NAMA Ulfatin Ch, bagi dunia perpuisian Indonesia, bukanlah nama yang baru. Terutama bagi generasi penyair perempuan Indonesia mutakhir di era 90-an dan 2000-an.
Ia menunjukkan tingkat produktivitas yang tinggi dalam memublikasikan karya puisinya di berbagai media massa, seperti Berita Buana, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Karya, Suara Merdeka, Swadesi, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Wawasan, Koran Merapi, Jawa Pos, Bali Post, Kompas, Pikiran Rakyat, Mutiara, Sarinah, Majalah Sastra Horison, dan lain-lain.
Sejumlah puisinya juga disertakan dalam berbagai antologi bersama dan diterbitkan dalam beberapa buku kumpulan puisi tunggal. Selain puisi, Ulfatin juga menulis cerpen.
Sebagai penyair yang produktif, namanya sejajar dengan para penyair perempuan segenerasinya, seperti Abidah El Khalieqy, Dorothea Rosa Herliany, Dianing Widya Yudhistira, Endang Susanti Rustamaji, Medy Loekito, Nenden Lilis A, Oka Rusmini, Omi Intan Naomi, dan beberapa nama penyair segenerasinya.
Penyair kelahiran Pati, Jawa Tengah, 31 Oktober 1966 ini, selain terus setia menggeluti dunia kata-kata, dunia puisi, kesehariannya tetap setia dengan realitas domestik kerumahtanggaan, sebagai istri dari suaminya (Ismet NM Haris, juga seorang penyair) dan ibu bagi kedua putrinya.
Dunia istri dan ibu, bagi dirinya ternyata cukup signifikan mengiringi perjalanan proses kreatifnya dalam menggali ‘suatu kesederhanaan’ di balik realitas yang dijalaninya selama ini dalam konteks sebagai seorang ibu.
Buku Kumpulan puisi terbarunya yang diberi judul 'Gelombang Laut Ibu' (diterbitkan oleh Interlude, Yogyakarta, Juli 2024) ini terpilih sebagai Nomine 5 Besar Buku Sastra Pilihan Majalah Tempo 2024 Kategori Puisi.
Buku kumpulan puisi tunggalnya ini menghimpun puisi yang melukiskan impresi-impresi dari berbagai pengalaman batin penyair, suasana hati dan pikiran dalam suatu momen tertentu, serta renungan-renungan hidup dan kehidupan. Puisi-puisi Ulfatin ditulisnya dengan nada yang bersahaja, tetapi mencerminkan sikapnya dalam merefleksikan pengalaman fisik dan batinnya dalam laku kreatifnya.
Buku puiisi tunggal Ulfatin Ch || YP-Dok.Red
Dari sejumlah 84 puisinya yang terhimpun di dalam buku kumpulan ini, saya menemukan diksi “ibu” pada sejumlah 22 puisinya. Dan sosok “ibu” merupakan tema sentral yang tampak mewarnai sebagai pendukung judul buku puisinya. Kata “ibu” dalam konteks ini bukan sebatas seorang ibu yang melahirkannya, tetapi juga dimaksudkan kepada dirinya sendiri yang berperan sebagai ibu bagi anak-anaknya.
Kita baca dua puisinya ini:
Gelombang Laut Ibu
Jika kau ingin menatap laut
tataplah juga mata yang menatap
tak ragu
Dan gelombang laut ibu
mendayu
dan perahu itu
melaju
Di atasnya tangga langit
berderak langkah
bagai seribu kaki ibu
mengantar rindu
2023
Bunga Pagi
Pagi yang kaubuka, anakku
adalah matahari pertama saat kau bangun
Dan mutiara daun menggelantung membasuh wajahmu
kau pun gegas menempuh batas
di ujung mana akan sampai, ibu menunggu
Pagi yang kaubuka, anakku. Adalah serpihan cinta
yang kautulis pada lembar-lembar surya
yang menjadi cerita esok nanti
Genggamlah pena, dunia pasti terbuka
2019
Seorang ibu sebagai simbol realita tempat menumpahkan kasih sayangnya, bagi penyair merupakan figur yang patut dikagumi dan sangat dihormatinya. Hal ini sedemikian memengaruhi sekaligus menjadi energi dan kekuatan puisi-puisinya.
Ibu bagi penyair adalah lambang kehidupan puisi-puisinya yang mengalir deras dan berirama merdu. Sang ibulah yang memberikan sepenuh cinta. Cinta seorang Ibu kepada anaknya seluas dan sebesar ombak lautan. Ibu adalah tanda kesuburan bagi hidup dan kehidupannya.
BACA JUGA: Penyair Ulfatin Ch Membaca 'Gelombang Laut Ibu'
Dari sang ibulah penyair belajar tentang kelembutan, kesederhanaan dan kekuatan. Tersebab itulah puisi-puisinya penuh irama, terasa lembut, sederhana namun padat dan kuat. Sosok ibu merupakan sumber kreativitas yang terus mengalirkan inspirasi bagi puisi-puisinya, baik yang telah ditulis maupun yang belum dituliskannya.
Sosok ibu bagi Ulfatin senantiasa mengalir dalam ingatannya. Ibu merupakan kerinduan yang telah lama diendapkan, untuk kemudian dieksplorasi ke dalam puisi-puisinya. Ibu bagi Ulfatin banyak memengaruhi kehidupan maupun puisi-puisinya. Ibu bagi puisi pendeknya berjudul “Ibu yang Mengalirkan Doa”, merupakan manifestasi dari kedekatan serta cinta kasihnya terhadap sang ibu.
Ibu yang mengalir dalam tubuhku
mengalir dalam rongga napasku
mengalir dalam nadiku
mengalir dalam syaraf-syarafku
adalah ibu yang melahirkanku
Ibu yang mengalir dalam pikiranku
mengalir dalam mataku
mengalir dalam kata-kata
adalah ibu yang menemaniku
Ibu yang mengalirkan doa untukku
Adalah ibu
2021
Begitulah kedekatan penyair kepada ibundanya. Ibu baginya adalah tempat pelarian di saat merasa sedih atau kesepian. Seorang ibu tentunya bukan hanya bersifat pribadi saja, melainkan sosok ibu merupakan cermin dari sikap hidup dan kehidupannya. Seorang ibu, pasti selalu berdoa akan kebaikan dan keselamatan anaknya, bukan mendoakan kehancuran moral tingkah laku anaknya.
Sumber: IG Tempo
Tidak ada seorang ibu yang mendoakan anak-anaknya menjadi seorang koruptor, maling, perampok, pembegal, penipu, pembohong, pembunuh, misalnya. Semua ibu tentu berdoa dan berharap agar sang anak menjadi manusia yang berguna bagi manusia lainnya, berguna bagi agama, bangsa dan negaranya.
Karena itulah, Ulfatin pada puisinya yang lain, ia kembali merenungkan arti seorang ibu dengan lebih intens lagi.
Membaca Ibu
Di halaman satu hanya ada nama ibu
yang bersayap seperti burung
Ibu mengajariku membaca cahaya
menebak nama-nama benda
yang selalu luput dari kata
Ibu mengeja angka
dan aku merangkainya tak terhingga
ibu, maafkan aku
2024
Selain tema tentang ibu, beberapa puisi Ulfatin di antologi ini juga menyajikan tema-tema religius (kefanaan, kematian, kehilangan), hubungan antarmanusia, cinta kasih, dan persoalan keadilan, wajah sosial dan politik di negeri ini. Kita baca salah satu puisi kritik sosialnya yang tajam menghunjam ini:
Catatan Demonstran
Kita akan dianggap makar
jika menuliskan keburukan pemimpin
Kita akan dianggap menentang
Jika tak sepadan dengan penguasa, lalu
disiapkan 100 UU dan 100 pengacara untuk
menguatkannya
Kita akan dipolisikan
jika terus berbicara, apalagi melukai Najwa
membiarkan kursi kosong mewawancarai dirinya sendiri
soal kemunduran demokrasi, soal
dana covid yang tak terinspeksi, soal
anjuran mensosialisasikan undang-undang tanpa menolak
Kita akan turun di jalan
mengepakkan sayap-sayap burung terluka
mendendangkan lagu-lagu patah
Tapi Sejarah tak juga berubah
Kita akan turun di jalan
setelah itu, pergi
2020
Lulusan Fakultas Tarbiyah IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta ini, pernah aktif dalam Studi Apresiasi Sastra (SAS, asuhan almarhum penyair Ahmad Syubbannuddin Alwy) dan Teater Eska IAIN Sunan Kalijaga. Selain itu juga di komunitas seperti Mitra Lirika (asuhan penyair Ragil Suwarno Pragolapati), Kelompok Pengadilan Puisi Yogya (Emha Ainun Nadjib, Iman Budhi Santosa, Boedi Ismanto SA, Ismet NM Haris, Hamdy Salad, Adi Wicaksono, dan sejumlah penyair lain), serta LDK (Lingkaran Doa Kumail/Kelompok penulis Esai dan Resensi Buku, Taufan Hidayat).
Penyair ini juga membacakan puisi-puisinya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) atas undangan Dewan Kesenian Jakarta (2004), Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta, Dewan Kesenian Surakarta, Dewan Kesenian Yogyakarta (1991), Festival International Belanda – Indonesia (2001), Festival Puisi dan Syair ASEAN di Malaysia (2017), dan beberapa forum/festival sastra lainnya.
Penghargaan sastra yang diperolehnya, antara lain; penghargaan Sih Award, atas puisinya berjudul “Rumah Masih yang Dulu” dalam Jurnal Puisi Indonesia I (2001), Yayasan Puisi Indonesia, puisi “Rumah Bambu”, kategori puisi sosial mendapat penghargaan ke-3 oleh Dekan Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada (UGM, 1989), puisi “Yang Pergi dan Kembali”, nominasi Komunitas Sastra Indonesia (KSI) tahun 2012, puisi “Catatan Tugu” mendapat penghargaan dari Sastrawan MPU di Jakarta (2013), dan penghargaan dari Balai Bahasa Yogyakarta (2015).
Antologi puisi tunggalnya yang diterbitkan sebelum “Gelombang Laut Ibu” ini adalah “Konser Sunyi” (dibacakan di Taman Budaya Surakarta, 1993), “Selembar Daun Jati” (Pustaka Firdaus, 1996), “Nyanyian Alamanda” (Bentang Pustaka, 2001), “Kata Hujan” (Interlude, 2013 – memperoleh penghargaan buku puisi Hari Puisi Indonesia Tahun 2014), dan “Rajawali Satu Sayap” (Interlude, 2015).
Sampai sekarang sudah lebih dari 20 antologi puisi bersama yang menyertakan puisi-puisinya dan beberapa cerpen, antara lain 'Kafilah Angin' (Teater ESKA, 1990), “Sembilu” (Dewan Kesenian Yogyakarta, 1991), “Delapan Penyair Indonesia” (Dewan Kesenian Jakarta, 1994), “Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia” (Grasindo, 2000), “Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001” (Kompas, 2001), “Horison Sastra Indonesia” (Horison, 2001), 'Festival Puisi International Winternachten Overzee' (TUK dan Koninkrijk der Nederlanden, 2001), “Kemilau Musim” (Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekanbaru, 2003), “Pesona Gemilang Musim” (Himpunan Perempuan Seni dan Budaya Pekanbaru, 2004), “Medan Waktu – Cakrawala Sastra Indonesia” (Logung Pustaka dan Akar Indonesia, 2004), “Surat Putih” (2003), 'Antologia De Poeticas -Kumpulan Puisi Indonesia, Portugal, Malaysia' (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008), “Ungu – Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia” (Penyunting, Korrie Layun Rampan), “Perempuan Bermulut Api” (cerita pendek, 2009), “Dunia Ibu – Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia” (Penyunting, Korrie Layun Rampan), dan beberapa antologi lainnya.
Selamat atas terbitnya buku puisi ini. Salam kreatif. (Micky Hidayat adalah Penyair, salah satu peserta Forum Penyair Indonesia 1987 di Taman Ismail Marzuki, tinggal di Banjarmasin)
