Gubernur DIY: Keberhasilan Pelayanan Kesehatan Bukan Sekadar Mengobati

share on:
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X || YP-Dok Pemda DIY

Yogyapos.com (YOGYA) – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari kemampuan mengobati. Keberhasilan tersebut juga ditentukan oleh kemampuan mencegah, menemukan penyakit lebih awal, dan menjangkau masyarakat sebelum keadaan terlambat. 

BACA JUGA: Wartawan di Gunungkidul Mantap Mendaftar Sebagai Calon Lurah Ngawu

Dia mengungkapkan penyakit menular seperti hepatitis masih memerlukan perhatian serius. Pada saat yang sama, perubahan pola hidup, konsumsi yang kurang sehat, kurangnya aktivitas fisik, kegemukan, dan diabetes turut meningkatkan risiko gangguan hati serta penyakit saluran pencernaan. Bahkan, banyak di antara penyakit tersebut tumbuh secara perlahan tanpa keluhan yang mudah dikenali. 

BACA JUGA: Eks Jampidsus Febri Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Tanpa Rompi Tahanan dan Tak Diborgol

“Ketika gejala mulai dirasakan, kondisi sering kali telah menjadi lebih berat. Karena itu, keberhasilan pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari kemampuan mengobati, melainkan juga ditentukan oleh kemampuan mencegah, menemukan penyakit lebih awal, dan menjangkau masyarakat sebelum keadaan terlambat. Di sinilah kemajuan teknologi memperoleh tempatnya,” kata Sri Sultan dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).

BACA JUGA: Kebakaran Hutan di Imogiri Hanguskan 8 Hektare Lahan, Terjadi Sehari di Dua Lokasi

Menurut Sri Sultan, sistem digital dan kecerdasan buatan dapat membantu dokter membaca hasil pemeriksaan secara lebih teliti. Namun, ketepatan teknologi tetap memerlukan kebijaksanaan manusia. Keputusan medis membutuhkan ilmu, pengalaman, etika, kehati-hatian, dan empati. 

BACA JUGA: HMI Meuseuraya: Jalan Baru Membangun Persatuan dan Relevansi HMI di Tingkat Nasional

“Sebab pasien bukan sekumpulan angka. Di hadapan dokter selalu berdiri manusia dengan riwayat hidup, kecemasan, keluarga, dan harapan untuk kembali sehat. Teknologi dapat memperkuat kemampuan diagnosis, tetapi tanggung jawab klinis tetap berada pada manusia,” tegas Sri Sultan.

BACA JUGA: Malioboro Jadi Ruang Akulturasi, Pawai 'Pesona Budaya Sumatera Utara' Pukau Wisatawan

Di samping itu, dikatakan Sri Sultan bahwa dalam pandangan Jawa, sehat dekat dengan makna waras. Pengertiannya namun bukan hanya keadaan ketika tubuh terbebas dari penyakit. Bagi Sri Sultan waras adalah keseimbangan antara raga, pikiran, batin, dan lingkungan kehidupan, yang mana ketika keseimbangan terganggu, tugas kedokteran hadir untuk memulihkan harmoni tersebut.

BACA JUGA: Alumni UPN Veteran Yogyakarta dan Desa Sriwedari Perkuat Kemitraan Melalui Panggung Budaya

“Pencegahan perlu diperkuat, pemeriksaan dini harus diperluas, dan kemampuan diagnosis dan pengobatan harus terus ditingkatkan. Kolaborasi lintas disiplin juga perlu dibangun agar kemajuan ilmu benar-benar hadir sebagai manfaat bagi masyarakat. Semoga dari Yogyakarta lahir gagasan yang memperkuat ilmu kedokteran Indonesia, sekaligus memuliakan martabat setiap pasien,” pungkas Sri Sultan.

BACA JUGA: Antisipasi Wabah PMK, DKPP Bantul Gelar Vaksinasi Gratis PMK di Kandang Ternak 45 Depok

Senada dengan Sri Sultan, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Dr dr Andri Sanityoso, SpPD, K-GEH, FINASIM turut menekankan urgensi kolaborasi dalam menuntaskan masalah hepatitis di Indonesia. Sebab, data menunjukkan bahwa beban penyakit hati kronis di Indonesia masih sangat tinggi. Untuk itu, PPHI juga terus mendorong strategi nasional dalam mengeliminasi hepatitis.

BACA JUGA: ‘Prahara Pulau Emas’, Merawat Ingatan Kolektif tentang Bencana Sumatera

“Kami di PPHI berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan berbasis bukti, di antaranya, mulai dari optimalisasi skrining hepatitis B pada ibu hamil hingga pengenalan teknologi diagnostik baru seperti biomarker PIVKA-II untuk deteksi dini kanker hati. Acara ini pun menjadi langkah konkret untuk mempercepat eliminasi hepatitis 2030,” papar dr Andri. (Jhw)


share on: