biaya yang muncul di dalam perawatan yang tidak ditanggung oleh BPJS itu akan melibatkan penyedia sebagai bentuk tanggung jawab. Kemudian sebuah bentuk pemeriksaan dan kemudian kegiatan-kegiatan lain untuk kemudian memulihkan para korban," ujarnya. 

BACA JUGA: Migrasi Aman Diperkuat, BP3MI Sumbar Catat Kinerja Penempatan dan Perlindungan PMI 2025

Sejumlah langkah yang dilakukan berfokus pada keselamatan, kesehatan dan pemulihan kondisi mahasiswa. "Kami berkomitmen untuk bersikap kooperatif dan transparan dalam mendukung proses pemeriksaan yang sedang berlangsung," sebutnya.

BACA JUGA: Kunker Menteri Sakti ke KNMP Pantai Baru Bantul, Disambut Ratusan Nelayan

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta, Dewi Rokhanawati, pada kasus keracunan ini reaksi tubuh para mahasiswa sangat bervariasi. Ada yang langsung merasakan gejala pada sore hari, namun ada pula yang baru jatuh sakit keesokan harinya.

BACA JUGA: KPSPAM Tirto Makmur Tempel Penyedia Air Bersih yang Perlu Diteladani

“Secara umum kondisi mulai stabil, namun dua mahasiswa masih harus menjalani perawatan intensif di RS Sakinah Idaman dan RS PKU Gamping,” sebut Dewi. (Opo)

 

 

 


share on: