SUDAH lama, saya biasa buat puisi-puisi jelek. Membuat puisi yang saya niatkan untuk melakukan semacam kritik terhadap kekuasaan yang zalim dan korup. Melakukan kritik terhadap kekuasaan yang korup, tidak perlu puisi bagus. Bukan saja eman-eman, tetapi memang puisi tidak mengubah apa-apa.
BACa JUGA: Masyarakat Minang di Yogyakarta Laporkan Abu Janda ke Polda
Yang dimaksud dengan puisi jelek di sini maksudnya puisi yang dibuat asal-asalan, asal sok kritis, asal sok berani, asal sok heroik, asal sok seperti puitis, asal sok menyenangkan, dan sebagainya. Jangan lupa, formatnya dibuat seperti puisi.
BACA JUGA: Jaga Ketersediaan Air, Pemkab Sleman Optimalkan Fungsi Infrastruktur Embung dan Penampungan
Dalam sejarahnya, sastra, khususnya puisi, dihadirkan, dibacakan, dipanggungkan diberbagai peristiwa, mulai dari berbagai demonstrasi, acara-acara resmi (biasanya berupa pantun), berbagai acara komunitas, dan berbagai pertemuan lainnya.
BACA JUGA: Sekda Sleman Purna Tugas, Paguyuban Panewu Beri Cinderamata Lukisan
Bahkan belakangan puisi menjadi marak kembali ketika para orang populer membacakan puisi di depan publik yang haus suara-suara lantang. Puisi jelek semakin penting bukan lagi karena daya kritiknya, tetapi lebih-lebih dimanfaatkan sebagai cara emosional bisa menumpahkan unek-unek. Cara santun untuk memaki-maki karena bisa berdalih atas nama puisi. Di atas semua itu, puisi jelek adalah hiburan.
BACA JUGA: Ini Tiga Kandidat Sekda Sleman Pasca Purna Tugas Susmiarto
Artinya, masyarakat tidak perlu salah paham dengan sastra, puisi, atau prosa. Wajah sastra itu beragam, mulai dari yang berusaha memaksimalkan estetika dan menguras filsafat, ekspresi-ekspresi cinta dan sayang, hingga yang marah-marah dan yang menyebar kebencian. Semua seolah puisi.
BACA JUGA: Siapa Tersangka Dugaan Penyelewengan TKD Condongcatur, Ini Jawaban Kejati DIY
Puisi-puisi estetis dan berkadar ilmu, atau seni pada umumnya, awalnya dimaksudkan sebagai legitimasi pencapaian pengetahuan dan keadaban manusia. Banyak ilmu pengetahuan disimpan dan tersimpan dalam sastra. Dalam konteks ini, banyak kitab suci adalah contoh karya sastra terbaik. Banyak sastra menjadi turunan kitab suci.
BACA JUGA: Pelatihan Vokasi Nasional Batch 2 Hadir di Berbagai Daerah untuk Perluas Akses Kompetensi
Dalam perjalanannya, ada banyak situasi sosial-struktural yang berbeda karena desakan-desakan naluri kemanusiaan dan lokalitas masyarakat bersangkutan. Karenanya, tatatan global jadi carut-marut karena sumbangan kepentingan lokal yang berbeda. Dalam perang dan persaingan yang tidak pernah selesai, arah sejarah global lebih sebagai konstruksi skenario politik ekonomi kapitalisme lokal-lokal negara adikuasa.
BACA JUGA: Kuasa Hukum Terdakwa Pemalsuan Merek Minta Kliennya Dibebaskan, Ini Alasannya
Dalam skenario tersebut, para penguasa berlomba-lomba membangun kekuasaannya dalam sistem kerakusan, mekanisme aji mumpung, dan nggugu karepe dewe. Karakter kekuasaan menjadi buruk. Sudah dapat diduga, implikasi kekuasaan yang buruk adalah negara berantakan. Dalam negara berantakan, jika tidak ada inisiatif-inisiatif untuk melawannya, negara bisa terancam ambyar.
BACA JUGA: Danrem Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono Sholat Ied di Lapangan Yonif 403/WP, Khotib KH Muhlisun
Itulah sebabnya, puisi-puisi jelek jadi berharga. Inilah saatnya, masyarakat perlu membuat puisi jelek sebanyak-banyaknya, untuk melawan dan memborbardir narasi-narasi dan puisi jelek dari para penguasa buruk dan para pendukungnya. Kita tahu, bagaimana pun suatu kekuasaan pasti didukung oleh segelintir penikmat kekuasaan. Para penikmat kekuasaan juga jago membuat puisi jelek.
BACA JUGA: KDMP di Banyurejo Terbentuk, Tapi Masih Cari Lahan untuk Bangunan Fisik
Untuk melawan narasi dan puisi-puisi jelek itu tidak perlu membuat puisi bagus. Substansi terpentingnya adalah bagaimana kita berani melawan. Mungkin tetap kalah. Akan tetapi, suatu hari, bisa saja puisi jelek akan dicatat sejarah jika rezim kekuasaan berganti. Memang, rezim baru belum tentu lebih baik. Akan muncul lagi penguasa-penguasa buruk yang baru. Kita tulis lagi puisi-puisi jelek yang baru.
BACA JUGA: Dua Pengelola Pijat Spa di Jalan Magelang Diadili
Berikut, saya tutup dengan puisi jelek saya. Puisi ini saya tulis karena seorang teman, yang anaknya mengalami intimidasi dan teror, meminta saya membuat puisi.
Aku Tidak Siapa-Siapa
Oleh kuasa-kuasa struktural
Manipulatif dan pongah
Aku dikondisikan untuk lemah dan miskin
Nyaris telanjang
BACA JUGA: Kuasa Hukum Terdakwa Pemalsuan Merek Minta Kliennya Dibebaskan, Ini Alasannya
Kemudian, kita sama-sama melangkah
Langkahmu besar dan menggetarkan
Langkahku kecil, merayap dalam tulisan
tulisan yang takut dan sedih
BACA JUGA: Dugaan Korupsi Kredit BUKP Rp 2,1 M, Polresta Sleman Tetapkan 3 Tersangka
Dan kau terganggu
Para pendukungmu ngamuk
Kau cekik leherku
Kau tampar wajahku
Kau todongkan pistol dan uang
BACA JUGA: Ini Harapan Bupati Sleman kepada 246 PNS yang Segera Purna Tugas
Padahal kau tahu
Aku hanya melawan dengan penderitaanku
Aku melawan dengan tubuh yang lemah
Aku tidak bisa berbuat apa-apa
BACA JUGA: Lurah Karangtalun Berharap Bendungan Ancol Segera Dibuka Untuk Destinasi Wisata
Tidak perlu aku kau telanjangi
Di hadapanmu, aku hanya membawa
Nyawa dan tubuh
Dengan baju dan celana murahan
Tidak dengan siapa-siapa
BACA JUGA: Kantah dan BNNK Kabupaten Sleman Satu Tekad, Bersama Memerangi Narkoba
Kau bunuh saja aku sekalian
agar kau lebih bahagia (Penulis: Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM)
