Yogyapos.com (BANTUL) - Kamijan (62) dan Wasiati (58) warga Sulang Kidul Patalan Jetis Kabupaten Bantul, boleh dibilang istiqomah. Sejak dulu hingga kini tetap menggantungkan hidup dari kerja kerasnya memproduksi kue 'Satu'.
Meski digempur oleh produksi kue masa kini yang dari waktu ke waktu memenuhi pasar perdagangan kue, namun pasangan suami istri ini tak mempedulikannya.
BACA JUGA: Kapolda DIY: Mahasiswa Korban Terbanyak Penipuan
“Kami berdua mulai berdikari membuka usaha ini sejak tahun 1979. Alhamdulilah hingga kini tetap eksis dan menguntungkan. Berkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga,” papar Kamijan dan Wasiati di saat bekerja di rumahnya Sulang Kidul 59, Patalan, Bantul, belum lama ini.
BACA JUGA: Polisi Belum Perlu Menahan Firli Bahuri
Kamijan menuturkan, semula jumlah produksinya terbatas hanya rata-rata 100-200 kue 'Satu' atau 10-20 pak per hari.
Kamijan dan Wasiati saling bahu membahu memproduksi kue 'Satu' || YP-Supardi
“Kulo remen, sebab lambat laun jumlah produksinya bertambah menjadi 1.000 hingga 2.000 kue atau 100 sampai 200 pak per hari. Maka otomatis knutungannya meningkat pula dan kini rata tata Rp 200.000 hingga Rp 400.000 setiap harinya,” sambungnya.
BACA JUGA: Di DIY, Laskar PPP Optimis AMIN Menang 57 Persen
Untuk memenuhi tuntutan jumlah produksi, maka sejak beberapa tahun lalu, keduanya mempekerjakan tiga tenaga kerja yang semuanya warga Sulang Kidul.
“Tentang bahan baku kue pitu adalah tepung beras lembut dan kasar serta gula kelapa maupun gula pasir,” timpal Wasiati menjawab pertanyaan yogyapos.com.
BACA JUGA: 270 PNS Sleman Memasuki Purna Tugas
Ia menjelaskan, prosesnya pembuatan kue 'Satu' realtif mudah. Sediakan bahan baku antara lain berupa tepung beras dan gula hingga betul-betul tercampur dengan sempurna. Selanjutnya dicetak menjadi berbentuk persegi panjang dengan menggunakan alat cetak.
Beberapa pekerja gigih dan telaten || YP-Supardi
Setelah itu, kue 'Satu' yang telah jadi dibungkusi menggunakan kertas dan dikemas dengan pak plastik. Setelah itu makanan itu siap untuk dipasarkan dan dikonsumsi.
BACA JUGA: Penayangan Perdana 10 Film Pendek Terpilih Indonesiana Kompetisi 2023 di JAFF ke-18
Pemasaran kue ini diantaranya di pasar tradisional di Bantul dengan harga kulakan Rp 8.000 per pak dan harga di pedagang Rp 10.000 per pak.
Wasiati mengaku beroleh berkah. Di saat semakin sedikit orang melestarikan kue putu, ia dan suaminya justru tetap memproduksi kue yang nyaris langka ini. Dengan kata lain sedikit pesaing, sehingga lumayan menguntungkan. Bahkan seringkali mendapat pesanan dengan jumlah yang lumayan pula. (Spd)
