Dari Launching 'Anjing Berbukit Kabut', Afnan akan Terus Berteriak

share on:
Penyair Afnan Malay (tengah) bersama Tri Agus Susanto (kiri) dan Raudal Tanjung Banua dalam sesi diskusi launching antologi 'Angjing Berkabut Bukit' di i Ruang Literasi Kaliurang, Jumat (17/10/2025) || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (SLEMAN) - Diakui sebagai penyair yang terlambat, tak mengurangi daya kritis dan keberanian Afnan Malay dalam menyuarakan ketakadilan, penumpulan nalar dan ketawajaran dalam hidup. Dalam beberapa hal, produktivitasnya dalam berkarya melampaui para penyair yang lebih lama eksis di dunia sastra.

BACA JUGA: Advokat Rizal Bagus Putranto SH Puas Dapat Mendamaikan Dua Pihak Berperkara

Demikian benang merah peluncuran antologi Anjing Berbukit Kabut karya Afnan Malay, di Ruang Literasi Kaliurang, Jumat (17/10/2025) sore. Hadir para aktivis, penyair, kolega dan gen Z yang memenuhi ruang terbuka tersebut.

Dipandu Tri Agus Susanto, Afnan menyampaikan kebebasannya dalam berkarya. "Orang hanya mengenal saya sebagai demonstran, padahal saya ini juga lawyer, penulis opini dan penyair. Era 1980-an tidak mudah untuk memperoleh predikat penyair di Yogyakarta. Ada pengadilan puisi. Orang yang puisinya jelek pun bisa memaki dan mengolok puisi saya. Bagi saya sih tak masalah, saya akan terus menulis dan berkarya karena itu tugas saya,” tandasnya.

Mantan Ketua Teater Eska Aly D Musrifah ikut membacakan puisi karya Afnan || YP-Wahjudi Djaja

Lahir dalam tradisi Minangkabau, lanjutnya, tak ada kesulitan untuk membuat puisi. "Menulis puisi atau pantun itu bagi kami seperti menulis biasa saja. Tiap hari kami melakukannya, meski kadang menemukan gaya penulisan yang kontradiktif. Begitu masuk Yogyakarta saya mengalami pengayaan," jelasnya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-perisai-si-siap-kirim-1000-relawan-ke-palestina-dukung-sikap-prabowo-18205

Raudal Tanjung Banua yang membahas puisi-puisi Afnan mengakui ada perubahan dan kebebasan dalam antologinya.

"Afnan hadir lebih bebas dalam berkarya. Ia tidak terjebak pada model penulisan puisi yang kaku tetapi mengalir bebas menentukan gayanya,” jelasnya sambil membandingkan beberapa puisi yang ada. 

Peluncuran yang dipandu Savitri Damayanti itu dimeriahkan duet Memet Khairul Slamet dan Ana Ratri, Nunung Rieta, Labibah Zain, Aly D Musyrifa dan Wahjudi Djaja. Belum lama acara dibuka, hujan turun sehingga pindah ke dalam ruang multimedia. (Iud)


share on: