Yogyapos.com (YOGYA) - DPAD DIY akan mengajukan arsip-arsip terkait penyelenggaraan Konferensi Colombo Plan XI tahun 1959 di Yogyakarta sebagai Arsip Memori Kolektif Bangsa tahun 2025.
Konferensi Colombo Plan XI pernah dilaksanakan pada 26 Oktober – 14 November 1959 di Yogyakarta. Konferensi tersebut merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Indonesia karena mencerminkan peran aktif Indonesia dalam kerjasama internasional pada masa itu.
BACA JUGA: Dalang di Balik Pagar Laut yang Heboh itu 'Plankton'
“Colombo Plan mulai diinisiasi tahun 1950 di Colombo, Srilanka, yang pada awalnya beranggotakan negara-negara Persemakmuran Inggris ini bertujuan untuk memberikan pembangunan ekonomi bagi negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara,” jelas Kepala DPAD DIY Kurniawan SSos SEAKt MEc Dev kepada yogyapos.com, Jumat (24/1/2025) siang.
Konferensi ke sebelas ini diikuti lebih kurang 150 orang delegasi dari 21 negara antara lain Amirika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, Birma, Jepang, India, Pakistan, Indonesia, Kamboja, Muang Thai, Laos, Philipina, Srilangka, Singapura, Kalimantan Utara, Serawak dan beberapa peninjau serta jurnalis dari dalam dan luar negeri.
Antusiasme warga di stan pameran Vietnam saat Konferensi Colombo Plan || YP-Dok. DPAD DIY
Dalam kegiatan tersebut, Sri Sultan HB IX bertindak sebagai ketua panitia, sedangkan Paku Alam VIII bertindak sebagai wakil ketua panitia. Sementara itu Budi Santoso selaku Ketua Tim Pengajuan Arsip MKB menyampaikan, antusiasme pemerintah dan warga Yogyakarta.
BACA JUGA: Catatan Micky Hidayat tentang Penyair Ulfatin Ch dan 'Gelombang Laut Ibu'
"Apabila dilihat dari khasanah arsip yang ada dapat diketahui antusiasme baik pemerintah daerah maupun masyarakat dalam menyambut dan mempersiapkan kegiatan tersebut. Konferensi Colombo Plan XI ketika itu berlangsung di Gedung Pantja Dharma UGM (kini Gedung Vokasi). Untuk memenuhi kebutuhan penginapan dan berbagai fasilitas lain, dibangun perumahan, kolam renang, lapangan tenis di Demangan dan jalan yang menghubungkan kompleks tersebut ke arah Gedung Pantja Dharma di Sekip UGM yang menjadi tempat dilaksanakannya konferensi. Jalan tersebut kemudian dikenal dengan Jalan Colombo,” tandas Arsiparis Ahli Muda ini.
BACA JUGA: Peluncuran Gerakan Wisata Bersih, Menteri Widiyanti Puteri Wardhana Ingatkan Kelestarian Alam
Antusiasme masyarakat antara lain ditunjukkan oleh masyarakat “Petjinta Kota Jogjakarta” untuk menyediakan rumah mereka sebagai akomodasi bagi peserta maupun peninjau konferensi serta keterlibatan sekitar 100 mahasiswa dalam acara tersebut.
Disamping itu, arsip juga memuat tentang kegiatan-kegiatan para peserta konferensi yang bersifat rekreatif. Mereka melakukan kunjungan ke beberapa obyek wisata, seperti Parangtritis, Borobudur, dan Kopeng. Bahkan mereka juga berkunjung ke Lembaga Rehabilitasi Penderita Tjatjat (LRPT) Surakarta.
Peserta Konferensi || YP-Dok. PPAD DIY
Menanggapi rencana tersebut Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) Wahjudi Djaja, menyambut positif.
BACA JUGA: Mutasi Pegawai Besar-besaran di Kantah Sleman, Ada Apa?
“Banyak orang termasuk warga Yogyakarta yang tidak mengetahui mengapa di kawasan Bulaksumur dan Demangan ada gedung Pantja Dharma dan kompleks Colombo. Ini karena minim edukasi. Kami berharap setiap tahun digelar perayaan peringatan. Kasagama pernah menggelar tumbuk ageng Konferensi Rencana Colombo pada 2023. Semoga pemerintah lebih memperhatikan aspek kesejarahan yang amat penting ini,” tukas dosen STIEPAR API Yogyakarta ini.
BACA JUGA: Belum Ada Tersangka! Dugaan Korupsi di Kalurahan Trihanggo Terus Diusut
Khasanah arsip Colombo Plan XI juga menyimpan informasi yang sangat teknis misalnya kebutuhan mesin ketik, kulkas hingga tempat peribadatan. Secara keselurahan khasanah arsip yang akan diajukan sebagai arsip MKB ini berjumlah lebih dari 100 berkas yang terdiri dari arsip tekstual maupun arsip foto. Juga terdapat dukungan beberapa khasanah arsip terkait dari Puro Pakualaman, Arsip UGM dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta. (Iud)
