BAGI saya, selama prinsip hukum tidak ditegakkan, maka prinsip-prinsip demokrasi terabaikan. Melalui puisi, kita bisa menyuarakan keprihatinan dan kegelisahan atas kondisi kebangsaan yang kian melenceng dari cita-cita pendiri bangsa.
Sepuh tapi jiwa dan semangatnya tak pernah pudar. Lahir di Merlung Jambi 28 April 1949, Kamal Firdaus memiliki daya jelajah yang mengagumkan. Mewarnai panggung pengadilan dan mimbar demokrasi, Bang Kamal demikian kami akrab menyapa, mendedikasikan hidupnya untuk penegakan hukum dan keadilan. Pria sederhana, humble dan luas jaringan ini memiliki pemikiran yang brilian dan progresif terkait profesionalisme advokat.
BACA JUGA: Penyair Ulfatin Ch Membaca 'Gelombang Laut Ibu'
Ditinggal istri tercinta Tita Aminah pada 21 Juni 2017, kasih sayang Bang Kamal dituangkan untuk anak, cucu dan handai taulan. Atas kepergian istri tercinta itu Bang Kamal apik menulis:
“Pada akhirnya memang adalah kematian. Kematian, ya kematian. Sesuatu yang selalu diingat-- terutama bila yang mati adalah seseorang yang kita sayangi dan menyayangi kita-- sesuatu yang selalu diperingati, sesuatu yang selalu diingatkan dan diperingatkan”.
Sebuah puisi dia dedikasikan untuk belahan hatinya. Berikut puisinya:
Kuncen
(Untuk isteriku Tita Aminah)
Pada akhirnya kini,
Beginilah adanya,
Pada akhirnya kini,
Beginilah kita.
Pada akhirnya nanti,
Aku pun akan seperti kau,
Hanya soal waktu,
Yang tak mungkin aku ketahui saat ini.
Pada akhirnya kini dan nanti,
Dukalara adalah dukalara sendiri-sendiri, dalam sunyi,
Mana mungkin aku bisa berbagi,
Siapa yang sudi diajak bersedih hati.
Dedaunan dan bebungaan kamboja,
Kering, berguguran dan dipindahkan angin,
Tapi tidak sedemikian adanya,
Pada akhirnya segala kenangan, dukalara dan kita.
Yogyakarta,
13 Mei 2021.
BACA JUGA: Wafat Saat Jalankan Profesi, Jenazah Advokat Ramdlon Naning Dimakamkan di Pemakaman Cikalan Yogya
Kehangatannya tidak saja diekspresikan pada anak dan cucunya tetapi juga pada sahabat dan dunia sastra. Jauh dari kesan eksklusif, Bang Kamal adalah sosok egaliter, berdedikasi dan berintegritas. Akrab menyapaku Dinda Yudi, kami mencoba menggerakkan sastra lintas kalangan. Bersama Dr Nasir Tamara, ownwe Ndalem Natan Kotagede, kami menghidupkan kembali Pens Club Indonesia. Kutipan di atas adalah sambutan Bang Kamal saat digelar acara" Demokrasi Dalam Puisi" di Ndalem Natan Jumat (10/11/2023).
Jazad Almarhum disemayamkan di rumah duka tadi malam, dan akan dimakamkan di Pemakaman Kuncen, Selasa (14/1/2025) pukul 10.00 WIB || YP-Ismet NM Haris
Selalu memberi ruang bagi kaum muda untuk maju dan berperan, Bang Kamal sama sekali tak keberatan untuk diajak sekedar minum kopi dan ngobrol tentang tema-tema kekinian. Baginya, kebudayaan merupakan kunci penting yang tak bisa ditinggalkan manakala membicarakan politik Indonesia kontemporer.
BACA JUGA: Catatan Wahjudi Djaja: Afnan Malay, Penyair Lembah dan 'Buku Fiksi Mulyono'
Kepergian Bang Kamal meninggalkan puisi demokrasi. “Kapan Dinda Yudi ada waktu luang, kita lanjutkan gelar puisi demokrasi. Kondisi harus kita respon dan puisi adalah salah satu media yang pas untuk menuangkan dan menyuarakan,” katanya suatu saat.
Bang Kamal telah pergi 13 Januari 2025. Tidak saja menyisakan kesedihan bagi keluarga, teman sejawat, dan kalangan sastrawan, tetapi juga meninggalkan puisi demokrasi yang belum usai. Selamat jalan, Abangku. Ksatrian Sendaren, 14 Januari 2025. (Wahjudi Djaja adalah Alumni FS UGM, Pegiat Sastra Ndalem Natan)
