Yogyapos.com (SLEMAN) - Kebudayaan itu hidup dan berkembang bersama masyarakat. Tak bisa dipahami hanya dari dektat tetapi mahasiswa harus mau berbaur dan bersenyawa dengan masyarakat. Mereka bisa mengidentifikasi keunikan lanskap berikut budaya yang ada sebagai pengayaan.
BACA JUGA: Koseta Gaungkan Maklumat Kotagede, Ini Isinya
Dua kelompok mahasiswa STIE Pariwisata API Yogyakarta pun bergerak ke masyarakat. Mereka melakukan observasi di dua wilayah, yakni padukuhan Plupuh Wukirsari Cangkringan dan padukuhan Kedulan Tirtomartani Kalasan, Sleman. Kehadiran mereka dipandu dosen pengampu Mata Kuliah Budaya dan Geografi Kepariwisataan Wahjudi Djaja SS MPd.
BACA JUGA: Terdakwa Lakalantas Maut Dituntut Penjara 2 Tahun, Achiel Suyanto Siapkan Pledoi
Dalam observasi di padukuhan Plupuh, mereka mendiskusikan kemungkinan Plupuh sebagai Desa Wisata Konservasi Bambu. Menurut Syifa Indra Jaya kepada yogyapos.com, Selasa (21/10/2025), mahasiswa asal Plupuh, potensi bambu yang dimiliki kampungnya memang belum tergarap secara maksimal.
Mahasiswa di Sendang Wana Segara Kedulan || YP-Ist
“Kami berharap agar kehadiran teman-teman kampus bisa mensuport ide, gagasan bahkan gerakan untuk mengangkat potensi bambu. Apalagi banyak kerajinan bisa dihasilkan dari pengolahan bambu,” tandasnya.
BACA JUGA: Era Digital dan Tuntutan Pola Pikir Multitasking
Dukuh Plupuh Wukirsari Cangkringan, Sutarja, menyambut positif kehadiran mahasiswa STIEPAR API. "Kami sangat berterima kasih pada para mahasiswa yang mau berbaur dengan masyarakat dan menyodorkan alternatif. Kami memang sudah mempunyai rencana membuat camping ground, tetapi tidak menutup adanya ide baru yang lebih bermanfaat. Semoga membuka kerja sama yang saling menguntungkan,” paparnya.
Sedangkan Hafizh Fauzan, mahasiswa asal Padukuhan Kedulan Tirtomartani Kalasan kepada yogyapos.com, Kamis (23/10/2025) menyampaikan wilayahnya memiliki potensi budaya berupa Sendang Wana Segara dan petilasan makam Kyai Wana Segara.
BACA JUGA: Kolaborasi 8 Musisi Legendaris, AFTERSUNSET Rilis Album 'Tentang Wanita'
“Kami berharap agar potensi tersebut bisa dikembangkan sebagai wisata edukasi dan budaya. Dengan 50an pemuda kami optimis dengan dukungan kampus bisa mengangkat wisata budaya dan sejarah Kedulan,” harapnya.
Sementara itu Dukuh Kedulan Hari Susanto menyatakan welcome atas kehadiran mahasiswa STIEPAR API Yogyakarta. “Sendang Wana Segara pernah kami buka dan menarik kunjungan wisatawan. Tetapi setelah pandemi aktivitas menurun. Semoga kehadiran kampus bisa membangkitkan kembali potensi wisata sejarah, budaya dan UMKM,” jelasnya.
BACA JUGA: Tentang Ditjen Pesantren, Negara Tak Boleh Lagi Permalukan Pesantren Sebagai Pelengkap Penderita
Dalam pengantar kuliah lapangan, Wahjudi Djaja menyampaikan Plupuh dan Kedulan mempunyai narasi dan karakter yang kuat. “Tugas kita adalah membantu mengidentifikasi dan menyajikan alternatif kepada masyarakat tentang pengembangan ke depan. Dari kedua tempat, mahasiswa juga bisa belajar tentang budaya, lanskap, keruangan dan kegeografian terkait kepariwisataan. Selama satu semester kami akan dampingi mahasiswa bersinergi dengan masyarakat di kedua wilayah,” pungkas Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY ini. (Iud)
