Genthong Hariono SA, Antara Keindahan dan Kehangatan Kebudayaan

share on:
Almarhum Genthong Hariono Seno Ali || YP-Wahjudi Djaja

SAYA mengenal dan akrab jumpa darat pertama kali dengannya pada 12 Agustus 2012. Itu saat-saat pertama saya melompat dari dunia sejarah ke dunia sastra, berkat para senior yang baik hati: Ismet NM Haris, Hamdy Salad, Boedi Ismanto SA (alm), Syam Candra dan Faruk HT.

BACA JUGA: Gubernur DIY: Keberhasilan Pelayanan Kesehatan Bukan Sekadar Mengobati

Dari mereka saya sedikit demi sedikit bisa menyelami dan memahami semesta budaya Yogyakarta. Sebuah lanskap budaya yang, dalam beberapa tahun kemudian, meletakkan saya pada kesadaran akan laku hidup. Kehangatan dibangun dalam aras saling ngrengkuh, apalagi pada kami yang jauh di bawahnya, tetapi tetap menjadi nyaman karena berada pada gelombang dan frekuensi yang sama. Sering kami ngobrol di angkringan atau usai nonton repertoar, entah baca puisi atau teater, yang selalu membawa kami bisa menikmati panjangnya malam di Yogyakarta.

BACA JUGA: Eks Jampidsus Febri Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Tanpa Rompi Tahanan dan Tak Diborgol

Entah kenapa saya berani memanggilnya "Kangmas" pada sosok kelahiran Wates 8 Januari 1945 ini. Memanggil "Pak" di dunia sastra budaya kok rasanya kaku, seperti menabrak dinding. Tetapi dengan menyebut Kangmas Genthong, ada keakraban, kehangatan dan energi yang mampu memagari persahabatan kami menjadi memanjang tak mudah putus.

BACA JUGA: Di Kota Yogya, Destinasi Wisata Dermaga Cinta Gajah Wong akan akan Dihidupkan

Bagi saya, menyebut senior dengan Kangmas adalah penghormatan, menegasikan jarak, dan karenanya, meluruhkan sekat dan jarak sehingga saya bisa meneguk beragam ilmunya. Ini terkonfirmasi dengan sikap dan responnya yang ditulisnya beberapa tahun  kemudian (2023):

BACA JUGA: Lagi, Polresta Yogyakarta Tetapkan Lima Tersangka Kasus Dugaan Kekerasan Anak di Litle Aresha

"Ada sahabat yang memanggilku dengan sebutan "Mbah", entah apa maksudnya, apa agar aku segera kehilangan semangat hidup?!  Ada pula orang Solo yang langsung menunjukku dan mengatakan, bahwa Aku sudah tua.  Setengah jam kemudian dia ulangi lagi, bahwa aku sudah tua, tak usah aktif bicara.

BACA JUGA: Residivis Curanmor Asal Kuningan Ditangkap Usai Beraksi di Tempel Sleman

Saya sebenarnya hanya ingin menunjukkan, bahwa ucapan sederhana seperti, "Kamu nampak masih segar, sehat dan bersemangat", bagi seseorang, berapapun usianya, sangat berarti dan lebih hebat dari segala 'elixier' pemerpanjang usia warisan nenek moyang...".

Saya paham dengan 'kegelisahan' Kangmas Genthong Hariono, salah satu sosok legendaris dalam dunia sastra dan seni peran kita. Sepuh tapi tetap ngombyongi yang muda itu mengasyikkan. Tua tetapi senang gojek kere itu menjadikan suasana cair.

BACA JUGA: HUT ke-79 Kemnaker Jadi Momentum Perkuat Vokasi dan Transformasi Green Office

Dalam beberapa kali komunikasi, baik langsung maupun melalui pesan, beliau mengungkapkan rasa bahasa itu. Jika hidup bisa saling mengisi dan menguatkan, untuk apa harus mematahkan dan menegasikan? Dari interaksi itu, dalam beberapa kali diskusi di rumah saya, ada banyak inspirasi yang bisa saya petik.

BACA JUGA: Wartawan di Gunungkidul Mantap Mendaftar Sebagai Calon Lurah Ngawu

Genthong Hariono pentas drama pertama kali di tahun 1965, usianya sekitar 20 tahu. Itulah proses kreatif pertamanya dengan Sanggarbambu. Dia ajak teman-temannya di Sanggarbambu bersama para mahasiswa Fakultas Sastra UGM yang tergabung dalam Lingkar Studi Sastra dan. Maklum, ketika itu nyaris setiap hari Genthong tidur di sanggar. Lakon yang dia pentaskan adalah Acokawardhana karya G. Gongrijpt.

BACA JUGA: UGM Resmikan Sekolah Berkuda di Fakultas Peternakan, Terbuka untuk Masyarakat

Setelah itu Genthong melanjutkan proses kreatif dan berkegiatan di Jakarta. Mulai pameran, proyek mobil hias, relief Gedung Pola (bekas Rumah Proklamasi di Pegangsaan Timur 56). Genthong kemudian bertualang ke Eropa, sampai pulang pada 1978, mendirikan Teater Tikar Sanggarbambu, atas persetujuan Soeharto Pr. Dia membuat pementasan Sebuah Jalan ke Kutub, dan Ributnya Pondok Sunyi. Keduanya karya Genthong.

BACA JUGA: Malioboro Jadi Ruang Akulturasi, Pawai 'Pesona Budaya Sumatera Utara' Pukau Wisatawan

Genthong kembali ke Jerman, baru pulang pada 1980. Bersama Teater Tikar Sanggarbambu dia membuat banyak pementasan, di antaranya Hello Out There, Pacar Harold Pinter, Sang Pengemis dan Kaisar Bertolt Brecht, Waiting for Godot Samuel Beckett, Perang Sunyi Sunyi Perang, dll.

BACA JUGA: ‘Prahara Pulau Emas’, Merawat Ingatan Kolektif tentang Bencana Sumatera

Begitulah sekelumit perjalanan yang sempat dikisahkan Genthong Hariono. Energik, penuh semangat, kreatif dan berdaya jelajah. Mengisi harinya, Kangmas Genthong mendatangi berbagai acara sastra dan budaya. Tak ingin menonjol, duduk diam tetapi menyimak sambil memberi komentar pada teman yang ada di sebelahnya. Pada 2018 beliau mengundang saya untuk menghadiri sidang terbuka program doktor untuk Riana Diah Sitharesmi, istrinya, di Fakultas Filsafat UGM. "Silakan hadir, itu bojoku, Dhimas", ajaknya.

BACA JUGA: Menyelami Laut Kerinduan dalam 'Gelombang Laut Ibu' Karya Ulfatin Ch

Genthong Hariono Selo Aji (Genthong HSA) adalah sosok yang pandai mengekspresikan keindahan dan kehangatan dalam hidup, baik saat berkebudayaan maupun dalam keseharian sebagai seorang anak manusia. Baginya, "mungkin hidup memang hanya untuk mengenal dunia sekaligus bersiap meninggalkannya dengan meng-eraser dunia dari jiwamu", tulisnya.

BACA JUGA: Puisi Jelek untuk Penguasa Buruk

Hari ini, 27 Juli 2026, sosok gagah pidekso itu telah kembali, pulang ke sanggar kesejatian. Beberapa saat menderita sakit, penyair Afnan Malay membuatkan puisi "Rasa Sakit Itu" untuknya. Berikut petikannya:

Mas, rasa sakit tidak pernah selesai
didatanginya mereka-mereka
yang tumbuh
dalam pikiran-pikiran orang-orang
penjaga luka-luka orang lain
dari empati ke empati

Sugeng kondur Kangmas Genthong Hariono Seno Ali. Mugi tansah kasuwargan, aamiin yra.

Ksatrian Sendaren, 27 Juli 2026
Wahjudi Djaja


share on: