Momentum HAB 2026: Merawat Kerukunan dan Membangun Sinergitas Umat

share on:
Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam Kemenag Bantul, Wakil Ketua FKUB Piyungan, Bantul || YP-ist

HARI Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama (Kemenag) diperingati pada 3 Januari setiap tahunnya. Peringatan ini dimaksudkan sebagai pengingat hari berdirinya Kementerian Agama RI. Tahun 2026, Kemenag telah memasuki usia yang ke-80. Dilansir dari laman resmi Kemenag, lembaga ini terbentuk di masa Kabinet Sjahrir II berdasarkan surat Penetapan Pemerintah Nomor 1 tanggal 3 Januari 1946.

BACA JUGA: Patrapadi akan Selenggarakan Haul ke-171 Diponegoro, Ini Agenda Besarnya

Untuk memperingati momentum ini, Kemenag merilis logo dan tema yang berbeda setiap tahunnya. Berdasarkan surat edaran (SE) Nomor 39 Tahun 2025 tentang Peringatan Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama RI Tahun 2026, tema atau tagline HAB ke-80 Kemenag adalah "Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju".

BACA JUGA: Kejari Bantul Selidiki Dugaan Korupsi di Pemkal Wonokromo, Bupati Serahkan Hasil Audit

Tema tersebut sangat pas untuk kondisi kita saat ini. Karena dengan kerukunan umat beragama di Tanah Air ini juga kekuatan bangunan untuk bisenergi dari berbagai potensi umat yang ada kita bisa berharap akan tercapainya Indonesia yang damai dan maju.

Hal ini telah tampak pada kesiapsiagaan bangsa Indonesia yang berempati dan bersimpati untuk terus ikut aktif dalam penanganan musibah banjir bandang dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

BACA JUGA: Kunker Menteri Sakti ke KNMP Pantai Baru Bantul, Disambut Ratusan Nelayan

Berbagai ormas keagamaan saling bahu membahu jadi relawan yang menggalang dana dan menyalurkannya ke Lokasi bencana. Dari perkumpulan ibu-ibu majelis taklim di pelosok pedesaan dan perkotaan,  ormas-ormas sperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dll., bahkan para aktris, aktivis perorangan, semuanya memperhatikan untuk membantu kebutuhan dasar para korban banjir dan longsor. Mereka sudah tidak berpikir agamanya apa? Suku apa? Pilihan politiknya apa? Yang mereka tahu Adalah mereka “saudara kita” bangsa Indonesia.

BACA JUGA: Migrasi Aman Diperkuat, BP3MI Sumbar Catat Kinerja Penempatan dan Perlindungan PMI 2025

Bahkan perayaan pergantian tahun 2026 secara nasional dihimbau sangat sederhana, jangan menyalakan kembang api yang mahal, karena berempati dengan saudara-saudara kita yang di Lokasi bencana saat ini. Ini Adalah ikhtiar Kemenag RI untuk merawat kerukunan dan membangun sinergitas umat untuk menuju Indonesia damai dan maju.

BACA JUGA: Pemkal Girikerto Sleman Melaunching 'Semar Ndalil' untuk Ketahanan Pangan

Urgensi Kerukuan Umat menurut Islam

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat : 13).

BACA JUGA: Warga Dusun Sedan Mengawali Tahun 2026 dengan Pengajian

Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikannya berbangsa-bangsa, bersuku-suku, dan berbeda-beda warna kulit bukan untuk saling mencemoohkan, tetapi supaya saling mengenal dan menolong. Allah tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya karena yang paling mulia di antara manusia di sisi Allah hanyalah orang yang paling bertakwa kepada-Nya.

BACA JUGA: Wasis Ridho Dikukuhkan Sebagai Ketua Umum Yayasan Atshindo Sehati Indonesia Sleman

Dari ayat itupun jelaslah bahwa berbeda itu sebuah keniscayaan. Berbeda warna kulit, ras, suku bangsa, berbeda bahasa, berbeda adat budaya, dan bahkan berbeda agama dan keyakainan. Yang terakhir ini, yang tadi saya sebutkan yakni berbeda agama dan keyakinan sering menjadi sebuah pemicu terjadi konflik baik vertical maupun horizontal.

BACA JUGA: Tanpa Jarak, Presiden Prabowo Habiskan Malam Tahun Baru Bersama Warga di Posko Pengungsian

Saya yakin, perbedaan ras, suku dan budaya di tengah-tengah kemajemukan Indonesia sudah selesai. Tetapi berbeda agama dan keyakinan sekali lagi masih menjadi titik potensi konflik, yang sekali-kali bisa meletup ke permukaan. Oleh karenanya diperlukan kearifan dan kesadaran kolektif dari kita bersama bahwa berbeda itu sebuah keniscayaan atau dalam teks agama disebut dengan sunnatullah.

BACA JUGA: MI Ma'arif Sambeng Bantul Gelar Kenaikan Tingkat Santri Pagar Nusa

Sikap berlapang dada menerima segala perbedaan yang ada, dalam terminologi Islam dikenal dengan tasammuh atau lazim disebut toleransi. Kaitannya dengan perbedaan keyakinan agama, ada tiga macam kerukunan umat beragama. Yakni ; kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan umat beragama dengan pemerintah. (Muhammad Nasyir Syam: 2023)

BACA JUGA: Korem 072/Pmk Lakukan Aktivasi Aplikasi Coretax Demi Capaian Tertib Pajak

Menjaga kerukunan adalah tugas bersama. Masyarakat perlu terus menumbuhkan sikap saling menghargai dan terbuka terhadap perbedaan. Pendidikan toleransi sejak dini, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah, menjadi langkah awal yang sangat penting.

Di sisi lain, pemerintah juga memiliki peran strategis. Penegakan hukum terhadap pelanggaran kebebasan beragama harus dilakukan secara tegas dan adil. Selain itu, forum-forum lintas agama seperti FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) harus diberdayakan lebih optimal sebagai wadah dialog dan penyelesaian masalah secara damai.

BACA JUGA: Relawan PT PLN Berhasil Pulihkan Listrik di 15 Masjid Terdampak Bencana Aceh

Media, baik konvensional maupun digital, memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk opini publik. Penyajian berita yang berimbang, tidak provokatif, serta menonjolkan nilai-nilai toleransi dan keberagaman dapat menjadi alat penting dalam merawat kerukunan.

Sebaliknya, penyebaran hoaks, narasi kebencian, atau konten yang memecah belah harus dilawan bersama melalui literasi digital dan penguatan etika jurnalistik.(Galuh12, Suara Indonesia Merdeka: 2025)

BACA JUGA: Otopsi Sosial 2025 Menuju Indonesia Versi Baru

Kerukunan umat beragama adalah aset bangsa yang tak ternilai. Di tengah dunia yang semakin kompleks, menjaga harmoni sosial di Indonesia membutuhkan komitmen semua pihak. Dengan semangat gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan, kita bisa terus membangun Indonesia yang damai, adil, dan bersatu. (Arief Fauzi Marzuki, Penyuluh Agama Islam Kemenag Bantul, Wakil Ketua FKUB Piyungan, Bantul)


share on: