Yogyapos.com (YOGYA) - Dosen Fakultas Teknik UGM, Dr Eng Ir Sunu Wibirama ST MEng IPM menegaskan Artificial Intelligence (AI) merupakan teknologi yang dirancang untuk membuat sistem komputer mampu meniru kemampuan intelektual manusia. Sedangkan AI generatif adalah jenis kecerdasan buatan yang dirancang untuk menghasilkan konten baru, seperti teks, gambar, musik, atau bahkan video, berdasarkan data yang telah dipelajarinya.
Penegasan tersebut disampaikan dalam seminar nasional dengan tema ‘Perpustakaan Artificial Intelelligence dalam Pendidikan’ yang diselenggarakan atas kerjasama SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogya dan Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) DIY, di Grha As-Sakinah, Kamis (25/9/2025).
BACA JUGA: Lurah Tegaltirto Ditahan di Rutan Wirogunan, Ini Penyebabnya
Seminar yang diikuti 400 peserta ini menghadirkan keynote speaker Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal PWM DIY Achmad Muhammad MAg. Sedangkan narasumber lainnya Dosen Ilmu Komunikasi UAD sekaligus content creator, Dr Muhammad Najih Farihanto SIKom MA.
Para narasumber, panitia dan peserta seminar || YP-Ist
Dr Sunu mengungkapkan, AI generatif merujuk pada teknologi kecerdasan buatan yang dirancang untuk menghasilkan konten baru, seperti teks, gambar, musik, atau bahkan kode, berdasarkan pola dan data yang telah dipelajari.
BACA JUGA: Bekas Kepala Dinas Kominfo Sleman Ditahan, Diduga Korupsi Pengadaan Banwidth
“Berbeda dengan AI tradisional yang biasanya fokus pada analisis data atau pengenalan pola, AI generatif dapat menciptakan karya kreatif yang seolah-olah dibuat oleh manusia,” ujarnya.
Teknologi ini menggunakan model seperti jaringan saraf generatif adversarial (GAN) atau model pembelajaran mendalam lainnya untuk "memahami" data yang ada, kemudian menghasilkan output yang orisinal dan relevan. Aplikasi AI generatif sangat luas, mulai dari pembuatan karya seni digital, penulisan otomatis, hingga pengembangan desain produk atau bahkan pembuatan obat-obatan.
Menurutnya, penerapan AI bukan untuk menggantikan pustakawan secara keseuluruhan. Memang dalam kenyataanya ada beberapa kegiatan kepustakawanan yang sudah digantikan oleh teknologi informasi, bakan kadang menjadi yang mendominasi pekerjaan di perpustakaan.
BACA JUGA: Gus Hilmy Apresiasi Pidato Prabowo di PBB, Ingatkan Pentingnya Tindak Lanjut Diplomasi
Penggunaan AI berfungsi untuk membantu pustakawan dalam melakukan aktivitas kepustakawan, terkadang pustakawan menghadapi pekerjaan yang cukup banyak dalam durasi waktu terbatas, sehingga AI bisa menjadi alat bantu. AI sangat membantu dan memudahkan program perpustakaan untuk meningkatkan literasi peserta didik dan warga sekolah secara umum.
Dr Muhammad Najih Farihanto menjelaskan Budaya membaca digital di kalangan Gen Z menunjukkan pergeseran signifikan dari tradisi membaca konvensional ke konsumsi informasi berbasis digital.
Generasi ini tumbuh di tengah kemajuan teknologi, menjadikan gawai, e-book, blog, dan media sosial sebagai sumber utama bacaan mereka. Kecepatan akses, format yang interaktif, serta keberagaman konten menjadikan membaca lebih fleksibel dan menarik bagi mereka.
BACA JUGA: Sidang Penganiayaan Advokat, Ada Perbedaan Keterangan Saksi dan Korban
“Namun, tantangan seperti menurunnya konsentrasi, informasi yang dangkal, dan maraknya hoaks juga muncul seiring perubahan ini,” tukasnya.
Oleh karena itu, tandas Najih, penting bagi Gen Z untuk mengembangkan literasi digital yang kuat agar mampu memilah informasi secara kritis dan tetap mempertahankan minat baca yang berkualitas di era serba digital ini.

Sementara itu, Kepala SMA Muhi Drs H Herynugroho MPd mengatakan dalam membantu berlangsungnya pengembangan literasi dan pengelolaan database perpustakaan, SMA Muhi Yogyakarta menerima bentuk partisipasi dari sekolah atau lembaga lain untuk bekerjasama dalam membangun perpustakaan yang lebih baik lagi termasuk dengan menggunakan teknologi AI.
BACA JUGA: Pria Terduga Peraba Paha Wanita Masih Diperiksa
Sedangkan Achmad Muhammad mendorong perpustakaan sekolah untuk terus mengembangkan berbagai teknologi untuk mendukung program literasi.
“Melalui seminar ini diharapkan muncul gagasan membangun perpustakaan yang mampu berfungsi secara optimal bagi masyarakat dengan sistem manajeman perpustakaan yang baik dan menekankan pada tersedianya berbagai bahan bacaan yang bersifat informatif, edukatif, rekreatif dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat,” tandasnya. (*/Red)
