Yogyapos.com (YOGYA) - Namanya Elsa Lucita. Mahasiwa Jurusan Musik Klasik Institut Seni Indonesian (ISI) Yogyakarta. April kemaren ia harus berangkat ke Jakarta karena lolos dalam seleksi The Icon Indonesian SCTV dan masuk dalam 24 besar setelah mengikuti seleksi eliminasi di Yogya.
BACA JUGA: YLBH Wirasakti Gelar Pelatihan dan Ujian Paralegal, Ini Tujuannya
Elsa berasal dari Mamasa, Sulawesi Barat. Jangan bayangkan ia tinggal di kotanya. Tapi, dari desa Orobua, Sespa, di lereng gunung dan perlu perjalanan 10 jam perjalanan jika menuju Makasar.
Mengikuti seleksi The Icon sebenarnya diwarnai sedikit keraguan bagi Elsa. Mengapa? Karena dia tahu persaingannya sangat ketat dan diikuti ribuan kandidat. Ia baru beberapa tahun hidup di Yogya ketika menjadi mahasiswa ISi dan baru beradaptasi dengan kehidupan yang penuh kompetisi.
BACA JUGA: Reuni 37 Tahun Delayota 1989, Momentum Menyambut Pensiun dengan Hidup Sehat
"Jadi, ikut seleksi tanpa ekspektasi. Ya, pokoknya mencoba menampilkan yang terbaik saja. Berbekal bakat dan pengalaman yang saya miliki ditambah teori musik yang saya dapatkan dari kampus, Ya, akhirnya lolos ke Jakarta dan masuk dalam 10 besar bintang Icon, " ucap Elsa yang alumni SMA Negeri 1 Mamasa.
BACA JUGA: Deretan Busana Karya Wida Yosanda Menghipnotis Pengunjung Embung Mororejo Tempel
Ikhwal pilihannya masuk ke ISI Yogyakarta juga didorong oleh keinginan dan semangatnya untuk maju terutama di dunia seni dan musik.

Sebetulnya ada dua alasan mengapa saya memilih harus terbang ke Yogya dan memilih kampus ISI. "Pertama, karena kampus ISI setahu saya sudah melahirkan banyak seniman yang berkualitas dari sejak dulu. Kedua, karena saya ada tante Gendhis Agustin yang sudah lama tinggal di Yogya sehingga setidaknya ada tempat singgah jika ada keperluan yang tidak bisa dilakukan secara mandiri. Pada akhirnya, saya merasa benar dengan pilihan ini. Karena secara faktual saya merasakan sata bisa bertumbuh sejak berada di Yogya," jelas Elsa.
BACA JUGA: Kirab dan Display Taruna AAU di Malioboro Pukau Masyarakat
Ditanya apa pengalaman berkesan selama mengikuti kompetisi the Icon SCTV dan dikarantina selama 2,5 bulan, Elsa menyatakan tak bisa mengungkapkan satu per satu. "Pokoknya banyak. Saya lebih paham musik dari sisi industrial. Saya bisa bertemu penyanyi-penyanyi top Indonesia secara langsung yang selama ini hanya saya lihat wajahnya di TV atau medsos. Saya juga bisa sharing dengan banyak peserta lain yang bagus-bagus juga suara dan talent bintangnya. Saya juga merasakan secara langsung aura panggung besar dengan ribuan penonton di depan mata," jelasnya.
BACA JUGA: Menyelami Laut Kerinduan dalam 'Gelombang Laut Ibu' Karya Ulfatin Ch
Elsa juga mengatakan bahwa dari masing-masing judgest (juri) ia mendapatkan insight yang beragam. "Terutama dari Isyana Sarasvati dan Ardito. Banyak masukan yang saya baru tahu. Itu bukan hanya menambah wawasan dalam bermusik tapi membuat saya jadi paham apa saja yang harus saya eksplore ketika berada di atas panggung," jelasnya.

Sedangkan dari Ahmad Dani, Elsa merasa mendapatkan banyak ide tentang bagaimana caranya membangun grab dan karisma di atas panggung.
BACA JUGA: Sri Sultan HB X Tegaskan Dialah yang Meminta Kasus Eks Lurah Condongcatur Diproses
"Ide-idenya memang terlalu berani sih kalau menurut aku yang masih junior ini. Tapi sebagai ilmu menurutku sangat bagus dan tak terduga. Di titik ini saya melihat bahwa yang namanya pengalaman itu tak bisa dikalahkan. Pengalaman adalah guru terbaik. Dan Elsa harus belajar dari yang sudah makan asam garam pengalaman bermusik seperti Mas Dhani itu," ujarnya.
BACA JUGA: Dugaan Korupsi TKD Condongcatur, Kejati: Modusnya Dirikan Kos Eksklusif Dilengkapi Kolam Renang
Lalu apa rencana Elsa selanjutnya setelah kembali ke Yogya dan tidak bisa menembus babak final tiga besar? "Ini ada rencana bikin single lagi perdana. Tapi mungkin akan duet dulu sama Alfian. Sesama peserta yang masuk sepuluh besar tapi tak bisa lanjut ke tiga besar. Kita sedang siapkan lagunya dan konsep launchingnya. Sambil melihat potensi target audiens yang related dengan lagu genre ala kita," tandasnya.
BACA JUGA: Obwis Kaliurang Dikunjungi 11.000 Wisatawan Sejak Awal Bulan
Di ujung perbincangan Elsa menjelaskan sekembalinya ke Yogya justru ia mempunyai tiga misi besar yang harus dijalankan. " Pertama, tentu saja saya harus menyelesaikan kuliah di ISI karena demi membahagiakan orang tua. Kedua, segera meluncurkan single album supaya fans Elsa tidak terputus, tetap terhubung dengan karya kreatif Elsa.
BACA JUGA: Enam Kapolda Lakukan Sertijab
Ketiga, ada ajakan dari Tante Gendhis untuk membuat produk yang cocok dengan fans Elsa dengan merek sendiri. Kemungkinan produk kecantikan yang itu menjadi kebutuhan utama para cewek sekarang. Tentu saja, saya prioritaskan studi dulu biar kelar sehingga ke depannya bisa lebih bebas berkarya," ucap Elsa yang selain nyanyi juga menyukai dance sejak SMP di Mamasa. (PW)
