JAMAK kita lakukan, saat hidup tak semudah yang kita bayangkan atau ujian hidup yang berkepanjangan, kita ngunandika, inward looking, menengok ke dalam kata Ebiet, atau mengadakan refleksi.
BACA JUGA: Otopsi Sosial 2025 Menuju Indonesia Versi Baru
Apa yang terjadi pada hidupku. Mengapa nasib tak juga mujur? Apa salahku hingga pintu-pintu rezeki seolah tertutup? Serentetan pertanyaan diri bisa diperpanjang. Dan jawaban, kadang tak juga muncul. Kegelisahan pun menyergap jiwa. Lalu, dalam diam, kita berjalan keluar rumah, dan rentetan pertanyaan berhamburan seiring derai air mata. Diucapkan pada tengah malam, terutama dalam tradisi Jawa, menengok dan menengadah ke langit. Tanpa sekat, tiada batas. Tuhan Maha Mendengar, Maha Tahu, Maha Bijak. Bisik kita.
BACa JUGA: Polda DIY Selamatkan Potensi Kerugian Negara Rp 16,1 Miliar dari Tangan Koruptor
Itulah sambat. Berkeluh kesah. Bila bukan pada Tuhan, kepada siapa lagi kita bersandar? Bukankah hidup kadang tak bernalar? Inginnya mau berkeluh kesah pada teman, siapa jamin tak ditertawakan? Ke atasan? Zaman gini, mana ada atasan yang peduli pada nasib dan duka derita kita? Salah-salah malah dianggap tak ikhlas mengabdi atau dinilai indisipliner.
BACA JUGA: Polres Sleman Selidiki Dugaan Korupsi di BUKP Tempel
Nurani Seorang Nur Aini
Nur Aini. Hanya seorang guru SD. Tinggal di Bangil Pasuruan. Saat cari kerja tak semudah membuat lamaran, dia sudah menjadi ASN. Bayangan orang, sudah mapan dengan gaji tetap. Tapi hidup tak seperti yang dibayangkan orang. Hidup itu ya seperti yang kita alami dan jalani, tak bisa digebyah uyah, disama ratakan. Hidup itu unik, kata filsuf sejarah.
BACA JUGA: Haul Abah Guru Sekumpul: Cermin Cinta dan Kesadaran Kolektif Umat
Perlu menempuh jarak 114 km pergi pulang untuk membantu negara mencerdaskan kehidupan bangsa. Berkaca mata minus, tubuh yang kurus, wajah yang tua sebelum saatnya, lebih dari cukup menggambarkan bagaimana dia menjalani hidup dan pengabdian. Tapi, dia dipecat dari ASN! Dia berkeluh kesah di media sosial. Simpati datang, seiring turunnya hukuman.
BACA JUGA: Pasutri H Moch Arif Toto Rahardjo dan Hj Ninoek Sriyani Luncurkan Gerakan Anak Cinta Masjid
Andai. Seandainya dia tinggal di Jawa Barat, betapa selesai di tangan KDM. Tulis seorang nitizen. Tak bisa pula dibandingkan, apalagi dengan ucapan petinggi BGN yang menilai anak yang protes menu sebagai kurang bersyukur, bagaimana Nur Aini ikhlas "bangun jero", bangun dini hari tiap hari untuk memenuhi tugasnya. Tapi, dia tinggal di Jawa Timur, yang bahkan banyak warganya yang ingin memiliki gubernur seperti KDM.
BACA JUGA: Dari Muskal Pelaporan Tahunan Bumkal Tirtamas, Begini Pesan Panewu Mlati
Negara Siapa yang Punya?
Nur Aini mungkin hanya bisa dibandingkan dengan para guru di pedalaman yang rela berlumpur-lumpur, melewati jembatan darurat, atau hanya dibayar hasil bumi seadanya, dengan dedikasi yang tak kalah dengan rekan mereka di perkotaan. Merdeka 80 tahun tapi tak juga mampu menyelesaikan masalah kesejahteraan guru. Tiap pilpres atau pilkada, semua calon berjanji meningkatkan kesejahteraan guru. Tapi, bukankah seperti kata Charles dr Gaulle pemimpin revolusi Prancis, politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri dan mereka justru aneh kalau rakyat mempercayainya.
BACA JUGA: Polres Sleman Selidiki Dugaan Korupsi di BUKP Tempel
Sejak negara ini didirikan, founding parents telah menuliskan dengan tinta biru, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. Mereka bukan orang dungu apalagi rakus. Mereka adalah generasi terbaik yang pernah dilahirkan negeri ini. Pemikiran mereka jauh melampaui zamannya. Gagasan mereka sepadan dengan para pemikir dunia. Tapi, nasib tak juga berpihak pada bangsa yang tinggal di zamrud khatulistiwa ini.
BACA JUGA: Pelaku Pengeroyokan di Sutopadan Divonis 7,5 Tahun, MP Sianturi SH: Klien Kami Tak Banding
Jangankan mencerdaskan kehidupan bangsa, yang terjadi justru pendangkalan nalar. Tak pernah masuk logika, kayu gelondongan dengan potongan presisi dan tulisan kode jelas yang terbawa hanyut banjir Sumatra itu disebut karena faktor alam! Tanpa beban elite kita ngomong hal yang menabrak akal sehat. Keengganan pemerintah menetapkan bencana Sumatra sebagai bencana nasional, seiring keberanian Ibu Susi, KDM dan Ferry Irwandi, hanyalah bukti lemahnya negara dalam memikirkan keselamatan anak-anak bangsa.
BACA JUGA: Vonis 'Anjlok' Kasus Penipuan Penjualan Rumah, Jaksa dan Kuasa Hukum Bersikap Pikir-pikir
2025 telah pergi. Beragam catatan hitam merah tak bisa dihapus. Panggung yang penuh kata-kata, nurani yang mati, keserakahan yang atraktif dipertontonkan, masyarakat yang mudah digesek diadu domba, dan masa depan yang tak ada kepastian. 2026 sudah datang, dan tak ada yang bisa menasihati kekuasaan agar kembali ke rel konstitusi kebangsaan. MPR, DPD, DPR, entah mereka mewalili siapa. Seiring dengan itu, sayup-sayup terdengar, Orde Baru telah kembali.
BACA JUGA: Pencuri Gasak Televisi Gunakan Modus Jugil Jendela Rumah di Balecatur
Duh Gusti ingkang murbeng dumadi. Apa yang sedang dan akan terjadi pada diri dan negeri ini? Bila bukan pada-Mu, kepada siapa lagi kami sambat sebut atas tragedi dan bencana yang mengintai hidup kami setiap saat? (Penulis: Wahjudi Djaja adalah Pegiat Budaya dan Ketum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada-Kasagama)
