Yogyapos.com (YOGYA) - Sebanyak 159 karya seni rupa dua dan tiga dimensi dari 50 penyandang disabilitas dipamerkan di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (14/08/23).
Pameran bertajuk Suluh Sumurup Art Festival (SSAF) dengan tema Gegandengan ini merupakan program tahunan Taman Budaya Yogyakarta, yang dikhususkan untuk penyandang disabilitas pelaku seni di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), baik perorangan maupun komunitas.
Ekspo seni rupa berlangsung selama delapan hari hingga 22 September 2023 diikuti delapan belas peserta perorangan dan delapan komunitas seni penyandang Disabilitas. Acara dibuka oleh Komisioner Komite Nasional Disabilitas (KND) Jonna Aman Damanik dan dikuratori oleh Budi Sukri Dharma, Nano Warsana dan Budi Irwanto.
BACA JUGA: Ingin Literasi Peradaban? Kunjungi Ndalem Natan
Kepala TBY Dra Purwiati mengatakan, pameran yang dikhususkan bagi penyandang disabilitas pelaku seni rupa di DIY itu untuk lebih memberdayakan bagi pelaku seni penyandang disabilitas. “Kegiatan ini kami berharap bermanfaat bagi para penyandang disabilitas seni,”ujarnya.
Budi Irawanto mengatakan, ‘Gegandengan’ yang bermakna ‘bergandengan’ menjadi tema kuratorial Pameran Suluh Sumurup. Tema ini dipilih karena mengusung spirit kebersamaan dalam mengartikulasikan disabilitas melalui medium seni. Seni tak hanya mampu merepresentasikan kondisi disabilitas, tapi juga membuka kesadaran baru ihwal disabilitas.

“Seni mampu membongkar sekat-sekat karena memiliki bahasa yang universal dan inklusif. Lewat seni, kita diajak untuk merenungkan keberadaan kita sebagai manusia sekaligus menimbang kehadiran pihak lain,” jelasnya.
Dalam pertautannya dengan disabilitas, lanjut dia, seni bisa menyingkap kesalahpahaman terhadap disabilitas seraya menguatkan keberadaan penyandang disabilitas. Seni bisa menumbuhkan gagasan kultural yang positif tentang disabilitas. Praktik berkesenian bisa mentransformasikan penyandang disabilitas dari sosok yang pasif dan bergantung menjadi aktor yang aktif serta kreatif bagi perubahan.
BACA JUGA: Dua Mayat Bayi di Sungai Buntung, Siapa Punya dan Tega Membuangnya?
“Dengan demikian, seni disabilitas bersifat ekspresif, transformatif, eksploratif, partisipatoris, dan edukatif. Di sini seni memiliki kemampuan membongkar berbagai halangan dan sikap yang diskriminatif terhadap penyandang disabilitas. Lebih jauh, lewat seni, penyandang disabilitas bisa merayakan keberbedaan dan bekerjasama dalam menciptakan gambaran (image) yang mereka inginkan,” tandasnya.

Oleh karena itu, masih kata Budi Irawanto, kurasi dalam Pameran Suluh Sumurup tak hanya didasarkan pada ukuran ‘keindahan’ karya semata. Melainkan juga pada kekuatan ekspresif sebuah karya dalam mengusung gagasan sang pengkarya. Di titik inilah kejujuran seorang pengkarya menjadi krusial.
Begitu pula, penting menimbang proses pergulatan dalam melahirkan sebuah karya di mana sang pengkarya mengolah pelbagai kemungkinan serta menyiasati sejumlah keterbatasan. Suluh Sumurup juga memamerkan karya dari komunitas disabilitas. Karya-karya semacam itu sejatinya menggambarkan terjadinya sesilangan gagasan dan dialog dari para anggota komunitas. Pendeknya, ada semangat komunalitas yang telah melahirkan dan mewarnai sebuah karya anggota komunitas.

Pada akhirnya, tema ‘Gegandengan’ tidak saja merangkum keragaman karya dan gaya, tapi juga membuka kemungkinan ruang artistik yang lebih inklusif. Dalam keragam itu, kita temukan penghormatan pada keberbedaan dan pengakuan terhadap keunikan. Dengan demikian, tema ‘Gegandengan’ tak hanya menjadi panduan kuratorial, melainkan dihayati sebagai ‘etos’ kerja dalam penyelenggaraan Pameran Suluh Sumurup.
BACA JUGA: Mantan Kepala Dispertaru DIY Kembalikan Uang Gratifikasi, Ini Totalnya Ckckckck...
Mereka yang berpartisipasi dalam pameran tersebut, di antaranya, Anugrah Fadly Kreato Seniman, Aqilurrachman Abdul Charitz, Damar Sulistyo, Dwi Putro , Edi Priyanto, Eva Kasim, Mishka Fathina Dewanto, Muhammad Filodota Febrigata, Muhammad Hariyanto, Salasatul Hidayah, Salim Harama, Yaya Maria, Yogi Suganda Siregar, Zakka Nurul Giffani Hadi, Aidan Akbar, Ni Putu Davita Nareswari, dan Putri Nidhaul Hasanah. Delapan komunitas yang terlibat adalah, AndArt, ba(WA)yang, Eco Diffa, JDA, Kembang Selatan, Para Rupa, Potads, dan Sayap Ibu.
Ekspo UMKM Disabilitas || YP-Yuliantoro
Serangkaian kegiatan penyandang disabilitas dihadirkan sepanjang dilangsungkannya pameran. Di antaranya: Stand-stand Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), pementasan potensi, serta workshop dan diskusi. (Tor)
