Joko, Nama Aslinya Nyaris Tak Dikenal karena Nglakoni Pekerjaan Sebagai Produsen Kendang

share on:
Joko Kendang sehari-hari setia dengan pekerjaannya || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Sering kali nama panggilan seseorang dikaitkan dengan profesi ataupun pekerjaannya. Seperti halnya yang dialami oleh Joko Purnomo (41), warga Jetis Daleman Gilangharjo Pandak Kabupaten Bantul. Ia kondang dengan nama Joko Kendang karena pekerjannya sebagai pembuat kendang. Bahkan nama aslinya justru tidak dikenal oleh orang lain, termasuk tetangganya.

“Nama saya lebih dikenal Joko Kendang. Padahal nama aslinya Joko Purnomo. Maklum karena sejak lama saya bekerja sebagai produsen dan reparasi kendang,” ungkap Joko kepada yogyapos.com, di sela membuat kendang bersama 4 tenaga kerjanya, di rumahnya Jetis Daleman Bantul, Kamis (14/9/2023).

Kerangka kendang yang belum terpasang kulit || YP-Supardi

Joko menekuni pekerjaan ini mewarisi bapaknya, Mardi Wiyono (76) dan kakeknya almarhum Darmo yang juga empu kendang.

“Alhamdulilah para konsumen yang memesan untuk dibuatkan atau meraparasikan kendang ke sini relatif banyak sehingga kami selama ini setiap harinya dapat dibilang mesti bekerja dan meperoleh penghasilan karena banyak pemesannya,” ujarnya.

BACA JUGA: 50 Seniman Disabilitas 'Gegandengan' Unjuk Karya di TBY, Dibuka oleh Komisioner KND

BACA JUGA: Mantan Kepala Dispertaru DIY Kembalikan Uang Gratifikasi, Ini Totalnya Ckckckck...

Membuat satu unit kendang rata-rata membutuhkan waktu sehari atau setengah hari dengan tenaga kerja empat hingga lima orang. Namun lama dan tidaknya pengerjaan tergantung pada jenis maupun ukuran kendang yang dibuat. Untuk reparasi rata-rata membutuhkan waktu lima jam per unit kendang atau tergantung pada tingkatan dan jenis kerusakannya.

Standar harga kendang Rp 750.000 hingga Rp 5.000.000 per unit. Ini juga berdasarkan jenis dan kualitas produknya. Kendang yang paling bagus adalah lingkaran kayunya terbuat dari kayu nangka karena keras. Suaranya lebih bagus (keras, jelas, nyaring dan bagus pula nadanya). Sedangkan yang terbuat dari kayu jenis lain kualitas suaranya hanya biasa-biasa saja.

Bahan baku kulit sapi untuk kendang || YP-Supardi

Joko membuat beragam kendang, diantarannya corak Jawa (Yogya), Jaipong (Sunda), Reogan (Jawa Timuran) dan Sumatranan untuk musik Sumatera.

“Dari berbagai jenis itu yang paling sulit dalam pembuatanya adalah kendang jaipongan, karena kulitnya menggunakan kulit kerbau sedangkan lainnya menggunakan kulit sapi,” katanya.

Memasang kulit kerbau ke kendang lebih sulit dibanding kulit sapi karena lebih tebal dan keras. Sedangkan kulit sapi bersifat lebih elastis dibanding kulit kerbau sehingga memasanngya lebih  mudah pula.

BACA JUGA: Tim Penasihat Hukum Agus Santoso Minta Hakim Nyatakan Batal Demi Hukum Dakwaan Jaksa

Proses pembuatan kendang secara singkat manual meliputi menyediakan kayu balok yang telah dibuat lingkaran dan tengahnya dibukosong sehingga bentuknya menjadi bagaikan drum. Zelanjutnya membuat ‘blengker’ (lingkaran anyaman bambu) untuk krat dan pengancing kulit di kendang. Selanjutnya menyiapkan potongan kulit kering yang telah direndam air dan ditipiskan pada bagian tertentu untuk dipasang dengan cara dikrat mempergunakan bambu. Kemimudian menyediakan ‘janges’ (penarik dan pengerat kulit kendang). Ini terbuat dari kulit yang dinentuk kecil panjang sepergi tampar.

Joko saling bahu membahu dengan pekerjanya || YP-Supardi

Jika semua bagian sudah terpasang, kemusian kendanh dikeringkan di tempat yang teduh namun panas serta bukan terkena terik matahari secara lagngsung. Karena jika langsung terkena terik sinar matahari secara langsung, kendang akan musah rusak dan justru cepat kendor sehingga suaranya kurang bagus.

BACA JUGA: Dinilai Memutus Kerjasama Sepihak, PT Tirta Investama (Aqua Danone) Diadukan ke KPPU

Para pemesan atau pembeli kendang berasal dari dalam dan luar DIY. Mereka ada yang perorangan, paguyuban, perguruan tinggi bahkan pemerintah.  Lantas sampai kapan ia akan melakukan pekerjaan sebagai pembuat dan tukang reparasi kendang? Joko menyatakan, selama masih sehat maka selama itu pula dirinya melakukan pekerjaan warisan tersebut. (Spd)

 


share on: