Yogyapos.com. (SLEMAN) - Galeri Titik Temu 7 Matra didukung Sukhavati menggelar pameran senirupa bertajuk ‘Bendera Tanpa Batas’, di Cemoroharjo Candibinangun Pakem Sleman, Kamis (13/2/20/25) sore.
“Disini bisa untuk tempat merenungkan. Pameran ini menghasilkan nilai buat Yogyakarta. Acara semacam ini perlu terus ber lanjut,” kata Yani Sapta Hudoyo dalam sambutannya yang mewakili 7 perempuan.
BACA JUGA: Pembegal Payudara di Umbulmartani Berhasil Diringkus, Belum Jelas Motifnya
Ia juga menyampaikan, merasa bahagia karena seniman yang hadir dari berbagai kota. Mereka membawa bendera karya masing-masing yang sangat luar biasa.
Hangno Hartono dengan karyanya || YP-Ist
Sementara itu inisiator pameran Titik Temu 7 Matra, Joko Koentono, menggelar pameran sebagai ruang di bidang seni dan kreativitas.
BACA JUGA: Kunjungan Erdogan, Syahganda: Turki dan Indonesia Bisa Jadi Poros Baru
“Bendera Tanpa Batas merupakan upaya sederhana merayakan seni rupa di tengah-tengah kemeriahan-kemeriahan lain yang l bih mapan spektakuler,” ungkapnya.
“Melalui pameran ini para perupa mendapat keleluasaan dalam memilih tema, teknik serta media bukan (di luar) kanvas,” tambahnya.
Tanto Mendut menerima wayang Brayut. || YP-Ist
Menurutnya, Pengertian bendera pun menjadi longgar ditempatkan sebagai medium 'pernyataan diri' dari masing-masing para seniman. Tidak mewakili sakral suatu negara, organisasi keagamaan serta eksklusifitas kelompok manapun.
BACA JUGA: Periksa 315 Saksi, Kejari Belum Tetapkan Tersangka Korupsi Dana Pariwisata
“Jadi, bendera di sini tidak harus berkibar. Namun, nantinya akan menjadi bentuk-bentuk visual yang menggantung, terjuntai, menjulang, bahkan tersampir. Hanya kepada kemungkinan- kemungkinan tanpa batas itu kami bersandar,” kata Joko dalam memberikan pengantar
Para perupa yang ikut pameran dari berbagai kota di Indonesia dan manca negara, yaitu dari Bali : Aricadia, Daniel Kho, Putu Eni; dari Jakarta: Edi Bonetski, Hagung Sihag, Sekartadji Supanto; Dari Malang : Lusiana Limono, Masse Hidayat. Selain itu ada, Aldy (Temanggung), Turi Rahardjo (Bandung), Hani Santana (Cilacap),Desemba Sagita (Surabaya).
BACA JUGA: Pasar Kumandhang Direncanakan Jadi Tempat Kumpul Seniman, Diawali Ruwatan
Sedangkan yang dari luar negeri: Camilie Brittany (Perancis), Himbar Andriani dan Vincent T Ching (Singapura), Sang Ratu Adil (Amerika Serikat). Dari Yogyakarta: Agus Ismoyo + Nia, Agnes Christina, Arahmaiani, Dedy Sufriadi, Dipo Andy, Dyan Anggaini, Denmas Hangno, Handojo Simodihardjo, Hanandah Putri, Radetyo Itok, Noor Ibrahim, Syahrizal Pahlevi, Venzha Christ.

Salah satu perupa dari Yogyakarta Hangno Hartono menjelaskan tentang konsep karyanya. Diberi judul ‘Bendera Ekologi-Segara Gunung’. Bahannya, kertas semen laminasi dengan tehnik tatah sungging, cat acrylic.
BACA JUGA: Jumhur Hidayat: Pernyataan Sufi Dasco Tak Ada PHK Sudah Dijalankan TVRI dan RRI
Dalam karya Hangno ini, terdapat figur perempuan, representasi konsep ibu bumi, pemuliaan terhadap ekologi, juga mengingatkan akan makna Mataram yang bermakna pula pemuliaan terhadap ibu. “Ibu bumi konsep berlatar belakang ekologi Yogyakarta. Kura-kura simbol kebijaksanaan dan kelinci simbol cinta kehidupan,” jelasnya.
Dalam pembukaan pameran ditampilkan Seniaksi, kolaborasi antara Memet Chaerul Slamet dan Arahmaiani. Diserahkan pula wayang brayut kepada dr Oei Hong Djien dan Tanto Mendut yang hadir di acara ini. (Agn)
