Yogyapos.com (KULONPROGO) - Keanekaragaman bangsa merupakan kekuatan bangsa yang harus dijaga dinamikanya agar menjadi modal penting pembangunan. Pengembangan potensi desa yang kaya dengan keanekaragaman harus mengedepankan inklusivitas dan menempatkan akar sejarah sebagai dasar pijakan agar karakter desa tidak terputus dan hilang.
Demikian benang merah hasil Rapat Koordinasi Ketahanan Ekonomi DIY yang diselenggarakan di Kalurahan Jatimulyo Girimulyo Kulonprogo. Rakor yang diadakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY ini digelar di Rest Area Kembang Tebu, Kamis (17/7/2025) siang.
BACA JUGA: Anggota Abujapi Beretika, Wujudkan Kondusivitas Kamtibmas untuk Pertumbuhan Pariwisata
Dalam paparannya Kepala Pusat Studi Pariwisata UGM Dr Mohamad Yusuf MA menguraikan latar belakang pengembangan pariwisata.
"Ada enam orientasi pengembangkan pariwisata, yakni meningkatkan kualitas hidup warga, memberdayakan potensi sosial budaya, meningkatkan kualitas lingkungan, kemajuan ekonomi, membuat wisatawan merasa nyaman, dan meningkatkan nilai tambah desa,” tandasnya.
BACA JUGA: AKBP Prof Dr Saprodin Kini Menjabat Dirreskrimsus Polda DIY
Ada filosofi penting dari Maluku Tenggara dalam memperlakukan wisatawan, lanjut pakar Antropologi Pariwisata dan Agama ini, yakni datang sebagai tamu pulang sebagai saudara.
Pemaparan Wahjudi Djaja dalam Rakor Ketahanan Ekonomi || YP-Ist
"Terkait pengembangan potensi pariwisata Jatimulyo ke depan, sebagai kawasan strategis pariwisata perlu mempertimbangkan beberapa hal. Daya tarik yang jadi modal utama Jatimulyo antara lain alam, seni, edukasi dan religi. Pengembangannya harus mempertimbangkan distinctiveness (karakter unik tanpa harus menempatkan desa wisata lain sebagai kompetitor), Self Confidence (kebanggaan warga), engagement (keterlibatan wisatawan dengan destinasi wisata ditandai produk wisata yang diminati), adversity (daya tahan menghadapi kesulitan), kreativitas, dan responsibility,” jelasnya.
BACA JUGA: Polsek Tempel Tangkap Penyalahguna Upal
Sedangkan Wahjudi Djaja SS MPd sebagai narasumber kedua menyampaikan pentingnya mengangkat keanekaragaman Jatimulyo sebagai laboratorium bhineka tunggal ika.
"Fakta sosial yang dimiliki Jatimulyo sungguh fenomenal dan penting dijadikan referensi pembelajaran tentang multikulturalisme. Bahkan, kita perlu mendorong dan mendampingi agar Jatimulyo menjadi kalurahan multikultural pertama", papar Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
BACA JUGA: Layanan BPJS Kesehatan Tembus Pelosok dan Wilayah Perbatasan
Ada empat tonggak penting terkait keanekargaman bangsa, lanjut dosen STIEPAR API Yogyakarta ini, yakni Bhineka Tunggal Ika sebagaimana ditulis Mpu Tantular pada kitab Sutasoma abad XIV M.
"Itu merupakan dokumen penting tentang penyelesaian masalah kebhinekaan zaman Majapahit. Kedua, pada 17 Oktober 1951 Bung Karno dan Sukiman Wirosandjojo mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 1951 yang menetapkan semboyan Bhineka Tunggal Ika, ketiga pada 2015 PBB mengeluarkan SDG's diantaranya menyangkut Perdamaian, Keadilan, dan Lembaga yang Kuat, dan keempat Menteri Kebudayaan RI menetapkan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional. Jatimulyo memiliki momentum penting yang tidak dimiliki desa lain", ungkapnya.
BACA JUGA: Sleman Career Fair 2025, Ruang Komunikasi Perusahaan dan Pencari Kerja
Dalam paparan awalnya Lurah Jatimulyo Anom Sucondro mengisahkan kerja keras dan komitmen warganya untuk merawat desa. "Ada kearifan lokal berupa pesan leluhur kami agar ngrumat apa yang dimiliki. Dari kakak beradik
Jogoyudo dan Jogosentiko yang menjadi cikal bakal kalurahan lama Jonggrangan dan Sokomoyo, digabungkan menjadi Kalurahan Jatimulyo. Kami ngrumat apa yang mereka pesankan dan tinggalkan", papar mantan aktivis ini.
BACA JUGA: Bantul Creative Expo 2025, Catat Tanggalnya!
Dalam kerangka konservasi lingkungan dan budaya itulah, lanjut dalang ini, pihaknya menginisiasi Perdes Nomor 8 tahun 2014 tentang Pelestarian Lingkungan Hidup yang kemudian menjadi rujukan banyak desa.
"Pembangunan harus berbasis ruh buday dan budaya bukan hanya soal pentas seni, tetapi juga konservasi budaya,” tegasnya.
Peserta Rakor Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY || YP-Wahjudi Djaja
Dalam sambutan pembukaan Rakor, Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial, dan Budaya Badan Kesbangpol DIY Sih Utami SIP MM, berharap agar kegiatan ini mampu lebih mengoptimalkan potensi Jatimulyo.
BACA JUGA: Lagi Nih! Polda DIY Giat Operasi, Sita 1.672 Botol Miras
"Setelah meraih beragam status dan penghargaan seperti kalurahan mandiri budaya, desa kerukunan, juara desa wisata nasional dan desa ramah burung, kami berharap Kalurahan Jatimulyo bisa dijadikan referensi dan rujukan pengelolaan keanekaragaman masyarakat. Ini menjadi penting karena banyak tamu yang berkunjung ke Yogyakarta dan ingin belajar banyak tentang kerukunan umat beragama,” ungkapnya.
Dalam Rakor yang dimoderatori Wahyu Satrio Guntoro dari Badan Kesbangpol DIY, Ketua Desa Wisata Jatimulyo Andri Suhandri menyampaikan harapannya agar ada tindak lanjut melalui serangkaian program.
BACA JUGA: Buron 10 Bulan, Maling Spesialis Rambu dan Kerangka Baliho Diringkus
"Kami berterima kasih atas kesempatan ini dan menyambut positif inisiasi menjadikan Jatimulyo sebagai Kalurahan Multikultural. Semoga memberi dampak pada kehidupan masyarakat", pungkasnya.
Hadir dalam Rakor Ketahanan Ekonomi antara lain jajaran pamong Kalurahan Jatimulyo, empat unsur kalurahan mandiri budaya, generasi muda digital, pendamping kalurahan, Bumkal, dan tokoh masyarakat Jatimulyo. (Iud)
