Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) - 31 Kalurahan di Kabupaten Gunungkidul bakal menggelar pemilihan lurah atau pilur pada 26 September 2026 yang akan datang. Hingga batas akhir pendaftaran calon lurah pada 23 Juli 2023 terdapat 99 orang yang resmi mendaftar. Dari 99 orang bakal calon satu diantaranya berprofesi sebagai wartawan, sekaligus pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gunungkidul, Suharjono yang mendaftar di Kalurahan Ngawu.
BACA JUGA: Lagi, Polresta Yogyakarta Tetapkan Lima Tersangka Kasus Dugaan Kekerasan Anak di Litle Aresha
Kepala Bidang Bina Administrasi dan Aparatur Pemerintahan Kalurahan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKP2KB) Gunungkidul, Kriswantoro mengatakan, Kalurahan Sampang, Kapanewon Gedangsari, paling banyak ada 9 bakal calon lurah.
BACA JUGA: HMI Meuseuraya: Jalan Baru Membangun Persatuan dan Relevansi HMI di Tingkat Nasional
Kalurahan Monggol, Kapanewon Saptosari, sebanyak tujuh bakal calon telah mendaftar. Disusul Mertelu, Gedangsari, dengan enam bakal calon dan Kampung, Ngawen, dengan lima bakal calon.
"Nanti yang lebih dari 5 akan diseleksi terlebih dahulu, total ada sebanyak 99 orang di 31 kalurahan," kata Kriswantoro, saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (27/6/2026).
BACA JUGA: Eks Jampidsus Febri Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Tanpa Rompi Tahanan dan Tak Diborgol
Agenda pemeriksaan kelengkapan persyaratan para bakal calon. Sebelum nantinya ditetapkan calon lurah. "Sekarang sudah ada 23 lurah petahana yang menyerahkan berkas pendaftaran," ucapnya.

Sementara bakal calon lurah, berprofesi sebagai wartawan, sekaligus pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Gunungkidul, Suharjono, mendaftar di Kalurahan Ngawu.
BACA JUGA: Sarana Irigasi Pertanian, Embung Kaliaji Turi Disulap Jadi Destinasi Wisata Populer
Suharjono mengatakan, sudah menyiapkan visi dan misi untuk dipersiapkan membangun Kalurahannya jika terpilih. "Saya ingin siapkan Ngawu sebagai desa digital dengan mendorong lahirnya pemuda-pemuda entrepreneur berbasis digital," kata wartawan Koran Seputar Indonesia (Sindo) ini.
BACA JUGA: Kebakaran Hutan di Imogiri Hanguskan 8 Hektare Lahan, Terjadi Sehari di Dua Lokasi
Diakuinya, saat ini Kalurahan sedang dilematis, karena dana desa dari Pemerintah Pusat harus dipotong. Hal ini, menjadi tantangan yang harus diselesaikan karena kemampuan fiskal di kalurahan benar-benar terbatas.
"Potensi utama di kalurahan adalah pertanian, maka harus dilakukan upaya modernisasi dan digitalisasi untuk optimalisasi," ucapnya. (Dwa)
