Yogyapos.com (SLEMAN) - Kali Bedog yang pernah menjadi urat nadi Kesultanan Yogyakarta perlu diselamatkan dari beragam kegiatan yang destruktif. Satu dari tujuh sungai yang legendaris di Yogyakarta ini menjadi locus beberapa desa wisata. Oleh karena itu, pengembangan desa wisata yang menggunakan Kali Bedog sebagai bagian antraksi harus menggunakan pendekatan yang benar.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-stie-pariwisata-api-gelar-kolaborasi-pariwisata-dan-sastra-9550
Demikian kesimpulan Seminar Pariwisata Rethinking Ecotourism ‘Mengembangkan Wisata Berbasis Masa Depan Sungai Bedog’, di Kampung Wisata Nglarang, Sidoarum, Godean, Sleman, Minggu (29/1/2023). Hadir sebagai narasumber Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Usaha Pariwisata, Dinas Pariwisata Sleman Nyoman Rai Savitri SPsi MEc Dev dan Wahjudi Djaja SS MPd dari Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS). Turut memberi masukan Erwan Widyarto fasilitator di Bank Sampah ‘Griya Sapu Lidi’.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-danrem-brigjen-puji-cahyono-ikuti-apel-dansat-di-akmil-magelang-9564
Nyoman Rai Savitri memaparkan pentingnya para pengelola desa wisata yang berbasis Kali Bedog untuk lebih memperhatikan savety sesuai standar rescue. “Tolong diperhatikan kesehatan dan keselamatan para wisatawan yang bermain mengingat Kali Bedog berhulu sungai di Gunung Merapi. Bagi yang sejak kecil akrab dengan kehidupan sungai mungkin akan mudah beradaptasi, tetapi ada juga yang kondisi badannya kebetulan tidak fit sehingga mengalami gatal-gatal dan sakit,” tukasnya.
Terkait kebijakan pengembangan desa wisata di Sleman, lanjutnya, Dinpar Sleman memang agak ketat. “Tak perlu buru-buru me-launching selagi belum ada kesiapan menyangkut SDM, atraksi yang bisa dijual dan jaringan yang belum terbentuk. Kami lebih suka, biarkan desa wisata hidup dulu dengan aktivitasnya agar masyarakat merasakan manfaatnya. Soal launching itu gampang,” imbaunya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-ratusan-anak-menari-di-mini-zoo-exotarium-mlati-sleman-9563
Sedangkan Wahjudi Djaja menjelaskan posisi Kali Bedog dalam bingkai sejarah Kesultanan Yogyakarta. Bersama Kali Progo, Kali Opak, Kali Gajahwong, Kali Kuning, Kali Code dan Kali Winongo, Kali Bedog menempati posisi penting sebagai pembentuk peradaban.
“Ekosistem yang ada di sekilar Kali Bedog perlu diidentifikasi dan diselamatkan. Lokalitas penting untuk diangkat, apalagi di sekitar Kali Bedog ditemukan jejak sejarah dan flora fauna khas", tandasnya.
Ketujuh sungai yang menjadi jantung sekaligus benteng alam Kesultanan Yogyakarta itu, lanjutnya, dikenal sebagai Sapta Sendawa (sapta artinya tujuh, sendawa atau sindu artinya sungai).
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-eka-aprilia-pimpin-korp-dakwah-iiq-annur-gantikan-erik-9561
“Kita perlu menggelar sarasehan dan kegiatan menyangkut sejarah ke tujuh sungai. Ini penting agar masyarakat menjadi paham dan mau memperhatikan kebersihan serta kelestarian sungai-sungai tersebut,” paparnya.
Andhyka Murti menyerahkan kenang-kenangan kepada Dukuh Cokrobedog || YP-Wahjudi Djaja
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-masyarakat-diimbau-waspadai-penipuan-di-akun-medsos-palsu-kai--9548
Pada kesempatan tersebut Ketua Paguyuban Pametri Kali Bedog (PPKB) Ahmad Yani menyambut baik kegiatan seminar ini. “Kami membuka kedua tangan untuk bekerja sama dalam menjaga dan melestarikan Kali Bedog. Setidaknya ada empat kalurahan yang terlibat, yakni Kampung Flory (Tlogoadi, Mlati), Dewi Rawe (Tirtoadi, Mlati), Kampung Wisata Nglarang (Sidoarum, Godean) dan Desa Wisata Religi (Nogotirto, Gamping). Kami berharap agar STIEPAR API Yogyakarta bisa membimbing dan mendukungnya,” pintanya.
Sedangkan Dukuh Cokrobedog Nursetyo Danusaputra mengucapkan terima kasih kepada STIE Pariwisata API Yogyakarta yang telah memilih Kampung Wisata Nglarang sebagai tempat kegiatan.
“Lokasi ini dulunya tempat pembuangan sampah. Lalu coba kami kelola sebagai tempat bermain dan kami kembangkan sebagai kampung wisata. Alhamdulillah, Bu Lurah Sidoarum mendukung. Oleh karena itu, kami mohon bimbingan dan bantuan baik dari Dinpar Sleman maupun STIE Pariwisata API Yogyakarta,” jelasnya.
Mewakili STIE Pariwisata API Yogyakarta, Andhyka Murti MPd menyampaikan bahwa kegiatan Seminar Pariwisata tersebut merupakan bagian dari mata kuliah MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition).
“Semoga para mahasiswa memiliki pengalaman empiris terkait MICE agar kelak meraka bisa menjadi bagian penting dalam perkembangan pariwisata,” harapnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-saatnya-yogyakarta-peduli-destinasi-wisata-reliji-9547
Sedangkan Rina Kuswardani SE selaku dosen pembimbing mengucapkan terima kasih atas suport dan kerjasama beberapa pihak sehingga seminar bisa terlaksana dengan baik dan lancar.
“Kami sangat berkepentingan bisa kerjasama dengan desa wisata yang ada di Sleman. Kebetulan kami di SMK Negeri 4 Yogyakarta sering melakukan kegiatan di desa wisata. Besar harapan kami agar kerjasama ini bisa ditingkatkan lagi,” harapnya. (Iud)
