Yogyapos.com (MAGELANG) - Peringatan Nuzulul Quran di Kedai Kebun Makna Ngluwar Muntilan, Magelang, Kamis (20/3/2025) malam, berlangsung hikmat dan sakral. Selain dibuka dengan prosesi kidung dalam kirab budaya, juga ditandai pemasangan mustaka Langgar Krendhasawa.
Kirab budaya dipimpin Wahjudi Djaja dari Yayasan Taman Sesaji Nusantara. Diikuti jajaran pendiri dan pengurus Kedai Kebun Makna. Mereka membawa mustaka, tumpeng lengkap dan lukisan jejak peradaban Medang karya pelukis Meuz Prast. Prosesi bergerak dari jalan desa menuju Langgar Krendhasawa dengan bacaan kidung doa mantra dan geguritan.
BACA JUGA: Dishub Sleman Lakukan Pemetaan Jalur Alternatif bagi Pemudik
Sesepuh Dusun Karang Sanggrahan KH Ahmad Zaeni menguraikan makna keberadaan langgar Krendhasawa. “Kami sebagai orang tua berharap agar langgar ini bisa memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Langgar bisa dijadikan ruang terbuka bagi pengembangan agama dan kebudayaan,” tandas murid KH Hasyim Ashari ini.
Testimoni Whani Dharmawan || YP-Ist
Pendiri dan owner Kedai Kebun Makna, Rekky Zakia, dalam sambutannya menyampaikan keberadaan kedai dan langgar merupakan social space yang terbuka.
BACA JUGA: Gus Hilmy: Pengesahan RUU TNI Langkah Mundur Demokrasi, Berpotensi Rugikan Daerah
“Langgar Krendhasawa ini sengaja dibangun untuk pengembangan sejarah dan kebudayaan. Kawasan sekitar kaya dengan jejak dan narasi sejarah, mulai era Kerajaan Medang (Mataram Kuna) sampai benteng perjuangan Pangeran Diponegoro. Kami berharap, kekayaan dan warisan leluhur itu bisa kita kelola dan berdayakan,” paparnya sebelum membacakan puisi.
BACA JUGA: Sinergi Peradi RBA-Pemkab Sleman Canangkan Program Pelatihan Paralegal
Sementara itu aktor Whani Dharmawan yang memberikan testimoni menyatakan apresiasi kepada para pengelola Kedai Kebun Makna yang tiada lelah mengemban amanah.
Salah satu lukisan Meuz Prast || YP-Ist
“Masing-masing kita memiliki peran yang satu sama lain bisa saling menguatkan. Mas Rekky dan teman-teman telah berbuat sesuatu yang itu sangat bermakna bagi kehidupan dan kebudayaan. Selain memiliki jaringan luas yang ditandai hadirnya beragam kalangan, Rekky juga memiliki daya tahan kuat sehingga kedai ini bisa tetap eksis memberikan makna,” jelasnya.
BACA JUGA: Ini Amanat Pangdam IV/Diponegoro di Acara Penutupan TMMD Magelang
Dalam orasi kebudayaannya, Wahjudi Djaja menyampaikan makna malam selikuran. Dengan mengangkat tema Tumuruning Kodrat Mulyaning Drajat, jajaran Kedai Kebun Makna telah menyadari posisi dan perannya bagi tumbuh kembang kebudayaan dan peradaban.
Pembacaan puisi Qonita Bella || YP-Ist
“Malam selikuran yang ditandai cakrawala yang cemerlang, membawa pesan bagi kita semua bahwa semesta mendukung. Dan kesediaan kita menggerakkan kebudayaan dengan merawat akar tradisi akan membuka pintu keberkahan serta naiknya kemuliaan atau derajat kita semua,” tandas Ketum Keluarga Alumni Sejarah Univeritas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
BACA JUGA: Dua Pelaku Perampasan Ponsel dan Pembacok Korban Ditangkap
Malam selikuran di Kedai Kebun Makna dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Qonita Bella, Pribumi Daya Langit, Sanggar Nuun. Hadir dalam acara KH Cholil Mustamid Asrori (PCNU Kab Magelang), Ketua Lesbumi Magelang Abet Nugroho.
Mengangkat tema Situs-situs Kecil, pelukis Meuz Prast memamerkan 21 sketsa lukisan peradaban Medang. Acara yang dihadiri seniman, budayawan dan penggerak desa dari berbagai kota ini diakhiri dengan makan jaburan, sebuah tradisi lama yang dihidupkan kembali. (Iud)
