Yogyapos.com (SLEMAN) -Pesantren Bumi Cendekia di Gombang, Rajeklor, Sleman, Jumat (17/10/2025) sore, itu terasa hangat oleh tawa, pelukan, dan percakapan yang sarat kenangan. Satu per satu sahabat, murid, dan kolega KH M Imam Aziz berdatangan menghadiri acara “Launching & Diskusi Buku – Temu Sahabat KH Imam Aziz”.
Di antara mereka, ada yang membawa cerita lama, ada yang datang dengan haru dan rindu, namun semuanya hadir dengan satu niat yang sama: mengenang sosok kiai rakyat yang telah mengabdikan hidupnya untuk rakyat.
BACA JUGA: Unjuk Rasa Ratusan Penambang di BBWSSO Yogyakarta, Sempat Diwarnai Blokade Jalan
Acara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan 100 hari wafatnya KH. Imam Aziz, momentum peluncuran dua buku ini upaya yang merekam jejak pemikiran dan kiprah beliau.
Buku pertama berjudul “Jejak Kiai Rakjat (KH Imam Aziz dalam Kenangan)”, berisi kumpulan obituari dari sahabat, murid, dan kolega yang pernah berjalan bersamanya. Di dalamnya, KH. Imam Aziz tampil sebagai sosok ulama yang sederhana namun tajam dalam berpikir, lembut dalam bertindak, dan tegas dalam membela nilai kemanusiaan.
BACA JUGA: Dari Launching 'Anjing Berbukit Kabut', Afnan akan Terus Berteriak
Sementara buku kedua, “Sing Apik Dienggo, Sing Elek Dibuwang”, menyingkap sisi lain dari intelektualitasnya — berupa refleksi teologis dan sosial yang ditulis sejak muda. Di dalamnya, KH. Imam Aziz berbicara tentang teologi rekonsiliasi, gerakan sosial, serta masa depan Nahdlatul Ulama (NU).
Tulisan-tulisan itu tidak hanya mencerminkan kecendekiaannya, tetapi juga komitmen moralnya terhadap keadilan dan keberpihakan pada yang lemah.
Flyer acara || YP-Ist
Diskusi buku berlangsung hangat dan penuh makna. Hadir sebagai pemantik adalah Alissa Wahid, Made Supriatma, Aris Arif Mundayat, Didid Dananto, dan Ahmad Nashih Luthfi, dengan Heru Prasetia (Gusdurian) sebagai moderator.
BACA JUGA: Advokat Rizal Bagus Putranto SH Puas Dapat Mendamaikan Dua Pihak Berperkara
Sedangkan acara Temu Sahabat KH Imam Aziz di pandu oleh Hairus Salim. Para hadirin berbagi kisah tentang KH. Imam Aziz — mulai dari humor-humornya yang khas hingga pemikiran-pemikirannya yang tetap relevan di tengah dinamika sosial hari ini. Suasana menjadi semakin hidup ketika para peserta saling menambahkan kenangan pribadi, menghadirkan kembali sosok sang kiai lewat kata-kata dan cerita.
Salah satu panitia Markijok Rumekso Setyadi dari Syarikat Indonesia mengungkapkan “KH. Imam Aziz adalah milik semua orang yang pernah mengenal, bekerja, dan bersinggungan dengannya.
“Seratus hari sejak beliau meninggal, rasanya ia masih hadir di tengah kita — hanya saja kini dalam diam, sementara kita semua memperbincangkannya, tuturnya.
BACA JUGA: Kecam Tayangan Trans7, Gus Hilmy: Melukai Martabat Pesantren
Markijok juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan dalam penyelenggaraan acara yang berlangsung sederhana namun khidmat itu.
Refleksi dan Perayaan Hidup yang Diteruskan
Acara diskusi ini bukan hanya tentang mengenang, tetapi juga melanjutkan semangat yang pernah diajarkan KH. Imam Aziz: berpikir terbuka, bekerja untuk sesama, dan beragama dengan kasih sayang.
BACA JUGA: Tersangka Pemalsu Surat Kekancingan Sultan Ground Ditahan di Mapolda DIY
Karena itu, rangkaian kegiatan peringatan 100 hari wafat beliau juga diisi dengan Simaan Al-Qur’an, bazar produk lokal, dan bakti sosial pemeriksaan kesehatan bagi lansia dan balita.
Sebanyak 75 lansia menerima paket sembako, sementara 25 balita mengikuti program perbaikan gizi yang digelar pada Kamis (16/10/2025).
Jumat pagi hingga siang, sebelum diskusi buku dimulai, suasana pesantren diliputi khusyuk dengan tahlil dan mujahadah, serta pengajian oleh KH. Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf). Dalam kesempatan yang sama, KH Ma’ruf Amin turut memberikan testimoni mengenang keteladanan almarhum dalam perjuangan sosial-keagamaan.
BACA JUGA: Perisai SI Siap Kirim 1.000 Relawan ke Palestina, Dukung Sikap Prabowo
Puncak peringatan ditandai dengan Salat Jumat perdana di Masjid baru Pesantren Bumi Cendekia, yang kemudian diresmikan oleh KH Mas’ud Masduki, KH. Muhammad Yusuf Chudlori, dan Nyai Hj. Alissa Wahid.
Warisan yang Terus Hidup
Dalam setiap obrolan dan kenangan yang dibagikan hari itu, nama KH. Imam Aziz terus hidup — tidak hanya dalam dua buku yang diluncurkan, tetapi juga dalam semangat kolektif para sahabat dan santrinya.
BACA JUGA: Perkumpulan Masyarakat Batang dan Kemendag Gelar Rakor Percepatan Ekonomi
Kolaborasi dari berbagai lembaga seperti Lakpesdam NU, LKIS, Syarikat Indonesia, PMI, Rajawali Indonesia, dan TV9 Nusantara menjadi bukti bahwa gagasan-gagasan beliau tetap menginspirasi lintas generasi.
Pesantren Bumi Cendekia berharap acara ini menjadi pengingat bahwa warisan terbesar KH M Imam Aziz bukan hanya tulisan dan gagasan, tetapi teladan hidup — tentang bagaimana ilmu, amal, dan kemanusiaan bisa berpadu dalam satu napas perjuangan. (Markaban Anwar)
