Indonesia Banyak Orang Pintar, Sedikit Orang yang Mau Bertirakat

share on:
Yuliantoro SSos, Alumnus Sosiologi UGM || YP-Ist

BULAN Suro selalu hadir sebagai sarana perenungan dalam tradisi masyarakat Jawa. Banyak orang mengenalnya melalui berbagai ritual, mulai dari tirakatan, doa bersama, ziarah makam leluhur, hingga laku prihatin yang dilakukan secara pribadi. Sebagian masyarakat bahkan masih mengaitkan Suro dengan berbagai mitos dan pantangan. Padahal, makna terdalam bulan Suro sesungguhnya jauh melampaui perkara-perkara tersebut. Suro mengajarkan manusia untuk menata batin, mengendalikan hawa nafsu, serta memperbaiki kualitas diri.

BACA JUGA: Pemerintah Hormati Independensi Media dan Apresiasi Peliputan Aksi Demonstrasi

Indonesia saat ini tidak kekurangan orang pintar. Perguruan tinggi terus melahirkan sarjana. Sekolah menghasilkan lulusan dengan nilai akademik yang tinggi. Berbagai lembaga pendidikan mencetak tenaga profesional yang memiliki kompetensi dan keterampilan memadai. Kemajuan teknologi juga membuka akses pengetahuan yang semakin luas. Namun, berbagai persoalan bangsa justru menunjukkan bahwa kecerdasan intelektual belum selalu berjalan seiring dengan kematangan moral.

BACA JUGA: Prajurit Korem 072/Pmk Nobar Piala Dunia

Korupsi masih terjadi di berbagai sektor. Manipulasi kekuasaan masih muncul dalam praktik kehidupan publik. Kekerasan, ujaran kebencian, serta perilaku tidak etis juga mudah ditemukan dalam ruang digital maupun kehidupan sehari-hari. Fakta tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bangsa ini bukan terletak pada kurangnya pengetahuan. Persoalan bangsa ini terletak pada lemahnya pengendalian diri dan menurunnya kualitas akhlak.

BACA JUGA: Pedayung Besutan PODSI Sleman Siap Mengukir Prestasi di Tengah Keterbatasan

Pemikir pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, menegaskan bahwa pendidikan bertujuan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat. Pendidikan tidak hanya bertugas mengisi kepala dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk watak dan karakter. Pandangan tersebut selaras dengan pesan bulan Suro yang menempatkan pembentukan diri sebagai fondasi kehidupan.

BACA JUGA: Perkuat Kompetensi Jiwa Wirausaha, Mahasiswa Biologi UAJY Belajar Langsung Industri Bioteknologi

Tradisi tirakat sebenarnya mengandung nilai pendidikan karakter yang sangat relevan dengan kebutuhan bangsa saat ini. Tirakat bukan sekadar menahan lapar atau mengurangi tidur. Tirakat merupakan proses melatih kesadaran diri agar manusia mampu mengendalikan keinginan yang berlebihan. Tirakat mengajarkan kesederhanaan dan empati di tengah budaya konsumtif. Tirakat menumbuhkan kesabaran di tengah kehidupan yang serba instan. Tirakat juga melatih kejujuran ketika tidak ada orang lain yang mengawasi.

BACA JUGA: Menteri Jumhur: Tanam Bambu Solusi Rehabilitasi Lingkungan dan Sumber Penghasilan Warga

Penelitian dalam bidang psikologi modern menunjukkan bahwa kemampuan mengendalikan diri memiliki hubungan kuat dengan keberhasilan seseorang dalam kehidupan sosial maupun profesional. Psikolog Walter Mischel melalui penelitian terkenal "Marshmallow Test" menemukan bahwa individu yang mampu menunda kepuasan sesaat cenderung memiliki prestasi yang lebih baik pada masa depan. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian diri merupakan modal penting bagi pembangunan manusia. 

BACA JUGA: LPMKal Condongcatur Gelar Pertemuan Dihadiri Plt Lurah

Kebutuhan terhadap semangat tirakat juga sangat mendesak dalam dunia kepemimpinan. Banyak pemimpin memiliki kecerdasan tinggi, kemampuan komunikasi yang baik, serta jaringan yang luas. Namun, kualitas tersebut sering kehilangan makna ketika tidak disertai integritas. Kepemimpinan yang kuat tidak lahir dari ambisi semata. Kepemimpinan yang bermartabat lahir dari kemampuan mengendalikan ego, menahan godaan kekuasaan, serta menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi.

BACA JUGA: Pengelola Pijat Spa 'LV' di Jalan Magelang Km 10 kena Denda Rp 1 Juta, Ini Penyebabnya

Sejarah bangsa Indonesia menghadirkan banyak teladan tentang pemimpin yang memiliki laku tirakat. Para pendiri bangsa menjalani perjuangan panjang dengan pengorbanan yang besar. Mereka hidup sederhana, bekerja tanpa kemewahan, dan menempatkan cita-cita kemerdekaan di atas kepentingan diri sendiri. Keteladanan semacam itu menjadi semakin penting untuk dihadirkan kembali dalam kehidupan publik dewasa ini.

BACA JUGA: Spanduk dan Reklame Ilegal Marak di Depok, Satpol PP Bertindak

Pembangunan peradaban yang maju tidak dapat hanya mengandalkan pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, atau pembangunan infrastruktur. Peradaban yang kokoh membutuhkan fondasi moral yang kuat. Sejarawan Arnold Toynbee menjelaskan bahwa kemajuan suatu peradaban sangat ditentukan oleh kemampuan masyarakatnya merespons tantangan secara kreatif dan bermoral. Peradaban akan mengalami kemunduran ketika elite kehilangan integritas dan masyarakat mengabaikan nilai-nilai etika.

BACA JUGA: Lantik 10 Pejabat, Menaker Tekankan Penguatan K3 dan Tata Kelola yang Akuntabel

Bulan Suro memberikan momentum penting untuk melakukan refleksi kolektif. Masyarakat dapat menjadikan Suro sebagai kesempatan memperkuat budaya malu terhadap perilaku menyimpang, membangun etos kerja yang jujur, serta menumbuhkan kepedulian sosial. Dunia pendidikan dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat pendidikan karakter. Para pemimpin juga dapat menjadikannya sebagai pengingat bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan sekadar simbol kekuasaan.

BACA JUGA: Danrem Dukung Indonesia Horse Racing King's Cup Series Piala Paku Alam

Indonesia membutuhkan lebih banyak manusia yang bersedia bertirakat dalam makna yang luas. Bangsa ini membutuhkan guru yang bertirakat demi masa depan muridnya. Bangsa ini membutuhkan pejabat yang bertirakat terhadap godaan korupsi. Bangsa ini membutuhkan pengusaha yang bertirakat terhadap keserakahan. Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang bertirakat terhadap budaya instan dan ketergantungan digital.

BACA JUGA: Abdul Halim Muslih: Banser Harus Tetap Solid dan Siap Hadapi Tantangan Zaman

Suro akhirnya mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan pikiran, tetapi juga oleh kemuliaan akhlak. Indonesia telah memiliki banyak orang pintar. Tantangan terbesar bangsa ini adalah melahirkan lebih banyak orang yang mampu mengendalikan diri, menjaga integritas, dan mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan bersama. Dari situlah peradaban yang beradab akan tumbuh dan bertahan melintasi zaman. (Penulis: Yuliantoro, Alumnus Sosiologi UGM)


share on: