Yogyapos.com (BANTUL) - Meski kemajuan teknologi semakin berkembang pesat termasuk teknologi transportasi, namun hal itu tak memengaruhi Paidi (72) untuk tetap bertahan menekuni pekerjaannya sebagai bengkel dan pembuat alat transportasi andhong.
Warga warga Dusun Tanjung Kalurahan Patalan Kapanewon Jetis Kabuaten Bantul ini, bekerja mewarisi profesi almurhum ayahnya Harjo Wiyono dan Kakeknya Pawiro.
BACA JUGA: Simpan Pedang di Mobil Dijerat Undang-undang Darurat
“Ayah saya dan kakek saya dulu sebagai pembuat dan bengkel andhong. Sedangkan Saya sejak berumur 17 tahun juga membantu dan belajar pekerjaan itu dan hingga kini masih bertahan,” tutur Paidi kepada yogyapos.com disela bekerja bersama beberapa tenaga kerjanya di rumahnya, Dusun Tanjung, Patalan Jetis Bantul, Selasa (11/2/2025).
Paidi, bapak yang dikaruniai beberapa anak dan cucu ini, mengungkapkan, meskipun penghasilan pekerjanya tidak menentu, namun jika dihitujg seksama masih relatif dapat memperoleh rezeki dari para pemilik dan pemesanya.
“Saat ini ada tiga andhong atau ada kereta replika kereta kencana yang dibengkelkan di sini. Kalau itu semua sudah selesai, saya dan tukang kami juga bayaran,” sambungnya.
BACA JUGA: Periksa 315 Saksi, Kejari Belum Tetapkan Tersangka Korupsi Dana Pariwisata
Tentang ongkos memperbaiki andhong atau kereta tergantung pada tingkat kerusakan dan bahan materialya. Jika kerusakanya ringan ya ongkosnya sedikit dan sebaiknya. Bila kualitas onderdil yang untuk perbaikan yang berkualitas maka ongkosnya juga mahal dan sebaliknya.
“Niki, kereta ini dibengkelkan ke sini dan kerusakannya pada asisorisnya cukup serius. Maka waktu perbaikanya juga membutuhkan waktu relatif lama,” ungkap Paidi sembari menunjukan bagian kerusakan kereta yang harus diperbaikinya.
BACA JUGA: Sri Sultan Hamengku Buwono X Serahkan 222 Serat Palilah kepada Warga Turi
Kayu untuk pembuatan kereta pada umumnya kayu jeti. Namun ada pula jenis lain. Misalnya pemesan ada yang fanatik dengan kayu ulin. Kayu jati karakteristiknya halus dan mudah dibentuk. Sedangkan kayu ulin keras dan memerlukan waktu lama dalam menjadikan onderdil andhong.
.jpg)
Menjawab pertanyaan andhong yang diperbaikinya dari mana saja, Paidi mengatakan, sebagian ada yang dari Kraton Yogyakarta (milik Gusti Yudhaningrat) dan ada yang dari masyarakat umum.
BACA JUGA: Korban Keracunan Makanan di Krasakan 160 Orang, Penyedia Siomay Buka Suara
“Sebenarnya harga adhong bervariasi dan tergantung pada kualitas dan jenisnya. Yang baru dan berkualitas sedang sekitar Rp 100 juta per unit,” katanya.
Membuat andhong memang harus teliti. Sedangkan bagian-bagiannya diantara body menggunakan besi dan kayu, demikian pula rodanya. Indennya besi dan jerujinya serta mangkokan (bos) dan asisorisnya menggunakan logam kuningan ataupun kayu.
“Andong akan mudah dan cepat rusak jika tidak teramat. Misalnya sering terkena panas dan air hujan namun tidak pernah dicuci dan dilap. Jadi sebaiknya andhong disimpan di tempat yang teduh,” tambahnya.
Sementara itu Sumardi (65) tenaga kerja bengkel andhong, sambil membakar besi untuk pembuatan andhong secara tradsional, mengatakan, membuat andhong baginya tidak ada bagian yang sulit karena sudah terbiasa.
“Semuanya gak sulit namun perlu ketelatenan dan kecermatan tersendiri,” ungkap Sumardi.
BACA JUGA: Kompol Citra Fatwa Rahmadani Resmi Menjabat Wakapolres Bantul
Menurut Lurah Patalan, Jazuari, bengkel andhong ini merupakan potesi seni, budaya, pariwisata dan ekonomi Patalan.
“Kini sudah jarang ditemukan adanya. Namun hingga kini Pak Paidi dan para pembantunya masih tetap eksis dan bertahan menekuni pekerjaannya,” kata Jazuri.
Diharapkan keberadaan bengkel dan pembuatan andhong mendapatkan atensi dari berbagai pihak agar tetap ada bahkan dapat berkembang. (Spd)
