Ditemukan Kasus DB Di Mororejo, Dinkes: Penanganannya Tak Cukup Fogging

share on:
Sejumlah relawan Rekat turut mendampingi petugas fogging || YP-Eko Purwono

Yogyapos.com (SLEMAN) - Puskesmas Tempel 1 bersama pihak terkait melakukan fogging focus atau pengasapan di wilayah Dusun Plumbon Tengah, Kalurahan Mororejo, Kapanewon Tempel, Senin (3/3/2025) pagi. Sejumlah warga terjangkit demam berdarah dengue (DBD/DB) 

Kepala Puskesmas Tempel, dr Diana Kusumawati mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mencegah meningkatnya kasus DBD yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti

BACA JUGA: Khalid Zabidi: Berantas Mafia Migas, Jangan Terkecoh Kasus Pertamax Oplosan

“Fogging focus ini bertujuan untuk mencegah penyebaran yang lebih luas,” kata Diana. 

Diana menjelaskan, tindakan ini dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi terdapat penularan DBD dalam radius 100 meter, serta dibuktikan dengan laporan Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS) dan angka bebas jentik <95 persen. 

“Dan langkah ini setelah dikonsultasikan dengan dinas Kesehatan Kabupaten Sleman,” jelasnya.

BACA JUGA:Seorang Pemotor Asal Temanggung Meninggal, Diduga Tabrak Trotoar

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Dinas Kesehatan Sleman, dr. Khamidah Yuliati MMR, mengungkapkan, sebenarnya fogging hanya menyasar nyamuk dewasa saja, sehingga perlu ditindaklanjuti dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). 

“Fogging hanya untuk nyamuk dewasa, bukan untuk telur dan jentik nyamuk aedes, jika di fogging tanpa ada PSN, maka resiko penularan penyakit DBD/DB masih akan tetap ada,” ungkap Yuliati. 

BACA JUGA: Polisi Kantongi Calon Tersangka Kasus Keracunan Massal di Dusun Krasakan

Adanya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Demam Dengue (DB) dan angka bebas jentik (ABJ) sebesar 80 persen, padahal ketentuan ABJ harus di angka 95 persen. 

“Jadi di area Dusun Plumbon Tengah, ABJ masih di bawah yang seharusnya,” katanya.

Menurutnya, fogging merupakan salah satu pengendalian demam berdarah yang pelaksanaannya  harus dilakukan secara bijak, lantaran akan berdampak terhadap  lingkungan. 

“Paling utama untuk pengendalian DBD/DB adalah dengan PSN yaitu memberantas sarang nyamuk untuk memutus rantai siklus hidup nyamuk,” tandasnya.

Dia mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan gerakan 1 rumah 1 jumantik dan PSN, pengendalian DBD/DB harus dilakukan secara terus menerus dengan konsisten.

“Secara keseluruhan kasus DBD/DB di Kabupaten Sleman memang meningkat, tapi Alhamdulillah tidak sampai ada kematian,” imbuhnya. 

BACA JUGA: Kejati Supervisi Pengusutan Dugaan Korupsi Dana Pariwisata, Belum Ada Tersangka

Lurah Mororejo, Jaka Ristanta menjelaskan, tercatat sebanyak 3 orang terjangkit demam berdarah, hal tersebut berdasarkan hasil surat keterangan dari rumah sakit. Dia pun mengingatkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap pola hidup sehat, dengan menerapkan gerakan 3 M (menguras, menutup dan mengubur). 

“Terkait dengan fogging tadi pagi  upaya kita untuk mencegah perkembangan nyamuk yang menyebarkan penyakit DB, setelah ini akan kami lakukan gerakan  masyarakat untuk melakukan bersih-bersih lingkungan, agar tidak ada lagi tempat sarang nyamuk,” tutur Jaka. (Opo) 

 

 

 

 


share on: