Yogyapos.com (BANTUL) - Ketua Pengelola Kelompok Konservasi Penyu di Kabupaten Bantul mengeluh adanya dukungan sarana dan prasarana serta anggaran yang terbilang minim untuk kegiatan konservasi penyu yang merupakan salah satu spesies laut yang dilindungi karena terancam punah.
BACA JUGA: Perkuat Pelestarian Budaya, Pemkab Sleman Salurkan Hibah Alat Musik Senilai Rp 390.950.000
Bayu Sujaka selaku Ketua Pengelola Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo Pantai Goa Cemara, mengatakan saat musim penyu bertelur pihaknya bisa menetaskan lebih dari 10 ribu telur penyu namun demikian fasilitas untuk penetasan penyu serta kolam untuk penangkaran penyu usai menetas kapasitasnya sangat terbatas.
BACA JUGA: Drama Musikal 'Sang Garuda dan 9 Bidadari' Ajak Anak Belajar Lewat Dongeng
"Jadi kapasitas kolam untuk penangkaran penyu hanya ada satu dan ukurannya tidak besar sehingga membutuhkan tempat atau bak penampungan lainnya agar penyu yang baru saja menetas bisa ditampung untuk sementara sebelum dilepasliarkan kembali ke laut," ungkapnya saat menghadiri acara Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI Masa Sidang V Tahun 2025-2026, di Balai Konservasi Penyu Pantai Goa Cemara, Kabupaten Bantul, Jumat (10/7/2026).
Bupati Abdul Halim Muslih || YP-Daru Waskita
Bayu berharap dengan keterbatasan kolam untuk penangkaran penyu dan tempat untuk pemetaan telur penyu yang dalam satu musim penyu bisa menetaskan lebih dari 10 ribu telur penyu mendapatkan perhatian dari DPR RI Komisi IV, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pemda DIY dan Kabupaten Bantul.
BACA JUGA: Polda DIY Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi 228 Warga Sosoromenduran
"Di lokasi konservasi penyu Pantai Goa Cemara ini kita masih punya lokasi yang bisa dibangun kolam penampung tukik dan juga tempat penetasan penyu, " ungkapnya.
"Selain itu karena akses jalan menuju konservasi penyu ini rusak mohon perhatiannya jika bisa dilakukan perbaikan jalan agar wisatawan lebih nyaman berkunjung ke konservasi penyu ini," tambahnya lagi.
BACA JUGA: Di Mako Yonif TP 440/SJS, Brigjen Yuniar Ajak Prajurit Bersyukur dan Tingkatkan Pengabdian
Sementara itu, Ketua Pengelola Konservasi Penyu Pantai Samas, Rujito mengaku bahwa konservasi penyu di Pantai Samas sudah berlangsung sejak tahun 2000 dan uluran tangan pemerintah dan pihak swasta cukup banyak namun demikian yang kita rasakan saat ini adalah penemuan telur penyu oleh masyarakat di pantai kemudian diberikan ke lokasi penangkaran penyu terkadang terkendala anggaran untuk mengganti setiap satu telur penyu yang ditemukan oleh masyarakat.
BACA JUGA: Sukses di Popda DIY, Pemkab Sleman Gelontorkan Uang Rp 1.185.550.000 bagi Atlet dan Pelatih
"Kadang-kadang kita itu tidak punya uang saat masyarakat menemukan telur penyu kemudian diserahkan ke konservasi. Ya hanya sekedar uang untuk ganti uang lelah saja atau uang untuk membeli rokoklah," ujarnya.
"Kalau untuk ancaman konservasi penyu di Pantai Samas adalah ancaman abrasi yang kian mendekat ke lokasi konservasi penyu. Sedangkan kesadaran masyarakat untuk tidak menjual telur penyu sudah cukup baik dan tidak ada lagi aktivitas penjualan ilegal telur penyu," tambahnya lagi.
BACA JUGA: Mencekam! Pekerja Bangunan Tertimpa Tembok Roboh, Satu Orang Tewas
Sementara itu Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan terkait keluhan dari pengelola konservasi penyu yakni sarana dan prasarana termasuk infratruktur jalan menuju lokasi konservasi penyu tentunya akan menjadi perhatian khusus dari pemerintah dan akan menjadi program prioritas untuk pembangunan jalan.
BACA JUGA: Residivis Berulah di Sleman, Gasak Belasan Sepeda Berbagai Merk
"Tapi Pemkab Bantul saat ada dana transfer ke daerah yang turun diatas Rp230 miliar tahun ini (efisiensi dari pemerintah pusat), namun kita berusaha agar keluhan dari pengelola konservasi penyu ini dapat kita realisasikan," ujarnya.
"Kami juga minta dukungan dari Komisi IV DPR RI dan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk juga bisa memfasilitasi keluhan dari para pengelola konservasi penyu di Bantul," tambahnya lagi.
BACA JUGA: BPD HIPMI Jaya Teken Mou dengan Kemnaker untuk Tingkatkan Keterampilan Tenaga Kerja
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto mengatakan Balai Konservasi Penyu Pantai Goa Cemara memiliki peran yang strategis sebab tidak saja menjadi tempat untuk pelestarian penyu namun ruang edukasi lingkungan, penguatan kesadaran masyarakat serta pengembangan ekowisata berbasis konservasi.
BACA JUGA: Kerjasama Indonesia-India Garap Restorasi 224 Candi Perwara di Prambanan
"Balai konservasi penyu di Pantai Goa Cemara ini memang belum maksimal karena sebelumnya yang bertanggung jawab di Kehutanan dan baru tahun 2025 ditangani oleh Kelautan di tahun 2025 sehingga sarana dan prasarana sangat minimal sekali," ungkapnya.

"Nah ternyata Balai Konservasi Penyu di Pantai Goa Cemara ini bagian dari Balai Konservasi Penyu yang ada di Pontianak, Kalimantan Barat. Lah kan jaraknya jauh sekali ya," tambahnya lagi.
BACA JUGA: AI Mengubah Cara Bekerja, SDM Unggul Kunci Hadapi Perubahan Dunia Kerja
Lebih lanjut Panggah mengatakan anggaran di KKP yang sebelumnya hanya Rp5 trilyun kemudian bertambah menjadi Rp15 trilyun ditambah pinjaman luar negeri yang bisa mencapai Rp20 trilyun sehingga bisa memberikan solusi terbaik bagi para pengelola konservasi penyu.
BACA JUGA: DPUPKP Sleman Selesaikan 14 Proyek Gorong-gorong, Total Anggaran Rp 1,4 Miliar
"Tolong yang KKP, ditata dengan benar karena kalau kita lihat tadi permasalahan di konservasi penyu di seluruh Indonesia terkait fasilitas masih sangat minimal," tandasnya. (Dwa)
