Yogyapos.com (YOGYA) - Keberadaan Kelompok Kerja (Pokja) Ketahanan Ekonomi Kesbangpol DIY memiliki peran krusial sebagai wadah koordinasi lintas sektor dalam merumuskan kebijakan dan strategi ketahanan ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan Kepala Bidang Ketahanan Sosial Budaya dan Ekonomi Kesbangpol DIY, Sih Utami saat membuka Rapat Kerja Pokja di Ruang Rapat Nakula, di Kantor Kesbangpol setempat, Selasa (15/4/2025).
BACA JUGA: Syahganda Nainggolan: Prabowo Berpeluang Jadi Pemimpin Dunia
Raker kali ini mengusung tema “Optimalisasi Kelompok Kerja Ketahanan Ekonomi DIY dalam Membangun Ekosistem Ketahanan Ekonomi yang Berkelanjutan”. Menghadirkan tiga narasumber, antara lain Wahjudi Djaja anggota Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS), Jamaludin Nur Ridho Petani Milenial dan Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun W.
BACA JUGA: Lurah Trihanggo dan Pengusaha Hiburan Malam Ditahan, Ini Penyebabnya
"Sinergitas yang dibangun oleh Pokja ini tidak hanya bermanfaat dalam menghadapi tantangan ekonomi yang ada, tetapi juga dapat mengatasi konflik ketahanan ekonomi dengan membangun ekosistem ketahanan ekonomi yang berkelanjutan," kata Sih Utami.
BACA JUGA: Advokat Wulandari Upayakan Penangguhan Penahanan Bos Kelab Malam
Kabupaten Kulonprogo dengan karakteristik pedesaan dan sektor ekonomi yang banyak bergantung pada pertanian memberikan perspektif yang berbeda dalam menilai harmoni sosial dan kesejahteraan.
BACA JUGA: Tabrak Truk dari Belakang, Pemotor Cidera Kaki dan Kepala
Kabupaten Bantul dikenal dengan perkembangan urbanisasi dan sektor pariwisata yang pesat sehingga penting untuk mengetahui pengelolaan potensi konflik yang mungkin timbul akibat perubahan sosial-ekonomi. Kabupaten Gunungkidul yang terkenal dengan potensi wisata alam dan budaya penting untuk dipahami pengelolaannya terhadap pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
BACA JUGA: Nah! Ketua PN Jaksel, Oknum Advokat dan Panitera Ditangkap Tim Kejagung
"Terakhir, Kabupaten Sleman, yakni suatu Kawasan perkotaan yang berkembang pesat serta keberadaan institusi perguruan tinggi memberikan wawasan mengenai interaksi antara tradisi lokal dan moderanitas serta tantangan dalam menjaga harmoni di tengah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang pesat," jelasnya.
Para narasumber raker || YP-Eko Purwono
Berbagai karakteristik ini menjadi semakin kompleks mengingat perbedaan karakteristik dan masalah sosial yang dihadapi baik oleh masyarakat perkotaan maupun pedesaan.
BACA JUGA: Syawalan IKA Muga 86, Terus Berupaya Ikut Memajukan Almamater
"Hal yang paling menonjol akibat adanya perbedaan karakteristik antar wilayah ini yaitu ketimpangan ekonomi," katanya.
Ketimpangan ekonomi yang terjadi dapat memperburuk ketegangan sosial, yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial dan politik di DIY. Fenomena ini mengindikasikan adanya potensi konflik ketahanan ekonomi yang perlu diwaspadai.
BACA JUGA: 144 CPNS Terima SK, Bupati Harda Berpesan Segera Adaptasi
Di satu sisi, kemiskinan yang tinggi di perkotaan seringkali berkaitan dengan tantangan struktural dalam sektor ekonomi, seperti terbatasnya lapangan pekerjaan, inflasi, dan ketidakmerataan pembangunan.
BACA JUGA: Rosse Bambu, Sentra Kerajinan Ikonik di Seyegan Sleman
"Sementara itu, di daerah pedesaan, meskipun jumlahnya lebih sedikit, kemiskinan sering kali lebih terkait dengan keterbatasan akses terhadap layanan dasar, infrastruktur yang kurang memadai, dan ketergantungan pada sektor pertanian yang rentan terhadap perubahan iklim dan fluktuasi harga pasar,"ucapnya.
BACA JUGA: Nah! Ketua PN Jaksel, Oknum Advokat dan Panitera Ditangkap Tim Kejagung
Dari berbagai fenomena tersebut penting untuk diidentifikasi dan ditangani secara strategis faktor-faktor yang menyebabkan ketimpangan ekonomi agar potensi konflik tersebut dapat diminimalisir untuk mewujudkan ketahanan ekonomi berkelanjutan.
BACA JUGA: Pemberlakuan Tarif Timbal Balik oleh Amerika Serikat, Ini Respons KSPSI
"Rapat Kerja Pokja Ketahanan Ekonomi pada hari ini merupakan hal penting dalam perjalanan kita sebagai bagian dari upaya untuk membangun dan memperkuat ketahanan ekonomi," jelasnya.
BACA JUGA: Novel Dawuk Terbit di India, Tiga Kali Dibedah di Kalinga Literary Festival
Untuk mewujudkan suatu ketahanan ekonomi perlu terbangun suatu ekosistem yang kuat yang berasal dari berbagai dimensi yaitu dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi budaya, dan dimensi lingkungan sehingga ketahanan ekonomi dapat terbangun secara berkelanjutan, harmonis, dan nir-konflik.
BACA JUGA: Event POPKAB Bantul Gunakan 32 Lapangan, Diikuti 3.000 Atlet
"Sinergitas yang dibangun oleh Pokja ini tidak hanya bermanfaat dalam menghadapi tantangan ekonomi yang ada, tetapi juga dapat mengatasi konflik ketahanan ekonomi dengan membangun ekosistem ketahanan ekonomi yang berkelanjutan," sambungnya. (Opo)
