UMY Kelola Limbah untuk Kembangkan Ekonomi Kreatif di Karangsari

share on:
Pelatihan bisnis Baglog, Briket dan Jamur Tiram yang diinisiasi UMY di Desa Karangsari, Wonosobo || YP-Ist

Yogyapos.com (WONOSOBO) - Desa Karangsari merupakan desa wisata yang telah dikukuhkan dengan potensi alamnya. Memiliki jumlah penduduk 2.320 jiwa dan telah membentuk BUMDes Mutiara Karangsari untuk mengelola berbagai unit usaha, seperti UMKM Opak, Ternak Kambing, dan paket wisata tubing sungai. Kelembagaan desa wisatanya telah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

BACA JUGA: Gubernur Sri Sultan HB X Ajak Perguruan Tinggi Kawal Aspirasi Mahasiswa Damai

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat dengan skema Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) kembali melanjutkan komitmennya dalam memberdayakan ekonomi desa. Tahun ini fokus pada program pengembangan agribisnis jamur tiram di Desa Wisata Karangsari, melalui pemanfaatan teknologi tepat guna untuk mengolah limbah penggergajian kayu.

Program bertajuk Pengembangan Agribisnis Jamur Berbasis Teknologi Pemanfaatan Limbah Serbuk Gergaji sebagai Bahan Bakar Biomasa Steamer Baglog ini merupakan tahun kedua pelaksanaannya. Program ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek RI melaui Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) UMY.

BACA JUGA: Pimpin Sidang Kabinet, Presiden Prabowo Instruksikan Perkuat Stabilitas Nasional

Tujuan dari program ini dirancang untuk menjawab dua masalah utama di Karangsari yaitu pengelolaan limbah kayu dari usaha penggergajian dan tingginya angka kemiskinan yang mencapai 22,8% dari total kepala keluarga.

Dr Aris Slamet Widodo SP MSc selaku Ketua Tim Pengabdian kepada masyarakat menjelaskan bahwa program ini memanfaatkan potensi lokal secara maksimal.

BACA JUGA: Korem 072/Pmk Patroli Jaga Kondusivitas Wilayah Yogyakarta

“Limbah serbuk gergaji yang selama ini menjadi masalah bagi kebersihan desa wisata, kami transformasi menjadi dua produk bernilai ekonomi. Pertama, sebagai media tumbuh baglog jamur tiram. Kedua, dipadatkan menjadi briket biomassa yang digunakan sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk mesin steamer (pengukus) baglog. Ini adalah prinsip ekonomi sirkular yang nyata,” paparnya.

Program ini melibatkan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kapasitas BUMDes Mutiara Karangsari dan kelompok Shodaqoh Sampah. Beberapa kegiatan inti yang telah dilaksanakan Adalah Sosialisasi Strategi Bisnis untuk produk baglog, briket, dan jamur tiram (28 Juni 2025), Pelatihan Pencatatan Keuangan sistem akuntansi dasar untuk transparansi dan kelayakan usaha (01 Juli 2025), dan Pelatihan Budidaya Jamur Tiram sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) atau Good Agricultural Practices (GAP) untuk menghasilkan jamur kualitas grade A (7 Agustus 2025).

BACA JUGA: Presiden Prabowo: Hormati Aspirasi Damai, Tindak Tegas Pelaku Anarki

Dari perspektif sosiologi Puji Qomariyah, anggota tim, menekankan pentingnya pendekatan yang holistik…. “Inovasi teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan kelembagaan dan sumber daya manusia. Pelatihan keuangan dan manajemen bukan hanya tentang angka, tetapi tentang membangun budaya administrasi yang tertib dan transparan dalam pengelolaan BUMDes. Ini fondasi penting untuk membangun kepercayaan dan kemandirian ekonomi masyarakat desa,” ujarnya.

Program ini tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga pada pemasaran yang berkelanjutan. Tim UMY juga mendampingi mitra dalam mengembangkan strategi pemasaran untuk memperluas jangkauan penjualan produk briket dan baglog hingga tingkat regional.

BACA JUGA: SD Sleman V Diliburkan, Imbas Surat Edaran Rencana Demo di Polresta

Program pengabdian ini sejalan dengan komitmen UMY dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 1 (Tanpa Kemiskinan), 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), dan 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Selain itu, program ini dalam rangka mendorong ekonomi hijau, kewirausahaan, dan pemberdayaan ekonomi desa.

Dengan sinergi antara teknologi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kelembagaan, program ini diharapkan dapat menjadi model pemberdayaan yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di desa-desa lain, sekaligus memperkuat ekosistem Desa Wisata Karangsari. (*/Red)

 

 


share on: