Yogyapos.com (BANTUL) - Siapa sangka bahwa batok atau tempurung kelapa yang oleh banyak orang dipandang merupakan benda mudah dan murah didapat, namun di tangan orang yang kreatif ternyata bisa menjadi barang berharga tinggi serta mampu memberikan keuntungan ekonomi.
Yani (54) dan Hariyanti (52), pasangan suami istri warga Junto Rt 19 Pandowoharjo Sewon Bantul adalah contohnya. Mereka telah membuktikan pemanfaatan batok tersebut menjadi barang kerajinan yang dapat menambah pundi-pundi ekonominya.
BACA JUGA: GREAT Institute Apresiasi Prabowo, Konsumsi Rumah Tangga Jadi Motor Pertumbuhan
Kerajinan berbahan dasar batok hasil kreativitasnya dijual dengan harga lumayan tinggi, menembus pasar nasional, bahkan internasional. Lantas sejak kapan pasutri ini melakoni pekerjaan tersebut?
Para pekerja tekun dalam proses prosuksi || YP-Supardi
"Saya dan istri mulai coba-coba mengolah batok menjadi berbagai produk jadi, diantaranya berupa hiasan dinding, cupblampu dan asosoris lain serta kerajinan sejak tahun 2002,” ujar Yani didampingi Hariyanti.
BACA JUGA: Masjid Al Kautsar Produksi Rempah Premium Melalui BUMM Sangaji
Yani berterus terasang, usaha kreatif yang dilakoninya menggeliat dan mencapai puncaknya pada 2024. “Kami benar-benar mulai merasakan hasil usaha ini pada 2024,” tandas Yani kepada yogyapos.com, di rumah produksinya Yanti Batok Yogya Juron Rt 19 Pandowoharjo Sewon Bantul, akhir pekan ini.
Meski jumlah produksinya mengalami pasang surut dan sangat ditentukan oleh jumlah pesanan konsumen, namun ternyata setiap hari tetap aktif berproduksi, mempekerjakan 7 tenaga kerja perajin dengan jumlah produk tertentu.
BACA JUGA: 40 Pengusaha Muda Ikuti Pelatihan Kewirausahaan
"Jenis produk kami beragam. Harganya juga beragam pula atau tergantung pada jenis, besar kecilnya dan modalnya," ungkap Yani dalam acara ekspos dinamika potensi desa bersama Diskominfo Kabupaten Bantul.
Penyelesaian kerajinan untuk kelengkapan aksesoris kain || YP-Supardi
Misal, tas terbuat dari tempurung dan kap lampu Rp 40.000 hingga Rp 65.000 per unit. Kerajinan berupa gantilan kunci atau kencing baju untuk kebutahan konveksi Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per buah.
BACA JUGA: Pertumbuhan Ekonomi DIY 5,49 Persen Didorong Sektor Pariwisata dan UMKM
Tentang pangsa pasar hasil produk sebagian ke pasar lokal, nasional dan lainya ke international (ekspor). Pasar lokal di DIY. Pasar luar Jawa diantaranya Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Sedangksn pasar ekspornya ke Jamaica dan Dominica.
"Sisi lain yang juga bermanfaat dan menguntungkan serta memberikan pengalaman dsnnkesan tersendiri, saya beberapa kali menjadi juara lomba UMKM baik tingkatt lokal dan nasional bahkan ke luar negeri,” tutur Hatiyanti.
BACA JUGA:'Sekolah Bersama Ayah' Kuatkan Perannya dalam Pendidikan Era Digital
Ia menuturkan, dirinya sudah sering diminta untuk menjadi narasumber tentang acara ilmiah seperti seminar tentang kerajinan batok. Tempat produksi ini juga sering sering dijadikan tempat magang oleh para utusan dari berbagai daerah diantanya dari Kalimantan dan Sulawesi.
Menurutnya, sebenarnya kualitas dan jenis tempurung dari Kalimantan, Sulawesi dan Papua sangat bagus dan cocok untuk bahan baku produk seperti ini.
Sementara itu, seorang tenaga kerja, Kiki Tabah (38) menuturkan, dirinya bekerja dengan normal membuat kerajinan batok rata mendapatkan Rp 80.000 per hari. Namun jika kerja keras dapat memperoleh Rp 120.000 per hari. (Spd)
