Yogyapos.com (BANTUL)Komunitas Seni Budaya Profetik (Kosbatik) kembali menggelar kajian dan apresiasi Samawa edisi ke-23 dengan mengangkat tema besar: ‘Jejak 3 Guru Bangsa dan 3 Ulama Besar: Merawat Spirit Kemerdekaan Melalui Pendidikan, Akhlak, dan Politik Ilmiah’, di Resto Pendopo Prasojo, Bantul, Jumat (8/8/2025).
kegiatan ini menjadi ruang refleksi mendalam atas tantangan kebangsaan kontemporer yang berakar pada krisis pendidikan, kemunduran moral, dan kekosongan nilai dalam politik.
BACA JUGA: 76 IDH dan 76 IXC 2025 di Bukit Klangon, Zaenal Fanani Terdepan Kalahkan Atlet Mancanegara
Acara dibuka dengan penyampaian sambutan tertulis Dr Diah Uswatun Nurhayati MS, Ketua Yayasan Pusat Seni Budaya Profetik (Pusbatik), oleh pegiat literasi Jabrohim, yang menekankan pentingnya merawat nilai-nilai profetik (humanisasi, liberasi, transendensi) dalam membangun bangsa yang bermartabat. Acara dilanjutkan dengan Ketua Pengurus Pusat Kosbatik, Prof. Dr. Nur Sahid meluncurkan buku kumpulan puisi Murid yang Setia Berguru, yang ditulis oleh Suryadi, Jabrohim, dan Heriyanto.
BACA JUGA: Sleman Raih Penghargaan Kabupaten Layak Anak Peringkat Nindya
Buku ini merupakan persembahan puitik yang merangkum ajaran dan inspirasi dari enam tokoh besar, KH Ahmad Dahlan, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, dan Ki Hajar Dewantara, serta tiga ulama besar Islam klasik yakni Imam an-Nawawi, Imam al-Ghazali, dan Imam al-Mawardi.

Dalam peluncuran buku tersebut, Prof Dr Nur Sahid, yang juga Guru Besar ISI Yogyakarta, menyerahkan buku yang diluncurkan kepada sejumlah peserta kegiatan, antara lain Sahari (Kepala Dinas Pedidikan Kabupaten Bantul 2010 – 2022), Zainal Arifin (Deputy Perizinan dan Inspeksi Badan Pengawas Tenaga Nuklir), Kelik M. Nugroho (Mantan Wartawan Jawa Pos di Philipina dan Majalah Tempo), Erwito Wibowo (Ketua Lembaga Seni Budaya PDM Kota Yogyakarta), dan Tatri Subekti (seniman dari Riau).
BACA JUGA: PT Ide Studio Indonesia Komitmen Selesaikan Tunggakan Gaji Secara Bertahap
Menziarahi Warisan Intelektual dan Spiritual
Dalam sesi kajian, Drs. Suryadi memaparkan makalahnya yang berjudul sama dengan tema kegiatan. Ia merajut benang merah pemikiran dan perjuangan enam tokoh tersebut, mulai dari: Ahmad Dahlan yang memandang pendidikan sebagai jalan pembebasan, Hasyim Asy’ari yang memadukan keilmuan Islam dan cinta tanah air melalui gerakan santri, dan Ki Hajar Dewantara yang menggagas sistem pendidikan yang memerdekakan jiwa. Drs. Suryadi yang saat ini merayakan miladnya yang ke-80 kemudian mengungkapkan tiga ulama besar, yakni Imam an-Nawawi yang meneladankan keikhlasan dan integritas ilmiah, Imam Al-Ghazali yang mengembalikan akhlak sebagai inti dari pendidikan, dan Imam Al-Mawardi yang menawarkan kerangka politik maslahat yang adil dan beradab.
Diskusi ini disambut antusias oleh hadirin yang terdiri dari para akademisi, seniman, dan pemerhati seni di antaranya: Prof Dr Nur Sahid, Zainal Arifin, Agus Amarulloh, Kelik M Nugroho, Erwito Wibowo, serta tokoh pendidikan seperti Drs. Rudjito, Drs Wisnu Giyono, MPd, Anang Masduki PhD dan Dr Lephen Purwanto.
BACA JUGA: PN Sleman Tak Berwenang Mengadili Gugatan Kormardin Terkait Ijazah Jokowi
Menjadi Murid yang Setia
Sebagaimana dijelaskan dalam makalah, para penulis buku menyatakan diri sebagai “murid yang setia berguru” -- bukan dalam makna literal atau historis, tetapi sebagai penziarah intelektual yang setia menyerap, mengolah, dan menghidupkan ajaran para guru bangsa dan ulama besar. Mereka tidak pernah bertemu langsung dengan KH.Ahmad Dahlan, Hasyim Asy’ari, atau Ki Hajar Dewantara. Tidak pula hidup sezaman dengan Imam Nawawi, al-Ghazali, atau al-Mawardi. Namun dari mereka semua, mereka belajar dan berguru.
Buku ini menjadi ikrar estetik sekaligus spiritual bahwa pendidikan, akhlak, dan politik ilmiah tetap menjadi tiga pilar penting dalam membangun bangsa yang tidak hanya merdeka secara fisik, tetapi juga secara intelektual dan moral.
BACA JUGA: Polda DIY Luruskan Informasi Penangkapan 5 Pelaku Judol
Sebagai sesi apresiasi yang juga penutup acara, Syamsu Setiaji, Tantri Subekti, dan Agus Amarulloh tampil membacakan puisi-puisi pilihan dari buku Murid yang Setia Berguru dan karya para pembaca sendiri. Suasana malam menjadi hening, dalam, dan menggugah. Bukan sekadar pembacaan, tetapi seakan ziarah jiwa -- melintasi ruang dan waktu -- menghadirkan kembali napas perjuangan para guru bangsa dan ulama besar dalam suara dan kata. (*/Red)
