Yogyapos.com (YOGYA) - Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) menerima Anugerah Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2025 dalam kategori Penghargaan Upakarya Budaya. Anugerah Kebudayaan diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
BACA JUGA: Polisi Tangkap 4 Orang Terduga Pelaku Pembunuhan di Wirobrajan Yogya
Pelaksanaan pemberian penghargaan dilakukan oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X selaku Wakil Gubernur DIY dan diterima Tomy Widiyatno Taslim pendiri FFPJ. Acara diselenggarakan di Bangsal Kepatihan Yogyakarta, Senin (1/12), yang dihadiri juga oleh 27 penerima penghargaan lainnya.
BACA JUGA: Sekolah Lansia Sleman Mewisuda 474 Siswa
“Penghargaan ini merupakan hadiah bagi FFPJ yang memasuki usia 17 tahun. Tak menyangka, bahwa kerja-kerja sederhana dengan semangat silaturahmi, belajar bersama, dan berbagi di FFPJ mendapatkan perhatian Pemda DIY, khususnya Dinas Kebudayaan. Semoga penghargaan ini menambah semangat para volunteer dan partisipan FFPJ untuk terus berproses dengan rendah hati dan menjaga nilai-nilai yang selama ini diyakini, yaitu kemandirian, gotong royong, toleransi, persahabatan, dan perdamaian,” kata Tomy melalui rilis yang diterima yogyapos.com, Selasa (3/12/2025).
BACA JUGA: Seni Jembatan Harapan, Yogyakarta Tuan Rumah Persahabatan Ukraina-Indonesia
Dalam sambutannya, KGPAA Paku Alam X menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh penerima penghargaan. Beliau juga membacakan arahan Gubernur DIY Sultan HB X.
BACA JUGA: Tabrakan Karambol di Jalan Laksda Adisucipto Janti, Tiga Orang Meninggal
“Pemberian anugerah ini bukan semata acara seremonial. Penyelenggaraan Anugerah Kebudayaan DIY merupakan wujud komitmen Pemda DIY dalam menyukseskan amanat Keistimewaan. Aspek kebudayaan adalah hal khusus yang diprioritaskan,” katanya.
BACA JUGA: Tim BPK RI Sambangi Makorem 072/Pmk, Ini yang Dilakukan
Paku Alam X juga menambahkan, bahwa para pelaku budaya merupakan penjaga harmoni kehidupan seperti yang tertulis dalam falsafah Memayu Hayuning Bawana. Falsafah ini menggarisbawahi bahwa kebudayaan merupakan cara untuk merawat hubungan manusia, alam, dan nilai-nilai kemanusiaan di sekitarnya.
Para penerima Anugerah Kebudayaan DIY 2025 || YP-Humas Pemda DIY
Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Laksmi Pratiwi menyampaikan, bahwa pemberian penghargaan ini dilakukan melalui serangkaian proses yang terukur. Para pengusul, penilai, dan juri utama melakukan penelitian yang cermat kepada seluruh kandidat sampai dengan penentuan yang terpilih. Dian juga menegaskan bahwa pemberian penghargaan ini merupakan salah satu komitmen negara dalam bidang kebudayaan.
BACA JUGA: Viral Aliran Air Buk Renteng Luber, Begini Penjelasan BPBD Sleman
“Anugerah Kebudayaan ini memegang peran penting dalam pemajuan kebudayaan. Negara hadir memberikan pengakuan, dan para pelaku budaya mendapatkan ruang untuk terus berkarya. Merekalah penjaga identitas budaya sekaligus perawat nilai-nilai kebudayaan. Anugerah ini menjadi bentuk penghormatan dan dukungan negara terhadap peran mereka,” jelas Dian.
BACA JUGA: Rapimnas Parekraf KSPSI 2025 Mengusung Tema Pariwisata Hijau di Hotel Hilton
Dian menambahkan, Anugerah Kebudayaan DIY 2025 menegaskan kebudayaan adalah napas keberlanjutan DIY. Para penerima penghargaan menjadi contoh bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan seiring, menjaga warisan sekaligus mencipta masa depan. Pemda DIY berharap semakin banyak pelaku budaya yang terfasilitasi dan semakin kuat ekosistem kebudayaan sebagai fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan.
BACA JUGA: Cinta Budaya Sunda, Aisha Kamila Rilis Album 'Sosobatan'
Selain FFPJ, penerima penghargaan lainnya total berjumlah 28 orang dan lembaga. Selengkapnya adalah Prof Dr I Made Bandem MA – pelestari seni pertunjukan, GKBRAA Paku Alam – pelestari seni batik, Ir Suyata – cagar budaya dan warisan budaya, Sutrisno – kesehatan tradisional, Tuwuh Hartoyo – kesehatan tradisional, Dr Sumaryono MA – seni pertunjukan tradisi, Jumaldi Alfi SSn – seni rupa, Sapridal Banua SSn – sastra, Supana – seni pengrajin topeng, Muhidin M. Dahlan (Warung Arsip) – kearsipan.
BACA JUGA: Kuasa Hukum Terdakwa Korupsi Bandwidth Sleman Memohon Hakim Batalkan Dakwaan Jaksa
Kemudian T.O. Suprapto – pertanian, Wregas Bhanuteja – seni media film, Wardhani Kusumaningris – pendidikan seni pertunjukan wayang wong, Maria Tri Widayati (Komunitas Kandang Kebo) – pelestari cagar budaya, Suparno – seni pertunjukan wayang topeng pedhalangan, Misbach Tamrin – seni rupa, Didik Rubiyanto – pertanian, Sosro Warsito – pelestari adat tradisi pengrajin blangkon, Wisto Utomo (Paguyuban Remeng Mangunjoyo – Wayang Beber) – pelestari adat tradisi wayang beber, Listiani Sintawati SH – adat tradisi rias gagrak Yogyakarta, Mochamad Djohansyah/Sawung Jabo – pertunjukan music, Sugiharto – lingkungan hidup, Tomy Widiyatno Taslim (Festival Film Pelajar Jogja) – seni media film, Harian Kedaulatan Rakyat – H Idham Samawi (Dirut) – media, Prof Dr Drs RM Pramutomo MHum (Siswa Among Beksa) – pendidikan tari klasik, RAy Nawangsasi Notohadiprawiro SE (Perkumpulan Kesenian Krida Beksa Wirama) – pendidikan tari klasik, Djoko Waluyo – seni pertunjukan musik tradisional, dan Whani Hari Dharmawan – seni pertunjukan. (*)
