Sistem Zonasi Berdampak Buruk, SMP Nasional Bantul Hanya Peroleh 7 Siswa Baru

share on:
Iswahyudi mencoba tetap tegas di depan sekolah yang dipimpinnya || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Pemberlakukan sistem jalur zonasi dalam Pedaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) Tahun ajaran 2024/025, telah nyata menimbulkan dampak kurang menyenangkan. Salah satunya menimpa SMP Nasional Bantul atau kini disebut SMP Veteran I Bantul, yang hanya mendapatkan 7 siswa baru. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan keberlangsunga sekolah tersebut.

“Kami menyediakan kuota sebanyak 2 kelas (70 siswa, red) untuk siswa baru. Selama 10 tahun lalu setidaknya mendapatkan satu kelas siswa baru. Namun pada kali ini hanya 7 siswa,” kata Kepala SMP Veteran I Bantul, Iswahyudi kepada yogyapos.com, Rabu (17/7/2024).

BACA JUGA: Adi Tom, Dari Balapan Liar Hingga Jadi Pembalap dan Polisi

Iswahyudi memastikan, kenyataan pait itu disebabkan oleh pemberlakuan kebijakan yang tidak bijaksana, yakni sistem zonasi. Kini jumlah SMP Negeri dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTs N) di sekitarnya sebanyak 12 sekolah.

Dengan diberlakukanya sistem zonasi menjadiakan siswa yang seharusnya tidak diterima di SMP Negeri atau MTs Negeri, dan akan masuk ke SMP Nasional, diterima di sekolah negeri. Sehingga otomatis SMP Nasional kesulitan dalam mendapatkan siswa baru.

BACA JUGA: Suhu Hangat Pilkada Sleman Kian Terasa, Deklarasi Harda Belum Bersama Wakilnya

“Sebanyak 7 siswa ini bukanlah merupakan warga sekitar SMP Nasional Bantul, melainkan dari Kapanewon lain diantaranya Kapanewon Pajangan dan Srandakan. Itupun masuk ke SMP ini karena faktor ikatan keluarga. Misalnya bapak atau kakaknya merupakan alumni,” tambahnya.

BACA JUGA: Kajari Sleman Pastikan Jajarannya Tak Ada yang Terlibat Judi Online, Komitmen Lakukan Pemberantasan

Ada efek lain bagi 12 guru dan seorang TU SMP Veteran I, karena kesemuanya berstatus guru swasta. Sedangkan pemasukan sekolah hanya dari 7 siswa, maka mau tak mau atau cukup tak cukup, untuk bayar guru terpaksa harus diambilkan dari pemasukan para siswa.

“Fator lain yang memberatkan sekolah swasta ini tentang dana bantuan operasional pendidikan dari Pemerintah Kabupaten Bantul sebesar Rp 600.000 per anak setiap tahunnya. Sedangkan untuk siswa sekolah swasta hanya Rp 270.000 per tahun per anak,” tukasnya.

Iswahyudi berharap untuk meringankan beban sekolah swasta, maka nantinya ada penambahan jumlah dana bantuan operasional sekolah swasta. Sekolah negeri dan swasta dibikin sama.

BACA JUGA: Oknum Perangkat Desa Pemilik Sejumlah Airgun Dituntut Penjara 7 Bulan

SMP Nasional Bantul dibawah Yayasan Veteran. Sejak semula hingga beberapa waktu lalu sekolah ini bernama SMP Nasional Bantul. Sedangkan kini temnamanya diubah menjadi SMP I Veteran Bantul. Papan nama sekolah masih bertuliskan SMP Nasional Bantul dan belum diganti dengan SMP I Veteran Bantul. Alasanya untuk membuat papan nama juga memerlukan biaya dan tidak membingungkan masyarakat.

BACA JUGA: Koalisi Sleman Bersatu Usung Harda Kiswaya Balon Bupati 2024-2029

Sekolah ini ini berada di tepi Jalan Yogya-Bantul atau di sebelah utara Pasar Bantul sehingga strategis. Gedungnya juga cukup bagus, berlantai 2 dan representatif. (Spd)


share on: