Yogyapos.com (YOGYA) – memperingati HUT ke-102, RS Mata "Dr YAP" menggelarbakti sosial bertajuk "Pemeriksaan dan Operasi Mata Gratis - Eye Care Improvement: Transforming Health Care for Brighter Future’.
Direktur Utama RS Mata "Dr YAP", Erin Arsianti mengatakan, kegiatan ini digalang dengan tujuan turut menekan angka kebutaan di Indonesia, terutama kebutaan yang dapat dicegah.
BACA JUGA: Sewindu 'Algojo' Berkiprah Dirayakan 800 Goweser
"Tahun ini, RS Mata "Dr YAP" berhasil menghimpun sebanyak 129 peserta screening (pemeriksaan awal) dari keluarga pra-sejahtera, khususnya yang tidak memiliki BPJS maupun jaminan kesehatan lainnya serta menyertakan surat keterangan tidak mampu,"kata Erin Arsianti dalam keterangan tertulis melalui Humas, Minggu (27/4/2025).
BACA JUGA: Keren! Danang Mengenakan Busana Jawa Hadiri HUT ke-16 Paksi Katon
Menurut Erin, pasien yang berdasarkan hasil pemeriksaan membutuhkan tindakan operasi, akan ditindaklanjuti dengan operasi sesuai diagnosisnya yang dibagi dalam dua hari yaitu pada Senin, 21 April dan Kamis, 24 April 2025 di poli rawat jalan.
"Kami menyediakan 56 paket operasi mata gratis, yang terdiri dari 41 operasi katarak, 5 operasi glaukoma, dan 10 operasi pterygium," terangnya.
BACA JUGA: Syawalan MES DIY, Silaturahmi dalam Semangat Berkelanjutan
Saat ini, ungkapnya, katarak adalah penyebab kebutaan nomor satu di dunia, termasuk Indonesia. Katarak adalah terjadinya perubahan lensa mata yang sebelumnya jernih dan tembus cahaya menjadi keruh.
BACA JUGA: RSA UGM Naik Kelas A, Jadi Pusat Rujukan Nasional
"Kekeruhan tersebut menyebabkan cahaya terhalang masuk mencapai retina. Akibatnya, penderita katarak kesulitan melihat dengan jelas. Penderita katarak akan mengalami kabur seperti melihat kaca yang berembun atau seperti berada di tempat berkabut," ungkapnya.
BACA JUGA: SMA Muhi Yogya Sukses Gelar 'Mancawarni' di Teras Malioboro
Selain itu, penderita katarak juga dapat mengalami mata lebih mudah silau, penglihatan ganda saat mengemudi di malam hari, perlu cahaya ekstra untuk membaca, serta lensa mata (manik mata) berubah buram atau berwarna putih seperti susu.
BACA JUGA: Pelatihan Isolasi dan Kultur Bakteri, Ini Tujuannya
"Glaukoma adalah penyebab kebutaan nomor dua di dunia setelah katarak, termasuk Indonesia. Glaukoma merupakan kelompok penyakit saraf mata kronis dan progresif yang disebabkan oleh peningkatan tekanan bola mata sebagai salah satu faktor risiko utamanya," sebutnya.
BACA JUGA: Polres Bantul Panen Jagung Perdana 2025 untuk Topang Ketahanan Pangan
Glaukoma dapat mengenai satu atau dua mata sekaligus disegala rentang usia, baik pada pria maupun wanita. Walau tekanan bola mata tinggi merupakan faktor utama, penyebab glaukoma multifaktorial. Tekanan bola mata tinggi paling sering disebabkan oleh terhambatnya pengeluaran cairan bola mata (humor aqueos).
Pemeriksaan mata gratis || YP-Ist
"Sehingga terjadi penumpukan dan saraf mata terdesak," katanya.
BACA JUGA: Menyikapi Kebijakan Dagang Trump, Syahganda: Independensi Indonesia Tepat
Berdasarkan sifatnya yang seringkali tanpa gejala nyata, glaukoma sering disebut "si pencuri penglihatan". Penderitanya tidak menyadari sampai kerusakan pada penglihatan mulai terjadi bahkan yang sudah dalam tahap lanjut.
BACA JUGA: Eksekusi Rumah di Banguntapan Mulus, Advokat Herkus Apresiasi Pengadilan
"Deteksi, diagnosa, dan penanganan kasus glaukoma harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah perburukan penglihatan," katanya.
Sebab, jika terlambat penglihatan yang hilang akibat glaukoma tidak dapat dikembalikan atau bersifat irreversible.Pterygium merupakan pertumbuhan jaringan fibrovaskular yang berbentuk selaput tipis pada bagian putih mata atau konjungtiva. Pertumbuhannya dapat mengalami pembesaran atau perluasan hingga kornea mata.
BACA JUGA:RSA UGM Naik Kelas A, Jadi Pusat Rujukan Nasional
Pterygium banyak dijumpai di daerah tropis seperti Indonesia. Orang dengan aktivitas luar ruang dan terpapar sinar matahari langsung berisiko lebih besar mengalami pterygium. Selain paparan sinar matahari, debu, pasir, partikel-partikel yang terbawa angin, mata kering, infeksi mikroba atau virus merupakan faktor-faktor risikonya.
BACA JUGA: Program Triple Play, Ajak Wisatawan Menikmati Liburan Menyeluruh
"Penderita pterygium umumnya merasa kering pada mata, mengganjal, merah, dan gerak bola mata terganggu," imbuhnya.
Pasien yang dinyatakan lolos setelah dilakukan screening, ditindaklanjuti dengan operasi pada Minggu, 27 April 2025. Operasi dilaksanakan di Kamar Operasi RS Mata "Dr YAP" oleh dokter-dokter spesialis mata. "Setelah operasi, pasien dijadwalkan kembali pada H+1 dan H+7 untuk kontrol,"katanya.
BACA JUGA: LBH Nusa Menempati Kantor Baru di Jalan Kabupaten Nomor 99 Sleman
Rangkaian acara diikuti dengan pemberian kenang-kenangan oleh Ketua Umum Yayasan Dr Yap Prawirohusodo GBPH H Prabukusumo SPsi kepada peserta bakti sosial secara simbolis. Setelah itu, disambung dengan syawalan dan halal-bihalal bersama Yayasan Dr Yap Prawirohusodo, staf medis, serta purna tugas karyawan (pensiunan) RS Mata "Dr. YAP". (*/Opo)
