Prof Masduki: Selamat Jalan Mantan Jurnalis, Advokat Senior dan Penyair Kamal Firdaus

share on:
Upacara pemberangkatan jenazah Almarhum Kamal Firdaus dari rumah duka menuju Pemakaman Kuncen Yogyakarta || YP-Ismet NM Haris

ADVOKAT senior, kerap kali disematkan pada nama Kamal Firdaus. Senior di sini tentu bukan makna konotatif yang merujuk usia tua, tetapi lebih ke makna filosofis: keteladanan, role model pembela hukum yang idealis. Sosok senior yang sesungguhnya, role model para advokat di Yogyakarta dan Indonesia. 

Saat ini ada banyak pengacara senior di Indonesia, tetapi integritas dan senioritasnya sangat patut dipertanyakan. Mereka tampil di televisi tampak idealis, tapi di balik layar justru aktif mengakali hukum. Mereka levelnya masih 'junior', bahkan anak bayi yang lucu-lucu. 

BACA JUGA: Catatan Wahjudi Djaja: Afnan Malay, Penyair Lembah dan 'Buku Fiksi Mulyono'

Sikap hidup Bang Kamal saya kira bisa disejajarkan dengan nama-nama besar pendekar hukum di Indonesia seperti Artidjo Alkostar, Abdul Rahman Saleh bahkan Adnan Buyung Nasution. Mereka semua adalah alumni LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Indonesia yang menjadi pembela kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

Bedanya, Bang Kamal --demikian saya memanggilnya--, sangat low profile, setia di jalan sunyi, dan tetap di Yogyakarta menemani juniornya, tidak tergoda pindah ke Jakarta. Jakarta terlampau pragmatis, transaksional, iklim yang tak sejalan jiwa beliau. Ia juga memilih sesekali mengajar di FH UGM, UMY, UII untuk menularkan ide-ide hukum kritis.  

Saat menjadi staf khusus Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, Bang Kamal dapat dengan mudah memilih tinggal di Jakarta. Tetapi ini tak dipilihnya. Kamal justru bergabung dalam gerakan masyarakat sipil lintas sektor bernama Koalisi Pemilih Kritis (KPK) yang rajin memantau politisi busuk di tahun 2004.

BACA JUGA: Kamal Firdaus Piawai Merawat Sejarah, Dimakamkan di Kuncen

Di koalisi inilah saya mengenalnya melebihi tugas profesi beliau sebagai advokat. Selain lewat orasi, lewat WA dan Facebook, Bang Kamal sangat aktif mengeluarkan fatwa hukum, analisa dan kritik terbuka atas situasi hukum. 

Rumah besarnya yang nyaman di Jl Jeruk Legi, kawasan JEC Gedongkuning dia jadikan homebase/hub para aktivis hukum dan sosial untuk konsolidasi. Semua tamu diterima dengan humble, diajak diskusi secara setara: sejak Mahfud MD, Todung Mulya Lubis, Denny Indrayana, hingga para mahasiswa. 

Tradisi dan gaya hidup pengacara egaliter, humanis ini saya kira terbentuk sejak ia menjadi pendiri/Direktur LBH Yogyakarta. Di rumah ini juga kami (ada banyak pihak) mengelola Yayasan Episentrum yang menyalurkan bantuan sosial, beasiswa yatim piatu korban gempa Bantul tahun 2006. 

Ruang kerja sekaligus ruang diskusi di sisi selatan rumah Bang Kamal nyaris seperti perpustakaan. Koleksinya tidak hanya referensi bidang hukum, tapi ilmu sosial lain yang menunjukkan luasnya horizon minat Bang Kamal. Misalnya, ia menyimpan sebuah buku legendaris berjudul: Pengkhianatan Kaum Intelektual, karya sejarahwan Julien Benda. Bang Kamal sendiri adalah 'kamus berjalan' sejarah hukum struktural. Saya menikmati setiap momen diskusi, diselingi canda satir beliau dan secangkir kopi tawar. 

Rokok dan kopi adalah 'teman setia' Bang Kamal di ruang kerja untuk 'menyalakan' gagasan atau kritik spontan. Misalnya saat melihat naskah disertasi saya yang hanya menuliskan nama tanpa gelar di cover buku, Bang Kamal spontan membandingkan cover buku buku disertasi di Indonesia yang penuh gelar panjang penulis dan promotornya. Seakan tidak percaya diri dengan namanya sendiri. Juga soal fenomena pengacara flamboyan di Jakarta yang 'membeli' gelar gelar doktor di beberapa universitas. Mereka kurang pede dengan status sebagai lawyer. 

BACA JUGA: Penyair Ulfatin Ch Membaca 'Gelombang Laut Ibu'

Suatu ketika di bulan Agustus 2023 Bang Kamal meminta saya turut membaca puisi untuk merajut hari kemerdekaan: Malam Puisi yang merefleksi iklim politik terkini. Acaranya di nDalem Natan yang eksotis di kawasan heritage, Kotagede. Saya tentu saja dengan gembira menyanggupi dan memilih membacakan puisi otokritik yang indah dan keras, yang ditulis langsung Bang Kamal. 

Kamal Firdaus
HUKUM

Kepada cucuku tersayang Alesha

Setiap aku melihat hukum, Alesha
Aku selalu ingat Huesca,
Jiwa di dunia yang kehilangan jiwa.

Sosok-sosok yang kehilangan rasa,
Raga-raga yang kehilangan sukma. Mereka yang lupa. Kemalangan dan kematian bisa datang tiba-tiba.

Dan di kantor-kantor itu, juga di ruang sidang itu. Walau mengucapkan sumpah dan janji tetaplah manusia biasa. Maka Tuhan pun laksana tercengang dan termangu. Adakah kejujuran, persamaan dan Keadilan di dalamnya?

Persamaan memang ada di dalam undang-undang dasar. Keadilan dan kejujuran memang ada di dalam ajaran dan ujaran,
Tapi kelak jiwamu menangis menyaksikan banyak kenyataan. Kepentingan duniawi di atas ayat-ayat dan pasal-pasal.

Bila kelak kau sudah dewasa, Alesha
Aku tidak rela dan tidak tega kau berada di belantara purba ini. Aku tidak rela dan tidak tega. Dari membayangkan siksa di Hari Kemudian nanti.

Hitam kelam seperti inikah yang namanya Merdeka? Menunggu entah sampai kapan berganti purnama. Sudah tujuh puluh tujuh tahun lamanya. Mengharapkan perubahan bagaikan angan-angan belaka.

Setiap aku melihat hukum, Alesha
Aku selalu ingat Huesca.Jiwa di dunia yang kehilangan jiwa.

Agustus, 2022

Almarhum Kalmal Firdaus SH || YP-Ist

Dari sini saya melihat Bang Kamal adalah juga seniman (Penyair), dan menjadikan puisi sebagai medan kritik sosial yang keras, seperti meneruskan gaya WS Rendra, seniman asal Yogya yang sangat dikaguminya. Puisi lain yang kerap ia unggah di medsos adalah: Setiap Lewat Bulaksumur yang selalu dinisbahkan untuk merawat ingatan, sikap kritis dan romantisme Kamal dengan Mbak Tita, istri tercintanya. 

Kamal Firdaus
SETIAP LEWAT  BULAKSUMUR

Kepada teman kuliahku 
Tita Aminah

Setiap aku lewat Bulaksumur,
Ada berjuta kenangan berjuta rindu,
Alangkah syahdunya masa lalu.

Setiap aku lewat Bulaksumur, 
Ada rintihan yang menyiksa sukma,
Keadilan, di manakah kini engkau berada?

Sekian tahun lamanya aku menghabiskan hari-hariku di sini. Mencari dan menimba ilmu,
Saraya selalu "ngerasanin" dosen dan mahasiswi tertentu. Sembari ikut melawan kekuasaan yang sewenang-wenang kala itu,
Dan mengharapkan perubahan nasib setelah Merdeka lagi nanti.

Sekian lama aku belajar hukum di sini. Sekian lama aku mengajar hukum di kota tua ini. Sekian lama aku bergumul dengan hukum hari demi hari. Sampai kian lama kian aku tidak paham lagi. 
Apa sesungguhnya hukum itu hari ini.

Setiap aku lewat Bulaksumur,
Ada berjuta pertanyaan berjuta gugatan terpendam. Mengapa menyakitkan sekian banyak kenyataan. Kenapa mengherankan sekian banyak pernyataan. Di muka hukum memang adakah persamaan? 

Betapa atas nama Keadilan, 
Selalu ada dusta di antara kita,
Selalu ada dosa baru menambah dosa lama. 

Kini hampir semua guru-besar kita sudah tiada. Dari mengikuti berita demi berita dan pameran bicara. Dari menyaksikan kenyataan di mana-mana. Seakan sia-sia yang dulu dikuliahkan mereka. Sebab kini penegakan hukum selalu penuh astaga.

Hukum di ruang kuliah memang berkeadilan, 
Tapi bagaimana gerangan di lapangan,
Mereka yang mestinya menegakkan hukum,
Tapi justeru mereka sendiri yang selalu merobohkannya. Keadilan, alangkah pahit getirnya mencarimu ke mana-mana.  

Betapa atas nama Keadilan, 
Selalu ada dusta di antara kita,
Selalu ada dosa baru di atas dosa lama.

Setiap aku lewat Bulaksumur,
Ada gelisah dan gundah gulana karena,
Ilmu yang kutimba di sini dulu seperti sebatas ilmu belaka.

Yogya, 2012/2023

BACA JUGA: Catatan Wahjudi Djaja: Dari Advokat ke Penyair, Kamal Firdaus Tinggalkan Puisi Demokrasi

Hari ini, Selasa 14 Januari 2025 pukul 10 lewat 10 menit, kami ratusan insan para lawyer, murid sang guru, pembela hukum, dosen, aktivis sosial dan jurnalis melepas kepergian sang advokat senior dan pejuang hukum berintegritas dari kediaman Jeruk Legi ke pemakaman umum Kuncen, Wirobrajan, Yogyakarta. Selamat beristirahat dalam keabadian Bang. 

Sekilas di akun Facebook tanggal 29 Februari 2024, Bang Kamal saya liat menulis status pendek: KITA MESTI BANYAK BERBENAH. Dilampiri link lagu Ebiet G. Ade berjudul: Untuk Kita Renungkan. Cermin refleksi keprihatinan besar seorang praktisi-aktivis hukum. 

Benar sekali Bang. Negara ini masih perlu terus berbenah. Semoga kami diberikan kekuatan untuk melanjutkan perjuanganmu.  (Masduki adalah Guru Besar Universtitas Islam Indonesia)
 


share on: