43 Perupa Ikuti Pameran KGPAA Pakualam VIII

share on:
Sebagian diantara perupa yang ikut memamerkan karyanya || YP-Yuliantotro

Yogyapos.com (BANTUL) - “Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Pakualam VIII merupakan pemimpin Kadipaten Pakualaman yang terlama, yaitu 61 tahun. Beliau bersama dengan Hamengku Buwono IX secara bersama-sama menggabungkan diri ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sehingga NKRI menjadi negara yang utuh tanpa ada negara lain.”

Sepenggal paragrap tersebut diuangkapkan Yaya Maria, salah satu perupa yang ikut memajang karya lukis KGPAA Pakualam VIII “Sang Pahlawan” di sela pembukaan pameran lukisan bertajuk “KGPAA Pakualam VIII Sang Pahlawan dalam Visi Seniman Yogyakarta”, Sabtu 2 Desember 2023.

BACA JUGA: Pembukaan Dihadiri Brotoseno: Poskora di DIY, Jateng dan Jatim Siap Menangkan Anies Baswedan

Yaya Maria bersama 43 perupa Yogyakarta menggelar pameran lukisan “KGPAA Pakualam VIII Sang Pahlawan dalam Visi Seniman Yogyakarta” hingga 7 Desember 2023 di Galeri Kopi Macan Jl. Bugisan Selatan No. 9B Tegal Senggotan Tirtonirmolo Bantul.

Ketua Pameran Ocong Suroso dalam sambutan pameran yang dibuka oleh Johan Setiawan mengatakan kurang lebih sudah satu tahun lamanya pada waktu itu , kita para perupa diundang oleh pihak TVRI untuk OTS bersama melukis Paduka Sri Pakualam VIII. Setelah Paduka Sri Pakualam wafat dengan penganugerahan sebagai pahlawan nasional.

BACA JUGA: Ribuan Pendukung Anies Baswedan Optimis Berhasil Rebut Kedaulatan Rakyat Melalui Pilpres

“Kita sebagai perupa bisa ikut serta dalam penyelengaraan OTS tersebut untuk ikut mamayu hayuning praja. Mencatat sejarah lewat karya seni rupa. Semoga ini menjadi catatan sejarah bagi kita semua. Sekian lama kita menunggu penyelenggaraan karya-karya  dipamerkan, mbok menawa bisa dadi bebungah untuk kita semua, dan saat inilah pameran bisa terselenggara,” katanya.

BACA JUGA: Pasangan 'AMIN' Nomor 1, Muhaimin Iskandar Menunjukkan Kelasnya Sebagai Cawapres dengan 'C' Kapital

Kurator Pameran Dr Hadjar Pamadhi mengatakan para seniman Yogyakarta, tertarik dengan sosok Paku Alam VIII, tokoh kemerdekaan Indonesia ini mampu menjembatani warga Yogyakarta terhadap negara Repulik Indonesia yang mendapatkan Anugerah Pahlawan Nasional 7 November 2022 di Istana Negara. Beberapa seniman tertarik dari biografi beliau Sang Pahlawan pada masa perjuangan kemerdekaan mendapat gelar Mayor Jenderal TNI (Tit) BRMH Sularso Kunto Suratno (10 April 1910 – 11 September 1998).

BACA JUGA: Hidup dengan Kue Putu Sejak 1979, Ini Pendapatan Kamijan dan Wasiati Setiap Hari

“Raja Kadipaten Pakualaman bertahta ke VIII membersamai Raja Kasultanan Yogyakarta Hamengku Buwono IX mengeluarkan amanat integrasi ke dalam Republik Indonesia (5 September 1945). Dimulai pada 19 Agustus 1945 mengirimkan telegram kepada prsiden Sukarno dan Haa atas berdirinya RI dan terpilihnya mereka sebagai Presiden dan Wakil Presiden,” tulis Hadjar Pamadhi dalam kurasinya.

BACA JUGA: Kenneth Trevi Anak Twice Exceptional Rilis 'Rapuh Jadi Utuh' Karya Rulli Aryanto

Kemudian kerajaan Mataram menjadi kesatuan NKRI dengan penghargaan Daerah Ismewa untuk mewujudkan kesejahteraan warga Ngayogyakarta. Menurut Hadjar, aura prajurit yang selalu diciptakan oleh ayahnda Pakualam VII, melalui kegemaran olahraga perang, khususnya panahan gaya Pakualaman.

Keberhasilan kepemimpinannya didasari oleh prinsip akademik, beliau mengecam pendidikan di Europesche Lagere School Yogyakarta, Christelijke MULO Yogyakarta, AMS B Yogyakarta, Rechtshoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta - sampai angkat candidaat).

BACA JUGA: Polisi Belum Perlu Menahan Firli Bahuri

Sejarah Pakualam VIII ini menginspirasi beberapa seniman Yogyakarta untuk menokohkan sebagai objek berkarya Seni Lukis. Dipilihnya seni lukis seiring dengan harapan mampu menggambarkan kiprah beliau melalui langgam serta media berkarya. Langgam realis, realisme dan neorealisme.

Beberapa seniman yang menganut langgam realis: Aldiya Rakasiwi, Antonius Sambodo, Endang Apriyanto (Bak), Mulyo Gunarso, Raden Raharjo, Damar Sungkowo, Momi Budi Utomo, Muji Chino, Giring Prehatyosono.

BACA JUGA: Wamenkumham Resmi Tersangka Gratifikasi, Belum Ada Informasi Penahanan

“Karya Lukis terarah bentuk potret Pakualam VIII yang diakspresikan dalam berbagai corak. Kekuatan impresi akan mempengaruhi bentuk sehingga menjadikan focus figure Pakualam VIII,” ujarnya

Sedangkan, Realisme yang diangkat oleh: Alfi Ardyanto, Bagaskara, Barlin Srikton, Yaya Maria, I Gus Ngurah Dharma Kusuma, SSn., Efrie Irmasari, Ikhman Mudzakir, Harman, Ida Ratnaningrum, Nanang Widjaya, Herlina Tojo, Tales Suparman (TALSU), Chamit Arang, Agus Clowor Purwanto, Daliya, Jumadi, Ocong Suroso, Wasis Subroto sengaja menggambarkan objek formalnya figure Pakualam VIII.

BACA JUGA: Main Bacok, Remaja 16 Tahun dan Barang Bukti Celurit Jumbo Diamankan Polisi

“Beberapa goresan mampu memberi goresan berwacana sosok Pakualam VIII,” tandasnya.

Langgam berikutnya adalah Neorealisme, figure Pakualam dicapai melalui kekuatan bentuk, figure pendukung, super lambing Kadipaten Pakualaman maupun pendampingan bentuk. Seniman Sukriyal Sadin, Jedink Alexander (ekspresionisk), Didit njedit, Yan santana, Heni Susilawa, I Made Arya Dwita (dedok), Mamik Slamet, Djoko Sardjono, Grace Tjondronimpuno, Eko Bendol Purnimo, Ledek Sukadi tidak semata mengangkat pas foto, melainkan penerjemahan 'laku, pendampingan logo'.

Sehingga menunjukkan figur Pakualam VIII. Para seniman sengaja mempelajari watak dan karakter melalui studi sejarah atau biografi ini ternyata berhasil memberi gambaran figure, hobi, pekerjaan dan keanggunan sosok penguasa Kadipaten Pakualaman. (Yuliantoro)

 


share on: