Puisi Jelek untuk Penguasa Buruk

share on:
Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM || YP-Dok.Red

SUDAH lama, saya biasa buat puisi-puisi jelek. Membuat puisi yang saya niatkan untuk melakukan semacam kritik terhadap kekuasaan yang zalim dan korup. Melakukan kritik terhadap kekuasaan yang korup, tidak perlu puisi bagus. Bukan saja eman-eman, tetapi memang puisi tidak mengubah apa-apa.

BACa JUGA: Masyarakat Minang di Yogyakarta Laporkan Abu Janda ke Polda

Yang dimaksud dengan puisi jelek di sini maksudnya puisi yang dibuat asal-asalan, asal sok kritis, asal sok berani, asal sok heroik, asal sok seperti puitis, asal sok menyenangkan, dan sebagainya. Jangan lupa, formatnya dibuat seperti puisi.

BACA JUGA: Jaga Ketersediaan Air, Pemkab Sleman Optimalkan Fungsi Infrastruktur Embung dan Penampungan

Dalam sejarahnya, sastra, khususnya puisi, dihadirkan, dibacakan, dipanggungkan diberbagai peristiwa, mulai dari berbagai demonstrasi, acara-acara resmi (biasanya berupa pantun), berbagai acara komunitas, dan berbagai pertemuan lainnya.

BACA JUGA: Sekda Sleman Purna Tugas, Paguyuban Panewu Beri Cinderamata Lukisan

Bahkan belakangan puisi menjadi marak kembali ketika para orang populer membacakan puisi di depan publik yang haus suara-suara lantang. Puisi jelek semakin penting bukan lagi karena daya kritiknya, tetapi lebih-lebih dimanfaatkan sebagai cara emosional bisa menumpahkan unek-unek. Cara santun untuk memaki-maki karena bisa berdalih atas nama puisi. Di atas semua itu, puisi jelek adalah hiburan.

BACA JUGA: Ini Tiga Kandidat Sekda Sleman Pasca Purna Tugas Susmiarto

Artinya, masyarakat tidak perlu salah paham dengan sastra, puisi, atau prosa. Wajah sastra itu beragam, mulai dari yang berusaha memaksimalkan estetika dan menguras filsafat, ekspresi-ekspresi cinta dan sayang, hingga yang marah-marah dan yang menyebar kebencian. Semua seolah puisi.

BACA JUGA: Siapa Tersangka Dugaan Penyelewengan TKD Condongcatur, Ini Jawaban Kejati DIY

Puisi-puisi estetis dan berkadar ilmu, atau seni pada umumnya, awalnya dimaksudkan sebagai legitimasi pencapaian pengetahuan dan keadaban manusia. Banyak ilmu pengetahuan disimpan dan tersimpan dalam sastra. Dalam konteks ini, banyak kitab suci adalah contoh karya sastra terbaik. Banyak sastra menjadi turunan kitab suci.

BACA JUGA: Pelatihan Vokasi Nasional Batch 2 Hadir di Berbagai Daerah untuk Perluas Akses Kompetensi

Dalam perjalanannya, ada banyak situasi sosial-struktural yang berbeda karena desakan-desakan naluri kemanusiaan dan lokalitas masyarakat bersangkutan. Karenanya, tatatan global jadi carut-marut karena sumbangan kepentingan lokal yang berbeda. Dalam perang dan persaingan yang tidak pernah selesai, arah sejarah global lebih sebagai konstruksi skenario politik ekonomi kapitalisme lokal-lokal negara adikuasa.

BACA JUGA: Kuasa Hukum Terdakwa Pemalsuan Merek Minta Kliennya Dibebaskan, Ini Alasannya

Dalam skenario tersebut, para penguasa berlomba-lomba membangun kekuasaannya dalam sistem kerakusan, mekanisme aji mumpung, dan nggugu karepe dewe. Karakter kekuasaan menjadi buruk. Sudah dapat diduga, implikasi kekuasaan yang buruk adalah negara berantakan. Dalam negara berantakan, jika tidak ada inisiatif-inisiatif untuk melawannya, negara bisa terancam ambyar.

BACA JUGA: Danrem Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono Sholat Ied di Lapangan Yonif 403/WP, Khotib KH Muhlisun

Itulah sebabnya, puisi-puisi jelek jadi berharga. Inilah saatnya, masyarakat perlu membuat puisi jelek sebanyak-banyaknya, untuk melawan dan memborbardir narasi-narasi dan puisi jelek dari para penguasa buruk dan para pendukungnya. Kita tahu, bagaimana pun suatu kekuasaan pasti didukung oleh segelintir penikmat kekuasaan. Para penikmat kekuasaan juga jago membuat puisi jelek.

BACA JUGA: KDMP di Banyurejo Terbentuk, Tapi Masih Cari Lahan untuk Bangunan Fisik

Untuk melawan narasi dan puisi-puisi jelek itu tidak perlu membuat puisi bagus. Substansi terpentingnya adalah bagaimana kita berani melawan. Mungkin tetap kalah. Akan tetapi, suatu hari, bisa saja puisi jelek akan dicatat sejarah jika rezim kekuasaan berganti. Memang, rezim baru belum tentu lebih baik. Akan muncul lagi penguasa-penguasa buruk yang baru. Kita tulis lagi puisi-puisi jelek yang baru.

BACA JUGA: Dua Pengelola Pijat Spa di Jalan Magelang Diadili

Berikut, saya tutup dengan puisi jelek saya. Puisi ini saya tulis karena seorang teman, yang anaknya mengalami intimidasi dan teror, meminta saya membuat puisi.

 

Aku Tidak Siapa-Siapa

Oleh kuasa-kuasa struktural

Manipulatif dan pongah

Aku dikondisikan untuk lemah dan miskin

Nyaris telanjang

BACA JUGA: Kuasa Hukum Terdakwa Pemalsuan Merek Minta Kliennya Dibebaskan, Ini Alasannya

Kemudian, kita sama-sama melangkah

Langkahmu besar dan menggetarkan

 

Langkahku kecil, merayap dalam tulisan

tulisan yang takut dan sedih

BACA JUGA: Dugaan Korupsi Kredit BUKP Rp 2,1 M, Polresta Sleman Tetapkan 3 Tersangka

Dan kau terganggu

Para pendukungmu ngamuk

 

Kau cekik leherku

Kau tampar wajahku

Kau todongkan pistol dan uang

BACA JUGA: Ini Harapan Bupati Sleman kepada 246 PNS yang Segera Purna Tugas

Padahal kau tahu

Aku hanya melawan dengan penderitaanku

Aku melawan dengan tubuh yang lemah

Aku tidak bisa berbuat apa-apa

BACA JUGA: Lurah Karangtalun Berharap Bendungan Ancol Segera Dibuka Untuk Destinasi Wisata

Tidak perlu aku kau telanjangi

Di hadapanmu, aku hanya membawa

Nyawa dan tubuh

Dengan baju dan celana murahan

Tidak dengan siapa-siapa

BACA JUGA: Kantah dan BNNK Kabupaten Sleman Satu Tekad, Bersama Memerangi Narkoba

Kau bunuh saja aku sekalian

agar kau lebih bahagia (Penulis: Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM)


share on: