Novel Dawuk Terbit di India, Tiga Kali Dibedah di Kalinga Literary Festival

share on:

Yogyapos.com (YOGYA) - Novel ‘Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu’ karya sastrawan Yogyakarta Mahfud Ikhwan go international. Bulan lalu ia terbang ke India. Menghadiri acara Kalinga Literary Festival di Bangalore pada 21-25 Maret 2025. Sebuah acara Festival Literasi Tahunan yang dihadiri oleh para penulis, penerbit, pegiat literasi, dan pelaku kebudayaan. 

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh salah satu penerbit buku sastra di New Delhi untuk menerbitkan dan meluncurkan buku Dawuk versi Bahasa Inggris. Dengan sedikit perubahan pada judul novel. Novel Dawuk diluncurkan pada momentum yang tepat. 

BACA JUGA: Hengki Widhi Masuk Dosen Hukum Favorit 2024

Dawuk adalah karya pertama Mahfud Ikhwan yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Oleh penerbitnya di New Delhi diberi judul A Dark Tale from CottonWood Grove. Kata Dawuk dihilangkan oleh penerbit atas pertimbangan pasar pembaca. 

Kalinga Litetary Festival Bangalore adalah agenda prestisius bagi para pegiat sastra dan literasi di India. Dalam acara yang berlangsung sepekan itu puluhan penerbit, penulis, penerbit,  komunitas pembaca, dan pegiat literasi lainnya berkumpul dan berdiskusi tentang kepenulisan dan kesusastraan.

Peroleh support Among Kurnia Ebo || YP-Ist

Novel Dawuk mendapatkan kesempatan dibedah tiga kali dalam festival ini. Tiap sesi membedah dengan perspektif yang berbeda. Satu sesi menampilkan Mahfud Ikhwan sebagai pengarang. Sesi lainnya dari sisi kritikus dan pembaca.

BACA JUGA: Pengurus Daerah dan Cabang IKPI di DIY Resmi Dilantik

"Bahasa Inggris saya terbatas, tapi untungnya mereka paham. Jadi, diskusi berjalan lancar dan cair," ucap Mahfud, Jumat (11/4/2025). 

Bagi Mahfud, menghadiri acara Kalinga Literary Festival di Bangalore adalah keberuntungan, kejutan, dan reputasi. Tak ada pikiran atau bayangan sebelumnya. Semua terjadi mengalir begitu saja. 

BACA JUGA: SMA KTB Polri Tempati Gedung Sementara di Kaliurang

Selain menghadiri acara peluncuran novelnya, dalam Kalinga festival ini Mahfud berkesempatan bisa bertemu dengan sejumlah penulis India ternama yang selama ini hanya ia baca karyanya. Mahfud juga sempat mendapatkan jamuan makan malam dari Duta Besar RI untuk India, Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, yang terbang dari New Delhi untuk memberi dukungan secara langsung kepada sastrawan dan pelaku seni dari Indonesia yang diundang hadir ke festival. 

BACA JUGA: Mahasiswa Singapura pun Kepincut Seni Batik, Ini Buktinya

Mahfud bercerita, orang yang turut berjasa atas terbitnya Dawuk dalam bahasa Inggris  ini adalah Annie Tucker seorang kritikus sastra dari Amerika yang intens mengamati perkembangan sastra Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir. 

"Tucker yang minta ijin menerjemahkan dan menerbitkan Dawuk dalam bahasa Inggris untuk  penerbit buku di New Delhi. Dawuk dipilih karena selain teknis kepenulisannya juga karena ada beberapa faktor yang related dengan pembaca India. Misalnya, ocehan Warto Kampung di warung kopi tentang genre musik India, lagu-lagu India, artis-artis India, film-film India, yang selalu menjadi bahan obrolan untuk sesama pengunjung warung. Jadi, secara konten dan konteks membuat penerbit India itu tertarik,” ujar Mahfud. 

Flayer bedah novel karya Mahfud Ikhwal || YP-Ist

Dalam versi Bahasa Inggris judul Dawuk sengaja dihilangkan. Penerbit memberi  judul novel ini A Dark Tale from the CottonWood Grove. "Itu hal biasa dalam dunia penerbitan buku. Tidak menjadi masalah sepanjang penulisnya tidak mempermasalahkan. Namanya adaptasi. Termasuk judul pun boleh diadaptasi. Pertimbangan penerbit biasanya dari aspek pasar, " jelasnya. 

BACA JUGA: Putri Tionghoa Indonesia Singing Competition 2025 Angkat Lagu Jennifer Aurelia

Sebelum diluncurkan secara resmi oleh penerbit, novel Dawuk versi Inggris ini sempat dilaunching secara daring atas permintaan Quill and Canvas Book Club sebagai pemanasan untuk mengenalkan novel ini kepada pembaca sastra di India. Mahfud dan Tucker melakukan diskusi zoom selama satu jam di pertengahan Maret 2025.

BACA JUGA: SnowBall Didominasi Remaja Belia, Segera Luncurkan 4 Single Baru

Mahfud Ikhwan adalah penulis dan novelis kelahiran Lembor, Brondong, Lamongan, Jawa Timur dan sudah tinggal di Yogya 25 tahun. Namanya moncer di belantara Sastra Indonesia berkat novelnya Kambing & Hujan, yang menjadi pemenang Lomba Penulisan Sastra Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014.

Novel Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu adalah karya berikutnya yang meraih penghargaan juara pertama Kusala Sastra Katulistiwa Award pada tahun 2017. Tahun 2021 ia mendapatkan lagi penghargaan Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa atas novelnya Anwar Tohari Mencari Mati. Terakhir pertengahan tahun 2024 lalu Mahfud mendapatkan penghargaan Anugerah Kebudayaan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X Yogyakarta. 

BACA JUGA: Prof Muhammad Naim: Jadikan Imsak Sebagai Kepribadian Muslimin

Novelnya Ulid Tak Ingin ke Malaysia adalah karya pertamanya yang ditulis ketika masih menjadi mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada sempat diincar production house untuk diadaptasi menjadi film layar lebar. Mahfud kini tinggal di Yogyakarta tapi masih sering bolak-balik ke Lamongan ketika ada acara literasi di kota Soto itu. Ia tidak melupakan kampung halamannya sekaligus memberi support penulis-penulis daerah agar terus berkarya. (*/Red)


share on: