Hadapi Cuaca Tak Menentu, Sleman Perkuat Kampung Iklim

share on:
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Junaidi (nomor dua dari kanan)

Yogyapos.com (SLEMAN) - Dampak perubahan iklim semakin dirasakan masyarakat Kabupaten Sleman dalam beberapa tahun terakhir. Cuaca yang tidak menentu, pergeseran musim tanam, ancaman kekeringan hingga meningkatnya risiko gangguan kesehatan menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.

BACA JUGA: 55 Persen Haji Indonesia Tiba di Tanah Air, Kedisiplinan Jemaah Kunci Kelancaran Pemulangan

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat Program Kampung Iklim (Proklim) yang berbasis partisipasi masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Junaidi, mengatakan perubahan iklim telah memengaruhi berbagai sektor kehidupan masyarakat. Dampak paling nyata dirasakan pada aspek kesehatan, ketersediaan air, dan sektor pertanian.

BACA JUGA: KPP Pratama Sleman Gandeng IKPI dan Pelaku Usaha Kejar Target Penerimaan Rp 3,2 Triliun

“Di sisi kesehatan, panas atau cuaca yang tidak menentu memengaruhi kesehatan masyarakat. Kemudian pada sisi ketersediaan air dan pertanian juga terdampak. Sekarang musimnya sudah tidak menentu, petani sering bingung menentukan waktu tanam,” kata Junaidi.

BACA JUGA: Indonesia Banyak Orang Pintar, Sedikit Orang yang Mau Bertirakat

Ia mencontohkan munculnya fenomena kemarau basah, ketika pada periode yang seharusnya memasuki musim kemarau justru masih terjadi hujan dengan intensitas cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat pola tanam petani menjadi tidak pasti.

Menurut Junaidi, salah satu tantangan terbesar dalam menghadapi perubahan iklim adalah membangun kesadaran masyarakat untuk kembali menghijaukan lingkungan. Dia menilai masih terdapat paradoks di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem.

BACA JUGA: Prof Imam Basuki: Sistem Transportasi Modern Bertujuan Memastikan Akses yang Adil dan Efisien

“Sering ada bencana angin kencang dan banyak pohon tumbang. Namun yang terjadi justru masyarakat beramai-ramai menebang pohon. Memang ada alasan di sisi keselamatan, tetapi tugas kami adalah mengedukasi warga agar tetap mencintai dan menanam pohon,” ujarnya.

BACA JUGA: BPS DIY dan Kota Yogya Canangkan Sensus Ekonomi 2026: Data Akurat, Dasar Kebijakan Masa Depan

DLH Sleman pun berupaya menghidupkan kembali berbagai program penghijauan, termasuk mendorong program penanaman pohon bagi pasangan yang baru menikah yang sebelumnya dikembangkan bersama Kantor Urusan Agama (KUA).

Selain itu, pemerintah terus memperluas pelaksanaan Program Kampung Iklim (Proklim) yang menjadi salah satu strategi utama menghadapi dampak perubahan iklim di tingkat komunitas.

BACA JUGA: Sidang Penipuan Hadirkan Empat Saksi, di Depan PN Sleman Diwarnai Karangan Bunga

Junaidi menjelaskan Proklim tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perubahan perilaku masyarakat melalui pembinaan, sosialisasi, dan pelatihan.

“Program Kampung Iklim itu berbasis komunitas, jadi dibentuk kelompok masyarakat untuk meminimalisasi dampak perubahan iklim. Yang dikerjakan tidak hanya sisi fisiknya, tetapi juga manusianya melalui pembinaan dan pelatihan,” jelasnya.

BACA JUGA: Yovan Rilis Single Perdana 'Maaf Cinta' Kolaborasi Bareng Eks Drummer Jamrud

Salah satu kegiatan yang menjadi fokus Proklim adalah pengelolaan sampah. Menurutnya, sampah organik yang menumpuk dapat menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

“Kalau sampah organik ditumpuk dalam jumlah besar akan menghasilkan gas metana. Itu salah satu gas rumah kaca yang berpengaruh terhadap pemanasan global,” jelasnya.

BACA JUGA: Puisi Aprinus Salam: Indonesia Sedang Berjalan Ke Mana

Selain pengelolaan sampah, setiap kampung yang mengikuti Proklim juga didorong untuk melakukan penanaman pohon di lingkungan permukiman dan pekarangan rumah warga.

Junaidi menyebut manfaat Proklim tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga sosial dan ekonomi. Pengelolaan sampah yang baik dapat melahirkan bank sampah dan aktivitas ekonomi masyarakat, sementara budaya gotong royong juga semakin tumbuh.

BACa JUGA: Presiden Apresiasi Penyelenggaraan Haji 2026, Dorong Percepatan Masa Tunggu Jemaah

Keberhasilan program tersebut, kata dia, memang tidak mudah diukur secara kuantitatif. Namun perubahan kondisi lingkungan dapat dirasakan secara langsung.

“Kalau masuk ke kampung yang menjalankan Program Kampung Iklim biasanya terasa lebih sejuk. Selain itu sumber air lokal seperti sumur warga juga relatif lebih terjaga sehingga jarang mengalami kekeringan,” ujarnya.

BACA JUGA: Pemerintah Hormati Independensi Media dan Apresiasi Peliputan Aksi Demonstrasi

Sejak mulai dijalankan pada 2012, Proklim di Sleman menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga saat ini terdapat sekitar 70 kampung yang telah mengikuti program tersebut. Dari jumlah itu, 33 kampung telah masuk dalam Sistem Registri Nasional (SRN) Pengendalian Perubahan Iklim.

BACA JUGA: Perkuat Kompetensi Jiwa Wirausaha, Mahasiswa Biologi UAJY Belajar Langsung Industri Bioteknologi

Sebanyak lima kampung berhasil meraih Trofi Proklim Utama, sekitar 13 kampung memperoleh Sertifikat Utama, sedangkan sisanya meraih Sertifikat Madya dari pemerintah pusat.

“Kunci keberhasilan program ini adalah peran serta masyarakat. Program pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan dan kepedulian warga karena merekalah yang akan menikmati manfaatnya secara langsung,” tegas Junaidi.

BACA JUGA: Pedayung Besutan PODSI Sleman Siap Mengukir Prestasi di Tengah Keterbatasan

Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Sleman, Untung Basuki Rahmad, menilai perubahan iklim telah mengubah kondisi lingkungan Sleman yang dahulu dikenal sejuk dan kaya sumber air.

“Dulu Sleman sejuk, airnya banyak. Sekarang tidak lagi karena efek rumah kaca. Ketika pembangunan berlangsung, banyak pohon ditebang tanpa ada upaya yang cukup untuk menggantinya,” kata Untung.

BACA JUGA: Pengelola Pijat Spa 'LV' di Jalan Magelang Km 10 kena Denda Rp 1 Juta, Ini Penyebabnya

Ia menilai setiap pembangunan, khususnya kawasan perumahan, perlu memperhatikan aspek penghijauan dan konservasi air. Menurutnya, keberadaan pohon memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menyimpan cadangan air tanah.

Untung mendorong DLH untuk memperbanyak pohon perindang di kawasan perkotaan maupun sepanjang jalan. Ia juga menekankan pentingnya memilih jenis pohon yang sesuai agar tidak merusak infrastruktur.

BACA JUGA: Advokat Aji Herlambang SH Gunakan Strategi 'Pengakuan Bersalah' Ringankan Hukuman Klien

Selain penghijauan, ia meminta pemerintah menjaga kelestarian sungai agar tetap menjadi sumber air dan tidak berubah menjadi lokasi pembuangan sampah.

Di Sleman saat ini telah terbentuk 18 kelompok pemerhati sungai yang diharapkan dapat menjadi mitra pemerintah dalam menjaga kualitas lingkungan.

BACA JUGA: Bea Cukai Gagalkan Peredaran 8,2 Juta Batang Rokok Ilegal di Jalur Merak-Bakauheni

Menurut Untung, kawasan sepanjang Jalan Kaliurang dan wilayah Sleman tengah merupakan daerah dengan potensi sumber air yang sangat baik karena berada pada jalur resapan dari lereng Gunung Merapi. Oleh karena itu, pembangunan di kawasan tersebut perlu dikendalikan agar tidak mengurangi daya resap air.

BACA JUGA: Gatot Murwahyudi SH: Sidang Online Kurang Afdol, Tak Bisa Maksimal

“Yang paling utama adalah kerja sama dan koordinasi semua pihak. DPRD menekankan pentingnya kemitraan agar upaya menjaga lingkungan dan menghadapi perubahan iklim bisa berjalan efektif,” ujarnya. (*/Opo)

 


share on: