Saatnya Yogyakarta Peduli Destinasi Wisata Reliji

share on:
Drs H Taufik Ridwan || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Sebagai warga Yogyakarta, khususnya pelaku industri bisnis pariwisata kita bersyukur akan diselenggarakan Asean Tourism Forum (ATF) di JEC 3-6 Februari 2023. Ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan:

1. Saatnya semua destinasi wisata lebih semangat berbenah dan bertahan utk selalu menarik wisatawan. Wisatawan akan menjadi "tuman" kalau di tempat wisata memiliki banyak kesan dan nilai positif. Dimulai dari para petugas dalam penyambutan dengan ikhlas dan riang gembira, ramah dan entengan walau sekedar diminta motret, lokasi yg bersih, kamar mandi yang bersih dan wangi dan yg tidak kalah adalah keberadaan masjid atau mushola yang bagus, bersih dan menyenangkan. Tempat sholat di setiap pariwisata harus ada dan menyenangkan. Ini bisa diprogram oleh pokdarwis atau pengelola juga menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk mewujudkannya. 

BACA JUGA:  https://yogyapos.com/berita-lapangan-ahmad-zaeni-gunakan-rumput-dactylon-dilengkapi--fitnes-outdoor-dan-jogging-track-9541

2. Ketika  destinasi wisata menarik dan tumbuh menjadi pilihan semua komunitas masyarakat maka otomatis menghidupkan UMKM dan bisnis di lokasi wisata dan otomatis akan ikut mengentaskan kemiskinan. Kan lucu, wisata yang hidup dan seolah ramai dengan padatnya wisatawan menjejali yogyakarta --kok tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Seharusnya kuantitas kunjungan wisatawan berdampak pada kualitas hidup masyarakat. 

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-hilab-luncurkan-hilab-golden-club-9546

Sifat mengalah warga Yogya untuk tidak keluar rumah saat Yogya penuh wisatawan seharusnya diperhatikan oleh pemerintah, dengan kompensasi kebaikan. Wujudnya banyak cara. Perlu dikaji lebih mendalam lewat riset oleh Perguruan Tinggi. Bagaimana kondisi masyarakat ketika "takut" degan keramaian, kemacetan dan tertekan. 

3. Saat ini banyak orang yang penasaran untuk datang ke Solo karena ada masjid Al Sayed yang megah dan luas, menjadi pengingat kita bahwa keberadaan masjid yang megah, dikelola secara profesional dan welcome kepada semua pendatang akan menjadi menarik wisatawan datang. Keberadaan masjid di Yogyakarta yang megah dan bisa memiliki peran --sebagaimana masjid Jogokariyan Yogyakarta-- sangat dibutuhkan dan diperbanyak. 

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-bupati-kustini-ajak-petani-cabai-kembangkan-potensi-lokal-9545

Saat ini harus ada penyadaran para pengelola masjid atau takmir untuk mau menjadikan masjid juga menjadi destinasi wisata rohani. Bahkan di setiap masjid bisa dihidupkan kegiatan bisnis atau koperasi yang profesional dan menjadi partner UMKM. 

4. Yogyakarta perlu juga dibangun destinasi wisata religi berbasis makam atau kuburan. 

Sebagai contoh, di komplek kampus Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta di Jl Ringroad selatan telah dibangun museum Muhammadiyah yang megah dan isinya sangat modern dan menantang wisatawan untuk memahami perkembangan dakwah islam. 

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-sidang-praperadilan-kuasa-hukum-pemohon-dan-termohon-saling-berkesimpulan-9543

Nah tidak jauh dari komplek kampus UAD ada makam pendiri Muhammadiyah KHA Ahmad Dahlan di karangkajen. Ziarah ke makam bagi seorang muslim itu disunahkan. Maka kalau misalnya makam Kyai Ahmad Dahlan itu dikemas dan dikelola menjadi destinasi wisata ziarah, barangkali menjadi menarik dan perlu dipraktekkan. Tetapi bagaimana tata cara dan etika berziarah sesuai sunah rosul, harus ditata dan dijadikan aturan bagi wisatawan ziarah.

Sungguh menarik andaikan jutaan warga Muhammadiyah khususnya, dan kaum muslim di seluruh dunia berziarah kepada pendiri Muhammadiyah dan sekaligus melihat hasil hasil ikhtiarnya almarhum.  Ziarah makam yang sesuai tuntutan Rosulullah menarik diadakan dan diperbanyak di Yogyakarta. 

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-gayeng-danrem-ikut-olahraga-bersama-panglima-di-mako-aau-9542

5. Yogyakarta, harus menjadi kota yang penuh berkah. Di antaranya banyak makanan yang halal dan berkah. Adanya penjual makanan dengan menu daging anjing dan babi harus diperjelas keberadaan dan lokasinya. Pemerintah harus mau menertibkan dengan zonasi atau memaksa kepada para penjualnya untuk transparan, misalnya penjual tongseng anjing tidak boleh menamakan dengan tongseng jamu, juga babi tidak boleh menggunakan istilah B2. Dengan demikian para pembeli lebih khusus kepada orang orang yang memang suka atau tidak kuat imannya. 

6. PPHI DIY sangat membuka kerjasama dengan banyak UMKM utk mendapatkan sertifikat halal utk produknya. Pengakuan halal atas produk tertentu pastilah memberi manfaat dan akan mendongkrak pada penjualannya. UMKM Pemilik  produk halal pasti akan mendongkrak kepada keberkahan dan kehidupan lebih baik. 

Pariwisata halal harus bisa menjawab tentang bagaimana mengentaskan kemiskinan. Dimulai dari produk produk yang disajikan kepada masyarakat halal. (Drs H Taufik Ridwan adalah Ketua PPHI DIY, Ketua JSM DIY dan Anggota Dewan Pertimbangan GIPI atau Gabungan Industri Pariwisata Indonesia) 

 

 


share on: