INI pembicaraan tentang sastra ilmu, sastra yang mengandung ilmu. Jadi, bukan pembicaraan tentang ilmu sastra. Walaupun dalam memahami sastra ilmu, perlu pengetahuan tentang ilmu sastra. Saya akan mulai dengan beberapa ilustrasi.
BACA JUGA: Hj Titiek Soeharto Safari Gemarikan di Kulonprogo, Begini Pesannya
Suatu hari, saya diminta berbicara tentang kebudayaan Irak. Sudah agak lama, yakni beberapa bulan setelah Irak perang lawan Amerika. Berbicara tentang kebudayaan, insyaallah, saya sanggup. Tapi, bicara tentang kebudayaan Irak, saya hampir tidak punya pengetahuan tentang itu. Setelah saya berpikir sejenak, saya memutuskan bersedia. Saya anggap itu tantangan.
BACA JUGA: SMAN 2 Sleman Peroleh Bantuan Seperangkat Gamelan dari GKR Hemas
Membaca buku-buku tentang kebudayaan Irak, tentu membutuhkan waktu cukup. Sementara, waktu yang tersedia cuma tiga minggu. Setelah saya memutar otak, saya berspekulasi mengumpulkan cerpen dan novel dari dan tentang Irak. Setelah terkumpul, hampir dua minggu saya membaca cerpen dan novel Irak tersebut.
Setelah selesai suntuk dua minggu, saya membuat catatan-catatan kecil terkait pembacaan saya. Tibalah waktunya saya harus berseminar tentang kebudayaan Irak. Apa yang saya pahami berdasarkan novel dan cerpen tersebut saya sampaikan dengan detil.
BACA JUGA: Inspektorat dan KPK Gelar Bimtek, Anggota DPRD Sleman Wajib Paham
Dengan sedikit “sok tahu” saya menjelaskan bagaimana kebiasaan orang Irak, bagaimana bentuk-bentuk relasi sosialnya, bagaimana struktur politik dan ekonomi, apa yang dihargai dan tidak dihargai, bagaimana orang Irak bekerja, tentang perubahan sosial di Irak, dan sebagainya. Saya mengatakan bahwa pengetahuan saya terbatas tentang kebudayaan Irak karena saya tidak mendalaminya secara khusus.
Yang mengejutkan, dan tentu membuat saya gembira, beberapa pakar dan orang Irak yang ikut seminar (yang tinggal di Indonesia, karena waktu itu seminar berlangsung luring), menyatakan kok bisa saya punya pengetahuan sedetil itu dan bahkan dalam beberapa hal tidak lazim.
BACA JUGA: Puncak Peringatan HGN DIY di Sleman, Guru Bermutu Indonesia Maju
“Ada beberapa hal yang rasanya benar seperti apa yang Anda katakan. Tapi, kami sendiri jarang membicarakannya. Karena kami merasa tidak nyaman. Hal itu seperti kami sedang membicarakan borok kebudayaan kami sendiri. Padahal, borok-borok itu secara akademis perlu didiskusikan.” Demikian komentar salah satu pakar politik yang kebetulan dari Irak. Saya tidak tahu apakah dia membaca karya sastra yang saya baca, atau kalau membaca, cara membaca dan memahaminya sama.
BACA JUGA: Mahasiswa Aceh di Yogya Bisa Makan Gratis di Warung 'Keumala', Ini Lokasinya
Karena merasa berterima ketika membicarakan masalah kebudayaan Irak tersebut, maka hal itu menjadi metode bagi saya pada kesempatan lain. Itulah sebabnya, suatu hari yang lain saya berani membicarakan kebudayaan Cina, Iran, Afrika Selatan, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan tentu Amerika dan Inggris; beberapa negara yang saya pernah mendapat kesempatan untuk membicarakan perihal kebudayaannya.
BACA JUGA: Meriah! KPK Berseni, Ribuan Massa Aksi Anti Korupsi di Titik Nol Yogya
Dengan cepat saya membaca beberapa novel dan cerpen, bahkan sebagian puisi dari negara-negara bersangkutan. Karya sastra yang saya dapatkan sebagian sudah dalam bentuk terjemahan. Artinya, saya berasumsi tentu novel terjemahan tersebut dianggap terkenal dan mewakili kebudayaan negara bersangkutan.
BACA JUGA: Menegakkan Kebenaran di Jalan Sunyi: Sebuah Renungan Dakwah
Berdasarkan pengalaman tersebut saya berkesimpulan bahwa sastra yang bagus bukan saja memberikan banyak informasi dan pengetahuan, tetapi juga menyimpan ilmu kebudayaan, politik, budaya ekonomi, dan sebagainya. Sastra yang keren adalah sastra ilmu. Tentu, kita perlu punya cara dan metode dalam membacanya.
BACA JUGA: Menteri Fadli Zon Apresiasi Musisi Malioboro dan Beri Bantuan Alat Musik
Beberapa mahasiswa dari luar negeri, ketika datang ke Indonesia untuk belajar kebudayaan Indonesia, belajar politik dan ekonomi, dan beberapa hal lainnya, dosen mereka sangat menganjurkan hal pertama yang harus mereka baca dari Indonesia adalah karya sastranya. Metode tersebut cocok dengan apa yang saya lakukan.
BACA JUGA: Seni Jembatan Harapan, Yogyakarta Tuan Rumah Persahabatan Ukraina-Indonesia
Dalam beberapa kesempatan, saya pernah mendampingi mahasiswa dari Jerman, Australia, Italia, Thailand, Amerika, Inggris, sejumlah negara dari Afrika, belajar bahasa dan kebudayaan Indonesia. Saya membuat beberapa daftar novel dan cerpen yang harus mereka baca.
Dalam rentang 3-6 bulan, mereka dengan cepat bisa berbahasa Indonesia. Sebagian dari mereka bahkan mulai paham tentang kebudayaan di Indonesia. (Aprinus Salam, Guru Besar di FIB UGM)
